Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) memastikan terus berupaya menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil dengan kecenderungan menguat di tengah tekanan dari penguatan kurs dolar AS.
"Memang Bank Indonesia tidak akan tinggal diam. Bank Indonesia seperti biasa akan all out untuk bagaimana menjaga Rupiah itu tetap stabil dengan kecenderungan menguat," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso melansir Antara di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Advertisement
Sinyal hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat dan kenaikan Indeks Dolar AS (DXY) menjadi faktor eksternal yang menyebabkan nilai tukar mata uang sejumlah negara melemah terhadap dolar AS.
"Dimulai ketika The Fed melakukan Federal Open Market Committee (FOMC) sekitar tanggal 17 Juni 2026. Jadi, yang perlu diketahui keputusan FOMC The Fed bulan Juni, walaupun suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Fed Funds Rate tetap 3,5 sampai dengan 3,75 persen, tetapi yang dicermati oleh pelaku pasar adalah sinyal hawkish dari pernyataan sejumlah pejabat The Fed," katanya.
Dia menambahkan, sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Funds Rate di masa-masa yang akan datang, terutama tahun ini yang memang probabilitasnya adalah tidak lagi turun, tetapi akan naik.
Perkembangan inilah yang mengakibatkan bagaimana DXY itu bereaksi. Kalau melihat di bulan Januari 2026, DXY itu masih di angka 95. Tetapi di akhir Juni, DXY itu sudah naik sampai dengan 101.
Dibandingkan Negara Lain
Dia mengatakan bahwa harus dipahami bahwa angka 101 adalah angka tertinggi dalam satu tahun terakhir untuk DXY. "Jadi, kombinasi adalah sinyal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti oleh naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar mata uang sejumlah negara itu melemah terhadap dolar AS," kata dia.
"Kita bisa melihat bagaimana Rupiah perkembangannya relatif termasuk baik dibandingkan negara emerging market yang lain dan tentunya kita berharap ke depan Rupiah di samping stabil akan mulai perlahan menguat terhadap dolar AS. Oleh sebab itu tentunya sinergi dari berbagai macam pihak itu sangat diperlukan untuk sama-sama membawa Rupiah kita menguat terhadap dolar AS," tambah Ramdan.
BI sendiri tetap berada di pasar selama 24 jam baik di pasar luar negeri maupun dalam pasar dalam negeri dengan transaksi di pasar spot, di pasar non-deliverable forward (NDF), di pasar domestic non-deliverable forward (DNDF), dan juga melakukan komunikasi yang intens dengan pelaku pasar.
Rupiah Dekati 18.000 per Dolar AS, Pasar Tunggu Risalah The Fed
Sebelumnya, kurs rupiah dibuka bergerak datar pada perdagangan Selasa (7/7/2026) di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menantikan risalah rapat bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed).
Selain perkembangan global, investor juga mencermati sejumlah sentimen domestik, mulai dari defisit neraca perdagangan hingga data cadangan devisa Bank Indonesia (BI).
Berdasarkan data pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah berada di level 17.995 per dolar AS, tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berada dalam tekanan meski indeks dolar AS cenderung melemah.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih dalam tekanan yang diperkirakan melemah pada kisaran di 17.950-18.020 dipengaruhi faktor global. Walaupun index dollar melemah, namun pelaku pasar masih hati-hati dalam mengantisipasi rilis notulen meeting The Fed pada Kamis, 9 Juli, waktu AS," ujar Rully dikutip dari Antara.
Menurut dia, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada risalah rapat The Fed yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS dalam beberapa bulan mendatang.
Pada pertemuan sebelumnya, The Fed masih menegaskan komitmennya menjaga inflasi di level 2%. Namun, perkembangan terbaru di pasar tenaga kerja AS mulai mengubah ekspektasi investor terhadap langkah bank sentral tersebut.
Rully menjelaskan, data nonfarm payrolls (NFP) yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi membuat The Fed lebih fleksibel dalam menentukan arah kebijakan moneternya ke depan.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat mendorong bank sentral AS di bawah kepemimpinan Gubernur Kevin Warsh untuk memberikan panduan (forward guidance) yang lebih adaptif terkait prospek suku bunga.