Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun pada perdagangan hari Jumat, 10 Juli 2026 (Sabtu pagi WIB). Namun secara akumulasi mingguan, harga emas hitam tersebut tetap mencatatkan kenaikan. Lonjakan ini dipicu oleh kembali pecahnya bentrokan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz, sehingga memicu kekhawatiran terkait tersendatnya pasokan minyak global.
Advertisement
Mengutip laman CNBC, Sabtu (11/7/2026), minyak mentah berjangka Brent turun 0,4% dan ditutup pada level US$ 76,01 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot sekitar 0,93 persen ke level US$ 71,41 per barel. Namun, dalam kurun waktu sepekan ini, harga Brent naik sekitar 5%, sedangkan WTI naik sekitar 4%.
Presiden Donald Trump pada Jumat menyatakan bahwa AS dan Iran sebenarnya telah sepakat untuk melanjutkan negosiasi damai. Namun, Washington juga telah memperingatkan Teheran dengan sangat tegas bahwa status gencatan senjata kini telah berakhir.
"Meskipun harga minyak sempat turun dari level tertingginya di pertengahan minggu, premi risiko yang signifikan masih tetap ada. Hal ini terjadi karena jalur transit di Selat Hormuz kembali hampir lumpuh total, tanpa ada tanda-tanda jelas kapan aktivitas normal akan dibuka kembali," ujar analis dari lembaga analisis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari mengutip laman CNBC.
Iran Serang AS
Sebelumnya pada hari Kamis, militer Iran meluncurkan serangan ke sejumlah infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk. Aksi ini merupakan respons atas serangan AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran.
Secara terpisah, media lokal Iran juga melaporkan adanya serangkaian ledakan di wilayah Iran bagian selatan, termasuk di Bushehr, lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir negara tersebut berada.
Badan Energi Internasional (IEA) pada hari Jumat menyatakan bahwa eskalasi konflik terbaru antara AS dan Iran ini berpotensi mengacaukan prediksi sebelumnya, yang memperkirakan akan terjadi surplus pasokan minyak yang besar pada tahun depan.
Menghambat Pembukaan Selat Hormuz
Perkembangan situasi ini juga menghambat pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Padahal, jalur pelayaran krusial ini menampung sekitar 20% pasokan minyak dan gas harian global sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu.
Analis dari UBS, Giovanni Staunovo, menilai bahwa tidak adanya serangan susulan dari AS ke Iran sepanjang malam kemungkinan besar menjadi faktor yang menahan laju harga minyak. Meski begitu, penurunan volume aliran minyak yang melewati Selat Hormuz berhasil mencegah harga merosot lebih dalam.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa sejumlah kapal tanker gas alam cair (LNG) memang masih bisa melewati Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, namun volume lalu lintas harian secara keseluruhan terpantau melambat.