Menuju Era 6G, Komdigi: Spektrum Frekuensi Saat Ini Belum Cukup

Kapasitas spektrum yang ada saat ini dinilai tidak akan memadai untuk memenuhi kebutuhan jaringan 6G.

oleh IskandarDiterbitkan 10 Juli 2026, 09:21 WIB
Ilustrasi 6G (@elenaneira/Twitter).

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan perlunya penambahan spektrum frekuensi baru demi menyokong pengembangan jaringan seluler generasi keenam (6G) di Indonesia.

Kapasitas spektrum yang ada saat ini dinilai tidak akan memadai untuk memenuhi kebutuhan teknologi masa depan tersebut.

Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Komdigi, Adis Alifiawan, menjelaskan setelah proses lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz rampung, total kapasitas spektrum seluler nasional diperkirakan hanya mencapai sekitar 712 MHz.

Padahal, implementasi jaringan 6G kelak menuntut kapasitas yang jauh lebih besar.

"Artinya kita harus mengeluarkan frekuensi baru. Kalau pakai frekuensi existing (yang sudah ada), tidak cukup, tidak proper," ujar Adis dalam diskusi bersama Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Kamis (9/7/2026) di Jakarta, sebagaimana dikutip dari Antara.

Menurut kalkulasi Komdigi, setiap operator seluler idealnya membutuhkan sekitar 200 MHz spektrum frekuensi agar dapat mengoperasikan layanan 6G secara optimal.

Tantangannya, pita frekuensi terbesar yang tersedia melalui proses lelang saat ini hanya mampu menyediakan ruang sekitar 190 MHz.

Sebagai solusi, Adis menyebut pita frekuensi kategori mid-band (pita menengah) menjadi salah satu opsi paling menjanjikan. Karakteristik mid-band dinilai mampu memberikan keseimbangan yang tepat antara kapasitas jaringan dan luas cakupan layanan.

Mengkaji Opsi Global Menuju WRC 2027

Saat ini, Komdigi terus mematangkan kajian terhadap berbagai alternatif pemanfaatan spektrum. Salah satu yang masuk radar adalah pita kategori upper 6 GHz (pita tinggi).

Opsi ini tengah menjadi kandidat kuat untuk layanan 6G dalam pembahasan internasional menjelang World Radiocommunication Conference (WRC) 2027.

Demi merumuskan regulasi yang tepat sasaran, pemerintah memastikan tetap membuka ruang dialog bagi para pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan terkait. Langkah kolaboratif ini diambil agar pemanfaatan spektrum nantinya bisa memberikan dampak ekonomi dan sosial yang maksimal.

"Kami berharap ada masukan pandangan dan masukan pertimbangan, terutama dari sisi manfaat untuk publik," pungkas Adis.

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya