Liputan6.com, Jakarta - Barista Mikael Jasin berbagi cerita tentang pengalamannya memenangkan World Barista Championship 2024. Salah satunya mengembangkan formulasi susu kacang mede lokal untuk dipakai sebagai salah satu bahan pembuatan minuman kopi.
"Profil susu kacang mede lumayan netral sebenarnya dibandingkan dengan susu kacang lainnya. Secara natural, creamy. Dia juga rich, tapi enggak overpowering. Enggak nutupin rasanya kopi, atau matcha, atau cokelat," kata pria yang akrab disapa Miki itu, dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, 6 Juli 2026.
Advertisement
Saat mengembangkan susu kacang mede varian Barista untuk Arummi, ia menekankan setidaknya dua elemen, yakni rasa yang tidak menutupi rasa kopi dan struktur yang lebih stabil saat dipanaskan. Terutama saat membuat latte art, susu akan diuap hingga muncul buih untuk bisa dituang membentuk gambar tertentu di permukaan kopi.
"Karena kalau di kejuaraan, yang dinilai kan rasa dan visual, kan," kata dia. "Tapi, kejuaraan itu juga refleksi dari industrinya. Tuntutan di kafe-kafe ya mesti begitu."
Selain Barista, ia juga kerap menggunakan varian Klasik yang profil rasanya mengandung vanila. Teksturnya juga agak lebih ringan. Cocok untuk dicampurkan ke minuman kopi yang lebih manis dan dingin.
Sementara, varian cokelat pas dicampur dengan kopi untuk menjadi rasa mocca. "Jadi, kalau enggak terlalu suka ngopi, pengen ada rasa lainnya juga, pakai cokelat, enggak perlu dicampur apa-apa lagi," ujar Miki.
Komposisi Standar Minuman Kopi
Dalam kesempatan itu, ia juga membagikan resep standar membuat minuman kopi yang nikmat. Biasanya, kata Miki, perbandingan antara kopi dan likuid atau cairan lainnya antara 1:5 atau 1:6. Satu bagian kopi ditambahkan lima atau enam cairan lainnya.
"Jadi kalau satu shot espresso itu biasanya 20 ml, atau kalau di rumah punya mesin kapsul, nah likuidnya apakah mau 100 persen cashew milk atau dicampur dengan gula atau dengan cokelat, itu yang total dari 5--6-nya."
"Misalnya, 20 gram kopi, likuidnya 120 ml. 100 ml-nya cashew milk, 20nya sugar atau cokelat," imbuhnya.
Cara memanaskan susu nabati, termasuk susu kacang mede, juga tidak bisa seperti susu sapi. "Karena susu sapi itu lebih banyak protein, karbohidrat, fat-nya lebih tahan panas. kalau susu nabati, enggak bisa terlalu panas," ia menerangkan. Selain itu, susu nabati harus dikocok dulu sebelum dituangkan ke kopi agar lebih menyatu.
Minat Orang Indonesia pada Susu Nabati
Sejauh ini, kata Miki, susu sapi masih mendominasi jenis cairan pendamping kopi di kebanyakan kafe di Indonesia. Meski begitu, minat konsumen pada susu alternaif juga meningkat.
Menurut Miki, salah satu faktor pendorong peningkatan minat konsumen Indonesia pada susu nabati adalah kesukaan orang Indonesia mencoba rasa baru, bukan karena faktor kesehatan, seperti intoleransi laktosa atau memiliki alergen tertentu.
"Kalau di negara lain mungkin switch ke nabati karena memang ada alergen pada dasarnya. Kadang-kadang ada orang yang lactose intolerance, tapi juga alergi kacang. Jadi, memang agak lebih sulit. Tapi kalau di sini, saya merasa orang menjadi lebih tertarik, eh ada nih produk lokal yang biasanya kita makan di gado-gado, sekarang dijadikan menu-menu minuman," ujarnya.
Bisa Jadi Pengganti Santan dan Susu
Syahadiaz Sikar, Commercial Director Arummi, menyebut susu kacang mede sudah bisa dikonsumsi anak usia 1 tahun ke atas. Ia juga merekomendasikan konsumsi susu kacang mede pada ibu hamil dan menyusui karena mengandung asam folat.
"Susu ini juga bisa digunakan sebagai pengganti santan. Jadi, makanan yang pakai santan, seperti soto-sotoan, bisa pakai Arummi. Bisa juga untuk sesuatu yang creamy, seperti pasta atau dessert, sebagai pengganti susu," imbuhnya.
Diaz, biasa dipanggil, meyakinkan bahwa seluruh bahan baku kacang mede diperoleh dari dalam negeri, khususnya dari Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi. Bahan baku itu kemudian diproduksi di dalam negeri pula.
"Jadi, locally source, locally produced," ujar Diaz.