Liputan6.com, Teheran - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan gelombang serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Yordania, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar hingga Senin (13/7/2026).
Pihak Teheran menyatakan operasi ini merupakan aksi balasan atas serangan udara militer AS terhadap sejumlah lokasi di wilayah Iran. Washington sebelumnya menyatakan bahwa serangan mereka bertujuan untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran komersial di Selat Hormuz. Sebaliknya, Iran menuding AS melanggar kesepakatan sementara yang dicapai kedua negara pada Juni lalu.
Advertisement
Meskipun Iran menyatakan sasaran tembak hanya ditujukan pada aset militer AS, pemerintah negara-negara Teluk dan Yordania menyatakan tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah mereka.
Berikut adalah rincian wilayah yang menjadi sasaran serangan berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber:
1. Yordania
Pada Senin, IRGC mengonfirmasi telah menyerang Pangkalan Udara Prince Hassan di Yordania dengan klaim mengenai sasaran tangki bahan bakar dan gudang amunisi. Serangan ini melanjutkan operasi pada Minggu (12/7) yang membidik pusat komando serta hanggar penyimpanan drone MQ-9 milik militer AS.
Militer Yordania menyatakan berhasil menembak jatuh empat rudal Iran pada Senin. Menurut keterangan pemerintah Yordania, insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material.
2. Bahrain
Iran kembali membidik fasilitas AS di Bahrain pada Senin. Sirene peringatan serangan udara aktif sedikitnya tiga kali di negara yang menjadi lokasi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS tersebut. Belum ada laporan resmi mengenai dampak kerusakan dari gelombang terbaru ini.
Sehari sebelumnya, Iran melancarkan serangan drone terhadap sistem komunikasi dan radar AS di Bahrain. Pihak Bahrain dan Kuwait sebelumnya juga menjadi sasaran serangan serupa pada 7 dan 8 Juli setelah militer AS menggempur fasilitas pertahanan udara Iran di sekitar Selat Hormuz.
3. Kuwait
Dalam serangan hari Senin, IRGC menyatakan telah membidik sistem radar, peluncur roket, dan fasilitas pertahanan udara milik pasukan AS di Kuwait. Pada serangan hari Minggu, militer Iran menggunakan drone bermuatan bahan peledak untuk menargetkan sistem pertahanan udara Patriot dan gudang amunisi AS.
Angkatan bersenjata Kuwait menyatakan sistem pertahanan udara mereka aktif menghalau sejumlah sasaran udara yang memasuki wilayahnya. Selain fasilitas militer, serangan sebelumnya dilaporkan menyebabkan kerusakan pada salah satu infrastruktur anjungan pengeboran minyak lepas pantai setempat.
4. Oman
Oman menjadi sasaran serangan pada Minggu. IRGC menyatakan telah menyerang pusat dukungan logistik dan platform pengisian bahan bakar yang digunakan untuk mendukung operasi kapal induk AS di Pelabuhan Duqm. Serangan berlanjut pada Senin dengan target sistem radar AS.
Pemerintah Oman memanggil diplomat Iran untuk menyampaikan protes resmi atas serangan tersebut. Insiden ini terjadi sehari setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengadakan pertemuan di Oman untuk membahas pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz.
5. Qatar
Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar menjadi sasaran tembak rudal balistik Iran pada Minggu. IRGC mengeklaim serangan tersebut mengenai pusat perawatan pesawat tempur serta pusat komando militer AS.
Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat serangan tersebut. Namun, jatuhnya pecahan proyektil dari proses pencegatan melukai tiga orang, termasuk seorang anak-anak. Pemerintah Qatar kemudian meningkatkan status keamanan wilayahnya.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab
Sebelum gelombang serangan Juli ini terjadi, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah lebih dahulu menjadi sasaran pada fase awal konflik di bulan Maret. Di Arab Saudi, dua drone menghantam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh pada 3 Maret yang mengakibatkan kebakaran terbatas tanpa korban jiwa. Tidak lama setelah itu, tepatnya pada 27 Maret, serangan Iran ke Pangkalan Udara Prince Sultan di dekat Riyadh dilaporkan melukai 12 tentara AS.
Sementara itu di Uni Emirat Arab, serangan drone pada 14 Maret memicu kebakaran di terminal minyak Fujairah hingga sempat menghentikan aktivitas pemuatan minyak di sana. Sehari kemudian, pada 15 Maret, serangan udara giliran diarahkan ke Pangkalan Udara Al Dhafra di Abu Dhabi, di mana citra satelit memperlihatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas pangkalan yang digunakan bersama oleh militer AS dan Uni Emirat Arab.
Eskalasi militer yang terus meluas hingga Senin ini akhirnya memberikan dampak langsung pada sektor energi internasional. Situasi pasar global kian menegang menyusul pernyataan resmi militer Iran pada akhir pekan kemarin yang menutup Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran strategis yang selama ini memasok sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan gas bumi dunia. Merespons pengumuman tersebut, dalam sesi perdagangan Senin pagi, harga minyak mentah dunia jenis Brent langsung mencatat kenaikan di atas 4 persen hingga menyentuh kisaran 79 dolar AS per barel akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi tersendatnya pasokan energi global.