Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa arah pembangunan ekonomi Indonesia harus segera dikembalikan pada amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Ia menyoroti bahwa model ekonomi neoliberal yang berkembang selama beberapa dekade terakhir terbukti gagal menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat luas dan justru bertolak belakang dengan cita-cita luhur para pendiri bangsa.
Advertisement
Sebagai solusinya, pemerintah berkomitmen kuat untuk menghidupkan kembali konsep ekonomi kekeluargaan dan kerakyatan melalui penguatan peran koperasi.
Artikel mengenai kritik Presiden Prabowo ini menjadi salah satu artikel yang banyak dibaca. Selain itu masih ada sejumlah artikel lain yang layak untuk disimak.
Lengkapnya, berikut ini tiga artikel terpopuler di kanal bisnis Liputan6.com pada Senin (13/7/2026):
1. Hari Koperasi Nasional, Prabowo Kritik Ekonomi Neoliberal
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pembangunan ekonomi Indonesia harus kembali berlandaskan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 melalui penguatan ekonomi kerakyatan dan koperasi.
Menurutnya, model ekonomi neoliberal yang berkembang selama beberapa dekade terakhir tidak mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat luas dan justru bertentangan dengan cita-cita para pendiri bangsa.
Simak artikel selengkapnya di sini
2. Daftar BUMN Penggarap 5 Bendungan yang Diresmikan Prabowo
Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan lima bendungan yang berada di berbagai wilayah di Indonesia. Sejumlah BUMN Karya terlibat aktif dalam pembangunan bendungan raksasa tersebut.
Bendungan yang diresmikan Prabowo tersebar dari sisi timur hingga ujung barat Indonesia. Mulai dari Bendungan Meninting di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), sampai Bendungan Rukoh di Pidie, Aceh. Lantas, BUMN mana saja yang terlibat dalam pembangunannya?
Lima bendungan yang diresmikan Kepala Negara di antaranya: Bendungan Jlantah di Karanganyar, Jawa Tengah; Bendungan Meninting di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat; Bendungan Sidan di Gianyar, Bali; Bendungan Keureuto di Aceh Utara, Aceh; serta Bendungan Rukoh di Pidie, Aceh.
Simak artikel selengkapnya di sini
3. Harga Emas Terkoreksi, Hartadinata Abadi Optimistis Permintaan Tetap Tumbuh
Harga emas dunia memasuki fase koreksi setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada awal 2026. Sepanjang Juni, rata-rata harga emas global turun sekitar 8% dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, pelemahan tersebut belum menghapus tren kenaikan harga emas di dalam negeri karena harga emas dalam rupiah masih menguat sekitar 5,5% sejak awal tahun (year-to-date), didorong pelemahan nilai tukar rupiah.
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menilai koreksi harga emas merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar dan tidak mengubah prospek jangka panjang industri logam mulia. Perseroan melihat permintaan emas masih ditopang berbagai faktor fundamental, mulai dari ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, hingga meningkatnya kesadaran masyarakat menjadikan emas sebagai instrumen tabungan dan investasi.