Liputan6.com, Jakarta - Krisis air melanda warga Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, sekitar 1.000 jiwa kini mulai kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang.
Krisis air bersih dialami wilayah yang ditempati sekitar 400 Kepala Keluarga (KK) ini sejak Sabtu (11/7/2026). Berdasarkan data lapangan, wilayah yang terdampak mencakup Kampung Legok Bitung RT 01 RW 04 dan Kampung Kebon Kawung RT 02, 03, dan 04 RW 04.
Advertisement
"Kemarau panjang memicu kekeringan parah di satu wilayah ke-RW-an Desa Nanggerang. Dampaknya, warga kini kesulitan air bersih," ungkap Daeng Sutisna selaku Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, dikutip Minggu (12/7/2026).
Menyikapi laporan kedaruratan tersebut, personel Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cicurug langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan peninjauan.
Tim gabungan yang terdiri dari Sekmat Cicurug, Satgas BPBD, Tagana, Pemerintah Desa Nanggerang, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP, beserta relawan langsung bergerak melakukan sinergi penanganan.
"Begitu menerima laporan, kami langsung berkoordinasi dengan pemdes dan seluruh unsur terkait untuk kaji cepat di lapangan," kata Daeng.
Tidak Ada Korban
Hingga Sabtu sore (11/7/2026), cuaca di lokasi bencana kekeringan dilaporkan cerah berawan. Pusdalops BPBD memastikan tidak ada korban luka maupun korban jiwa yang timbul akibat fenomena alam ini. Meski begitu, pasokan air tetap menjadi kebutuhan mendesak.
"Fokus utama dan kebutuhan paling mendesak warga saat ini adalah air bersih. Alhamdulillah, nihil korban jiwa dalam kejadian ini," tutur dia.
Sebagai bentuk penanganan jangka pendek, BPBD Kabupaten Sukabumi hari ini mulai menyalurkan bantuan air bersih secara berkala untuk menyuplai kebutuhan harian warga yang terdampak.
"Hari ini kami sudah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak dua tangki, yang mana masing-masing tangki berkapasitas 5.000 liter," ungkapnya.
Hingga kini, proses pendataan komprehensif mengenai total dampak kerugian materiil maupun sektor ekonomi akibat bencana kekeringan ini masih terus berjalan.
"Mengenai total kerugian yang ditimbulkan akibat bencana kekeringan ini, saat ini tim kami masih melakukan kajian menyeluruh," jelas dia.