Alasan Teater Koma Tampilkan Lakon Rumah Sakit Jiwa Lagi, 35 Tahun Sejak Pertama Dipentaskan

Sutradara Rumah Sakit Jiwa, Rangga Riantiarno dari Teater Koma, juga menyorot kontras antara tahun 1991 dan 2026.

oleh Nola VemilianaDiterbitkan 11 Juli 2026, 12:05 WIB
Billy Gamaliel pada konferensi pers Rumah Sakit Jiwa di Jakarta, Kamis (10/7/2026). (dok Bakti Budaya Djarum Foundation)

Liputan6.com, Jakarta - Setelah tiga setengah dekade pertama kali dipentaskan, Rumah Sakit Jiwa, salah satu karya penting Teater Koma, kembali hadir melalui kolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation.

Jelang pementasannya, Teater Koma menghelat konferensi pers di Bale Nusa, Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Dalam kesempatan ini, Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, menjelaskan bahwa dipentaskannya kembali Rumah Sakit Jiwa bukan sekadar menghadirkan karya lama, tetapi juga memperkenalkan cerita yang masih memiliki relevansi dengan kondisi masyarakat saat ini.

"Untuk menjadikan sajian hiburan bukan hanya mengenai karya-karya baru aja, tetapi justru cerita-cerita lama yang punya artistik yang kuat, cerita yang kuat, pesan moral atau relevansi sosial yang masih aktual sampai sekarang," ujarnya

Sutradara Rangga Riantiarno juga menilai naskah Rumah Sakit Jiwa justru semakin relevan jika dibandingkan saat pertama kali dipentaskan pada 1991.

"Sangat menarik karena kontrasnya dari tahun 1991 dan 2026. Dulu belum ada internet, tapi isi naskah ini bagaimana serangan-serangan dari dunia mempengaruhi keadaan psikis manusia. Sekarang dengan begitu banyaknya di dunia maya, di dunia nyata sudah ada AI, orang bertanya-tanya yang nyata mana. Bukannya itu makin memperparah kondisi kita, ya?" tutur Rangga.


Teater Menjadi Ruang Belajar

Sejumlah pemain Teater Koma menampilkan adegan pementasan Rumah Sakit Jiwa di Jakarta, Jumat (10/7/2026). Lakon yang pertama kali dipentaskan 35 tahun lalu itu kembali diproduksi dan akan dipentaskan pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Pementasan tersebut mengangkat isu kemanusiaan, relasi kuasa, dan dinamika sosial yang tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. (KLY/Budy Santoso)

Pada kesempatan itu juga, Billy mengatakan bahwa menonton teater bukan sekadar menikmati sebuah pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempelajari beragam aspek budaya Indonesia.

“Melalui teater, satu kali pertunjukkan ada banyak banget yang bisa dipelajari. Budaya, tradisi, seni Indonesia, semuanya ada di situ. Baik dari kostum, aransemen musik, bahkan sampai kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang mungkin dialami itu diadaptasi oleh para pemain di atas panggung teater,” ujarnya.


Tantangan Satukan Energi Pemain Senior dan Pemain Baru

Cuplikan pementasan pada konferensi pers Rumah Sakit Jiwa, Jakarta, Kamis (10/7/2026). (dok Bakti Budaya Djarum Foundation)

Rangga Riantiarno mengungkapkan menyatukan energi para pemain lintas generasi menjadi salah satu tantangan dalam pementasan Rumah Sakit Jiwa. Menurutnya, pemain muda didorong untuk lebih berani mendalami karakter. "Kurang gila nih, masih kelihatan waras nih, masih mikir," ujarnya.

Meski begitu, ia menyebut para pemain senior tetap menjadi panutan dan terbuka berbagi pengalaman dengan generasi baru.


Sinopsis Teater Koma: Rumah Sakit Jiwa

Rumah Sakit Jiwa berkisah tentang Rogusta, seorang dokter baru di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarita. Berbekal keyakinan bahwa pendekatan yang penuh persahabatan mampu membantu proses penyembuhan pasien, Rogusta mulai menerapkan metode yang perlahan mengubah kehidupan di rumah sakit tersebut.

Namun, perubahan itu justru memicu konflik dengan sistem yang telah lama berjalan dan mereka yang merasa posisinya terancam. Melalui kisah tersebut, Teater Koma menghadirkan refleksi mengenai upaya seseorang untuk mengubah sistem yang telah mengakar, sekaligus mengajak penonton mempertanyakan, apakah benar bahwa dunia sedang berubah menjadi sebuah ‘rumah sakit jiwa’.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya