Bahlil Ungkap Alasan B50 Diluncurkan 2026

Menteri Bahlil ungkap kerja keras tim di balik peluncuran B50 tahun 2026 demi mengejar target kemandirian energi nasional.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 09 Juli 2026, 16:15 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Peluncuran B50 oleh Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Liputan6.com/Tira)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap alasan pemerintah meluncurkan biodiesel B50 pada 2026. Menurutnya, percepatan implementasi B50 merupakan amanat langsung Presiden yang bertujuan mempercepat terwujudnya kedaulatan energi nasional.

Bahlil mengatakan, peluncuran B50 bukan sekadar meningkatkan kadar campuran biodiesel dari B40 menjadi B50. Lebih dari itu, kebijakan tersebut menjadi simbol kemandirian Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya alam sendiri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

"Perintah Bapak Presiden waktu itu, Bapak Presiden mengatakan bahwa bagaimana caranya pun B50 harus kita bisa luncurkan di 2026. Karena kami maknai arahan dan perintah Bapak Presiden tidak hanya persoalan B50-nya, tapi persoalan kedaulatan, kemandirian, dan harga diri bangsa untuk bisa kita menghasilkan energi dari negara kita sendiri," kata Bahlil dalam Peluncuran B50 oleh Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Kamis (9/7/2026).

Menurutnya, pemerintah memaknai arahan tersebut bukan hanya terkait aspek teknis pencampuran biodiesel, tetapi juga menyangkut upaya membangun kedaulatan, kemandirian, dan harga diri bangsa melalui energi yang diproduksi dari dalam negeri.

"Atas dasar arahan tersebut, maka kami tim bekerja keras. Pak Menko juga melakukan rapat-rapat untuk melakukan koordinasi. Dan alhamdulillah hari ini kita luncurkan," ujarnya.

 

Percepatan B50 Tak Mudah

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Peluncuran B50 oleh Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Kamis (9/7/2026). (Liputan6.com/Tira)

Bahlil mengakui target peluncuran B50 pada 2026 bukan pekerjaan mudah. Pasalnya, peningkatan kadar campuran biodiesel biasanya dilakukan secara bertahap dengan kenaikan sekitar 5% hingga maksimal 10%.

Bahkan, menurut dia, kenaikan campuran sebesar 10% saja umumnya membutuhkan waktu hingga tiga tahun untuk melalui proses pengujian sebelum diterapkan secara luas.

"Awalnya memang B50 ini jujur kami katakan bahwa ini bukan pekerjaan yang mudah. Karena biasanya tahapannya itu, Bapak Presiden, naik 5, maksimal 10%. Itu pun 10% itu dia 3 tahun baru bisa kita melakukan uji coba. Tapi perintah Bapak Presiden waktu itu," ujarnya.

 

 

B50 Jadi Simbol Kemandirian Energi

Lebih lanjut, Bahlil menegaskan peluncuran B50 merupakan langkah besar menuju Indonesia yang semakin berdaulat di sektor energi. Program ini sekaligus menjadi bagian dari strategi pemerintah mengurangi impor bahan bakar minyak melalui pemanfaatan biodiesel berbasis minyak sawit.

Ia menyebut implementasi B50 akan mengakhiri impor solar yang sebelumnya masih mencapai sekitar 3-4 juta kiloliter per tahun. Selain itu, program ini juga meningkatkan permintaan crude palm oil (CPO), memperbesar penghematan devisa, hingga membuka lapangan kerja baru.

"Untuk solar, total konsumsi kita itu rata-rata di angka 38 juta sampai dengan 40 juta kiloliter solar per tahun. Awalnya kita itu masih impor sekitar 3-4 juta kiloliter per tahun. Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya