83 Ribu Koperasi Merah Putih Terbentuk, Nilai Transaksi Tembus Rp 56,69 Miliar

Data Simkopdes mencatat sebanyak 83.382 Koperasi Merah Putih telah terbentuk dengan nilai transaksi mencapai Rp 56,69 miliar sepanjang 2026.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 13 Juli 2026, 16:28 WIB
Koperasi Desa Merah Putih di Gunungkidul

Liputan6.com, Jakarta - Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mulai menunjukkan geliat aktivitas ekonomi. Berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa (Simkopdes), dikutip Senin (13/7/2026), hingga saat ini telah terbentuk 83.382 koperasi di berbagai daerah di Indonesia.

Selain bertambah dari sisi jumlah, aktivitas usaha koperasi juga mulai berjalan. Sepanjang 2026, Simkopdes mencatat 53.839 transaksi dengan nilai ekonomi mencapai Rp 56,69 miliar.

Data tersebut menunjukkan koperasi tidak hanya hadir sebagai kelembagaan ekonomi masyarakat, tetapi juga mulai menjalankan fungsi distribusi berbagai kebutuhan pokok maupun sarana produksi pertanian.

Dari sisi permodalan, koperasi yang telah terdaftar mengumpulkan simpanan pokok sebesar Rp 41,54 miliar dan simpanan wajib mencapai Rp 10,42 miliar. Dana tersebut menjadi modal awal bagi koperasi untuk menjalankan berbagai unit usaha di tingkat desa maupun kelurahan.

Besarnya jumlah koperasi yang telah terbentuk sekaligus menunjukkan percepatan implementasi program Koperasi Merah Putih yang menjadi salah satu upaya pemerintah memperkuat ekonomi berbasis desa.

 

Transaksi Sektor Pertanian

Hari ini, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan sekitar 80 ribu Koperasi Merah Putih yang tersebar di seluruh desa/kelurahan di Indonesia. (merdeka.com/ Arie Basuki)

Data Simkopdes juga memperlihatkan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung aktivitas usaha koperasi.

Produk dengan nilai transaksi terbesar adalah Pupuk NPK Phonska dengan volume transaksi mencapai 8,17 juta dan nilai transaksi sekitar Rp 15,09 miliar.

Posisi berikutnya ditempati Pupuk Urea N 46% yang mencatat volume transaksi lebih dari 6,2 juta dengan nilai mencapai Rp 11,27 miliar.

Di luar pupuk, kategori barang lainnya menyumbang nilai transaksi sebesar Rp 7,94 miliar.

Sementara itu, sejumlah kebutuhan pokok masyarakat juga mulai dipasarkan melalui koperasi, seperti Minyak Goreng Bimoli 2 liter dengan nilai transaksi Rp 3,63 miliar, serta beras medium SPHP kemasan 5 kilogram senilai Rp 2,45 miliar.

Data tersebut mengindikasikan bahwa koperasi mulai menjalankan fungsi sebagai saluran distribusi berbagai komoditas penting bagi masyarakat.

 

Pusat Layanan Ekonomi Masyarakat Desa

Selain pupuk dan beras, koperasi juga melayani penjualan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya.

Komoditas yang tercatat diperdagangkan antara lain beras umum dengan nilai transaksi sekitar Rp 1,14 miliar, minyak goreng Sunco kemasan 2 liter sebesar Rp 505,99 juta, gas LPG 3 kilogram senilai Rp 481,40 juta, gula kemasan 1 kilogram sebesar Rp 284,78 juta, hingga rokok Filter Surya Merah 12 dengan nilai transaksi sekitar Rp 272,84 juta.

Keberagaman produk tersebut menunjukkan koperasi mulai bertransformasi menjadi pusat layanan ekonomi masyarakat desa, tidak hanya menyediakan sarana produksi pertanian, tetapi juga kebutuhan pokok sehari-hari.

Dengan jumlah koperasi yang telah mencapai lebih dari 83 ribu unit dan nilai transaksi yang terus bertambah, ekosistem Koperasi Merah Putih diharapkan dapat menjadi penggerak aktivitas ekonomi di tingkat desa sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap barang kebutuhan pokok dan sarana produksi dengan harga yang lebih terjangkau.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya