Gaza Berduka, Sosok Pembawa Harapan Gugur dalam Serangan

Kematian pekerja kemanusiaan Palestina, Mohammed al-Wahidi memicu gelombang duka di seluruh Jalur Gaza.

oleh Septian DenyDiterbitkan 10 Juli 2026, 20:36 WIB
Ilustrasi. Kematian pekerja kemanusiaan Palestina, Mohammed al-Wahidi, dalam serangan udara Israel di Kota Gaza pada Selasa memicu gelombang duka di seluruh Jalur Gaza. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Liputan6.com, Istanbul - Kematian pekerja kemanusiaan Palestina, Mohammed al-Wahidi, dalam serangan udara Israel di Kota Gaza pada Selasa memicu gelombang duka di seluruh Jalur Gaza. Bagi banyak warga Palestina, pria berusia 65 tahun itu dikenal sebagai salah satu tokoh kemanusiaan yang paling dekat dengan masyarakat selama perang berlangsung.

Dikutip dari BBC, Jumat (10/7/2026), tak lama setelah kabar wafatnya menyebar, media sosial dipenuhi foto, video, dan ucapan belasungkawa dari warga yang pernah bertemu atau menerima bantuan darinya. Banyak di antara mereka mengenang al-Wahidi sebagai sosok yang selalu hadir di tengah pengungsi dan warga terdampak konflik.

Menurut laporan, sebuah rudal Israel menghantam taksi yang ditumpangi al-Wahidi saat melintas di kawasan Sabra, Kota Gaza. Selain al-Wahidi, tiga orang lainnya turut tewas, termasuk dua anak laki-laki berusia delapan dan 10 tahun yang sedang melintas di lokasi kejadian serta seorang pria lainnya.

Militer Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan seorang anggota Hamas. Namun, pihak militer mengaku mengetahui adanya laporan bahwa warga sipil yang tidak terlibat juga menjadi korban dalam serangan tersebut.

Sebelum perang pecah, al-Wahidi bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Sejak konflik berkecamuk, ia bergabung dengan Komite Bantuan Mesir di Gaza, organisasi yang didukung pemerintah Mesir dan berperan aktif dalam penyaluran bantuan kemanusiaan di wilayah Palestina.

Selama lebih dari dua setengah tahun, ia membantu mengoordinasikan distribusi bantuan pangan darurat, mendirikan kamp bagi keluarga pengungsi, serta memastikan bantuan menjangkau masyarakat yang berkali-kali harus mengungsi akibat konflik.

Berbeda dengan banyak pejabat kemanusiaan lainnya, al-Wahidi dikenal lebih sering berada langsung di lapangan. Ia rutin mengunjungi tempat-tempat pengungsian, berbincang dengan keluarga yang kehilangan tempat tinggal, serta berupaya memenuhi kebutuhan mendesak mereka.

Dalam beberapa pekan terakhir, namanya semakin dikenal setelah turut menginisiasi acara nonton bareng pertandingan Piala Dunia di Kota Gaza, Deir al-Balah, dan kawasan al-Mawasi di Gaza selatan. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan hiburan sejenak bagi warga, terutama anak-anak, di tengah situasi perang.

Pertandingan tim nasional Mesir menjadi salah satu yang paling banyak menarik perhatian warga Gaza. Video anak-anak dan keluarga yang menyaksikan pertandingan melalui layar raksasa di tengah bangunan yang hancur sempat viral di media sosial sebagai simbol harapan di tengah konflik.

 

Al-Wahidi Tewas Sebelum Acara Nonton Bareng Piala Dunia

Warga Palestina menyaksikan siaran langsung pertandingan sepak bola Piala Dunia di Nuseirat, Jalur Gaza Tengah. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Ironisnya, al-Wahidi tewas hanya beberapa jam sebelum salah satu acara nonton bareng pertandingan babak 16 besar antara Mesir dan Argentina digelar.

Aktivis Palestina, Mohammed Hmeid, mengenang al-Wahidi sebagai sosok yang membawa harapan bagi masyarakat.

"Dia bukan sekadar pekerja kemanusiaan. Dia adalah pintu harapan yang setiap hari terbuka bagi para pengungsi dan mereka yang telah kehilangan segalanya," tulis Hmeid.Ia juga menyebut al-Wahidi sebagai pribadi yang dikenal karena kebaikan hati, integritas, dan kemurahan hatinya.

"Di Gaza, bahkan mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang lain pun tidak luput dari perang. Namun, kebaikan tidak bisa dibunuh. Kebaikan akan terus hidup di hati masyarakat.

"Kematian al-Wahidi kembali menyoroti besarnya risiko yang dihadapi para pekerja kemanusiaan di Jalur Gaza. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat hingga akhir April sedikitnya 593 pekerja kemanusiaan telah tewas sejak perang dimulai, termasuk delapan orang yang meninggal setelah Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata sekitar 10 bulan lalu.

Perang di Gaza pecah setelah serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.

Sebagai balasan, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Jalur Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, sedikitnya 73.118 orang telah tewas akibat serangan Israel sejak konflik dimulai. Data tersebut juga menjadi rujukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya