Ada B50, Prabowo Sebut Indonesia Hemat Devisa dan Tak Impor Solar

Presiden Prabowo mengungkapan, B50 menunjukkan Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam untuk kepentingan rakyatnya.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 09 Juli 2026, 16:47 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat Peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengatakan, peluncuran B50 diyakini mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun atau setara sekitar US$ 10 miliar per tahun.

"Bayangkan kita sekarang sudah bisa menghemat devisa uang keluar Rp 170 triliun. US$ 10 miliar kita hemat. Kita hemat di sini US$10 miliar," kata Prabowo dalam Peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).

Selain itu, Prabowo menilai program tersebut menjadi bukti Indonesia mampu mengolah kekayaan alamnya sendiri demi kepentingan rakyat. Disamping itu, dengan diluncurkannya bahan bakar biodiesel B50 sekaligus menandai Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50.

Menurut Prabowo, kebijakan ini menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.

"Dengan diluncurkan program ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50. Ini bukan sekedar pencapaian teknologi, ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri," ujarnya.

Komitmen Swasembada Energi

Menurut Prabowo, sejak sebelum dilantik menjadi presiden, dirinya telah menegaskan kepada timnya bahwa Indonesia harus mencapai swasembada pangan dan swasembada energi. Ia mengungkapkan, semula mendorong agar Indonesia segera menuju biodiesel B100. Namun, para menterinya meyakinkan penerapan B50 sudah cukup untuk menghentikan impor solar.

"Dari sejak saya belum dilantik sampai saya dilantik, saya teruskan. Saya dorong, saya menuntut dari tim saya kemandirian energi. B40 tidak cukup. Bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100. Tapi menteri-menteri saya meyakinkan saya, Pak, dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi dari luar negeri. Jadi ini adalah satu prestasi bangsa yang luar biasa," pungkasnya.

Prabowo Dijadwalkan Luncurkan BBM B50 Hari Ini

Presiden Prabowo Subianto saat peluncuran B50 di Karawang, kamis (9/7/2026). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meluncurkan bahan bakar minyak (BBM) baru jenis B50 pada hari ini, Kamis (9/7/2026). Momentum ini menjadi tonggak sejarah baru dalam proses transisi energi bersih di tanah air.

Kepala Negara disebut akan meresmikan peluncuran BBM B50 tersebut di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat.

B50 merupakan produk biosolar dengan peningkatan kandungan minyak sawit yang dicampur menggunakan perbandingan 50:50 dengan solar murni. Melalui inovasi ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor solar diharapkan bisa ditekan secara signifikan.

Saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan di Kabupaten Gorontalo bulan lalu, Prabowo menegaskan bahwa B50 menjadi pilar penting menuju swasembada energi nasional.

Dengan memanfaatkan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku utama biodiesel, Indonesia ditargetkan mampu memutus rantai ketergantungan pasokan solar dari luar negeri.

"Bulan Juli ini, berapa hari lagi kita akan launching B50. B50 solar akan kita olah dari kelapa sawit 50 persen. Dengan demikian, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri, saudara-saudara sekalian," ujar Prabowo.

Penggunaan B50 diproyeksikan memberikan penghematan devisa yang masif sekaligus memperkuat fondasi kemandirian energi nasional.

"Dan kita akan menghemat banyak sekali. Saya perkirakan tiga tahun lagi, maksimal empat tahun lagi kita akan swasembada energi. Kita tidak mau impor apa pun untuk BBM kita, untuk energi kita, saudara-saudara sekalian," ia menambahkan.

Sejak 1 Juli 2026

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Peluncuran B50 oleh Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Liputan6.com/Tira)

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan, implementasi B50 sebenarnya sudah dimulai tepat pada 1 Juli 2026 setelah melalui serangkaian uji coba pada berbagai jenis kendaraan.

"Jadi insyaallah kami sangat optimistis untuk implementasi launching B50 itu dilakukan di 2026, 1 Juli. Dengan demikian, kita akan mengurangi atau bahkan tidak lagi melakukan impor solar, khususnya C48," ungkap Bahlil.

Menurut Bahlil, pengujian ketat telah dilakukan pada berbagai moda transportasi dan alat berat, mulai dari truk, kapal, kereta api, alat pertanian, hingga ekskavator dengan hasil yang memuaskan.

"Hasilnya sangat menggembirakan. Sampai dengan hari ini, kadar air dari perbandingan B40 dengan B50, justru B50 itu kadar airnya lebih sedikit," kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya