Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menghadiri langsung panen raya jagung yang digelar Bayer Indonesia bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Ponorogo, Jawa Timur. Menurut dia, kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan petani menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penerapan teknologi pertanian yang lebih modern, efisien, dan berbasis inovasi.
"Peningkatan produktivitas menjadi kunci untuk mencapai target swasembada pangan nasional di tengah keterbatasan lahan dan tantangan perubahan iklim," ujar Hanif, Sabtu (4/7).
Advertisement
Hanif menegaskan, penguatan ketahanan pangan tidak cukup hanya melalui perluasan lahan tanam. Hal yang diperlukan adalah meningkatkan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi pertanian.
"Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan sektor swasta seperti Bayer menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dapat mendorong sentra produksi daerah menjadi penopang produksi jagung nasional," jelas dia.
Hanif menambahkan, pentingnya peningkatan produktivitas juga terlihat dari tren produksi jagung nasional yang terus menunjukkan pertumbuhan. Dia mencatat, pada Januari 2026, luas panen jagung pipilan secara nasional mencapai 0,24 juta hektare atau meningkat 11,17 persen dibandingkan Januari 2025 yang tercatat sebesar 0,22 juta hektare.
"Dalam periode yang sama, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen diperkirakan mencapai 1,38 juta ton, naik 11,09 persen dari 1,25 juta ton pada Januari 2025," ungkap dia.
Sebagai salah satu dari 10 besar daerah penghasil jagung di Jawa Timur, Hanif menilai Ponorogo memiliki luas panen jagung mencapai sekitar 39.046 hektare dengan produksi 284.242 ton pada 2025 atau produktivitas rata-rata 7,28 ton per hektare.
"Potensi tersebut menjadikan Ponorogo sebagai salah satu wilayah strategis dalam mendukung target swasembada pangan nasional," tutur dia.
Senada dengan itu, Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita menyampaikan, sebagai salah satu sentra produksi jagung di Jawa Timur, Ponorogo terus memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
"Di tengah tantangan yang terus berkembang, pemanfaatan inovasi dan teknologi menjadi langkah penting agar petani mampu meningkatkan hasil panen sekaligus mendukung pencapaian target swasembada jagung nasional," kata Lisdyarita.
Dalam konteks tersebut, Lisdyarita optimistis kolaborasi dengan Bayer melalui penggunaan varietas Dekalb DK19C menjadi contoh penerapan inovasi benih di lapangan.
"Evaluasi teknis di Desa Pijeran, Kecamatan Siman, Ponorogo menunjukkan performa agronomi yang baik," ujar dia.
Agriculture Affairs and License to Operate Lead Bayer Crop Science Indonesia Aditia Rusmawan menambahkan, inovasi pertanian harus memberikan manfaat nyata bagi petani.
"Melalui teknologi benih jagung hibrida Dekalb, kami ingin membantu petani meningkatkan produktivitas dan memperoleh hasil panen yang bernilai ekonomi lebih baik," ujar Aditia.
Aditia mengungkapkan, penggunaan benih jagung DK19C menunjukkan bagaimana inovasi berbasis sains dapat diterapkan secara nyata di lapangan untuk mendorong pertanian jagung yang lebih maju dan berkelanjutan.
"Dalam waktu dekat kami akan memperkenalkan benih jagung Dekalb DK19S dan DK09S, teknologi benih jagung bioteknologi yang memberikan dua cara kerja unik untuk melindungi tanaman dari hama di atas permukaan tanah, seperti penggerek jagung dan ulat grayak. Benih jagung DK19S dan DK09S juga memiliki toleransi terhadap herbisida Roundup Ready 2," jelas dia.
Sebagai petani jagung, Miswanto mengatakan, sejak menggunakan benih jagung Dekalb DK19C, pertumbuhan tanaman lebih seragam, tongkol lebih bagus, dan hasil panen meningkat.
"Selain produksinya lebih tinggi, biaya juga lebih efisien karena kualitas panennya baik. Pendampingan budidaya dari Bayer juga membuat kami lebih percaya diri menerapkan teknologi baru di lahan," tutup dia.