Liputan6.com, Jakarta - Polri menganugerahkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) Anumerta kepada tiga personel Satresnarkoba Polres Katingan, Polda Kalimantan Tengah, yang gugur saat menjalankan operasi pemberantasan peredaran narkotika di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan.
Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir mengatakan penganugerahan kenaikan pangkat tersebut merupakan bentuk penghormatan institusi atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian para personel yang gugur saat menjalankan tugas negara.
Advertisement
"Penganugerahan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Anumerta merupakan penghormatan negara dan institusi Polri atas jasa serta pengabdian almarhum dalam menjalankan tugas. Semoga amal ibadah mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, serta penghiburan," kata Isir.
Selain itu, Isir menegaskan Polri akan mengusut tuntas peristiwa tersebut sesuai ketentuan hukum. Polri juga memastikan akan memberikan pendampingan kepada keluarga personel yang gugur.
"Polri berkomitmen mengusut secara profesional seluruh rangkaian peristiwa ini. Kami juga memastikan hak-hak keluarga para personel yang gugur dipenuhi sebagai bentuk tanggung jawab institusi kepada anggota yang telah mengabdikan diri hingga akhir hayatnya," ujarnya.
Kronologi Operasi Narkoba
Peristiwa bermula dari operasi penindakan narkotika di Desa Tumbang Kalemei, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, untuk menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai dugaan peredaran sabu. Hasil penyelidikan mengarah kepada seorang target operasi berinisial BIO, residivis kasus narkotika.
Sebanyak 12 personel diterjunkan pada Rabu malam, 1 Juli 2026. Setibanya di lokasi, mereka dibagi menjadi dua tim. Satu tim bergerak melakukan penindakan di rumah target, sedangkan tim lainnya bersiaga sebagai unsur pendukung.
Target operasi berhasil diamankan. Namun, situasi berubah ketika beberapa orang di dalam rumah bersama warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan parang.
"Massa kemudian bertambah dan melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam serta senjata api rakitan," kata Isir.
Dalam situasi yang semakin tidak terkendali, para personel berupaya menyelamatkan diri sambil menunggu bantuan. Sejumlah anggota berenang menyeberangi sungai dan berlindung di kawasan hutan.
Polisi Gugur Sempat Hilang
Serangan tersebut menewaskan Aipda Yudhie Perdana Putra. Dia ditemukan meninggal dunia dengan luka akibat senjata tajam. Sementara itu, dua anggota lainnya, Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, dinyatakan hilang.
Pencarian terhadap keduanya berlangsung selama beberapa hari. Tim gabungan yang terdiri atas personel Polda Kalimantan Tengah, Polairud, Kodim 1019/Katingan, Basarnas, dan masyarakat menyisir aliran sungai serta kawasan hutan menggunakan tiga perahu karet dan delapan kapal ces kecil.
Bripda Nopandri Ramadhana ditemukan lebih dulu pada Sabtu, 4 Juli 2026, sekitar pukul 15.55 WIB di DAS Katingan, seberang Desa Tumbang Lahang, Kecamatan Katingan Tengah.
Kapolres Katingan AKBP Dodik Hartono mengatakan Briptu Rangga dan Bripda Ryan menemukan korban dalam keadaan kaku, terapung, dan tersangkut di ranting kayu.
Temuan itu kemudian dilaporkan kepada tim gabungan di posko sebelum jenazah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk diautopsi.
Sehari kemudian, Minggu, 5 Juli 2026, pencarian kembali membuahkan hasil. Sekitar pukul 08.42 WIB, tim menerima informasi dari Babinsa Rantau Asem, Kopda Imam, mengenai penemuan sesosok mayat di Sungai Desa Rantau Asem, sekitar empat kilometer dari lokasi kejadian di Desa Tumbang Kalemei.
Tim menuju lokasi dan memastikan jenazah tersebut adalah Aiptu Sumaryanto. Pada pukul 09.45 WIB, jenazah diberangkatkan menggunakan ambulans menuju Rumah Sakit Bhayangkara Palangkaraya.
3 Polisi Gugur
Dengan ditemukannya Aiptu Sumaryanto, jumlah personel Polri yang gugur dalam operasi penindakan narkotika di Kabupaten Katingan menjadi tiga orang.
Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para anggota yang gugur.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum. Semoga para almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta kekuatan," ujarnya.
Eko menegaskan peristiwa tersebut menjadi perhatian serius Bareskrim Polri. Tim gabungan, kata dia, masih terus melakukan penyelidikan sekaligus mengejar para pelaku yang diduga terlibat dalam penyerangan terhadap anggota Polri.
"Kami tidak akan berhenti sampai seluruh pelaku berhasil diamankan dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku," katanya.