Merawat Hutan Ranjuri Sigi Lewat Batik Valiri

Batik Valiri berangkat dari kesadaran merawat Hutan Ranjuri, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 06 Juli 2026, 21:00 WIB
Proses pembuatan Batik Valiri dengan memanfaatkan bahan-bahan alami di Hutan Ranjuri, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. (dok.

Liputan6.com, Jakarta - Siapa sangka di tengah hutan seluas sekitar sembilan hektare, terdapat komunitas yang merawat hutan sekaligus memberdayakan diri sendiri dengan membuat batik. Batik Valiri, dinamakan demikian, menjadi cara warga Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, untuk merawat Hutan Ranjuri.

Pendiri Batik Valiri, Afrianto atau Anto, merintis usahanya usahanya pada 2019 setelah bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan batik di Kota Palu. Ia melihat bahwa kekayaan alam, budaya, dan sejarah Sigi belum banyak diangkat ke dalam kain batik.

"Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari hutan Ranjuri saja, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat produksi, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat, termasuk pewarna alami yang bisa dikembangkan dari tanaman di dalam hutan purba tersebut," ujar Anto, dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Senin, 6 Juli 2026

Valiri berasal dari Bahasa Kaili, yang berarti 'jadi di sini'. Nama itu merujuk pada kawasan sekitar Hutan Ranjuri, tempat masyarakat sejak lama menggantungkan hidup, menghidupkan nilai budaya, dan menjaga sistem pengetahuan lokal. Ya, hutan bagi masyarakat adat Kaili bukan hanya sebagai penyangga ekologis yang melindungi desa dari banjir bandang dan kekeringan, tetapi juga menjadi sumber air, sumber inspirasi motif, dan sumber bahan pewarna alami.

Alam dan sekitarnya menjadi inspirasi utama motif Batik Valiri. Setiap pola bukan hanya ornamen visual, tetapi menyimpan filosofi dan identitas daerah.

 

Makna Motif-motif Batik Valiri

Hutan Ranjuri di wilayah Sigi, Sulawesi Tengah. (dok. Gampiri Interaksi)

Motif taiganja, misalnya, melambangkan kesuburan dan menggambarkan cinta serta ketulusan hati. Dalam tradisi Kaili, taiganja merupakan benda sakral berbentuk menyerupai liontin yang digunakan dalam upacara adat dan sering menjadi mahar pernikahan. Melalui Batik Valiri, makna taiganja yang mulai jarang dikenal dihidupkan kembali agar dapat dipahami dalam konteks budaya masa kini.

Selain taiganja, Batik Valiri juga mengangkat motif Pohon Rau dari Hutan Ranjuri, daun kelor, senjata tradisional guma, hingga jejak megalitik yang tersebar di wilayah Sigi. Semua motif ini menjadi pintu masuk untuk mengenal kekayaan alam, sosial, dan sejarah Sigi.

Dari sisi produksi, Batik Valiri memadukan teknik batik cap dan canting dengan pendekatan kontemporer seperti sapuan kuas abstrak dan batik ciprat. Pihaknya kini menggunakan pewarna alami dari kekayaan hayati Hutan Ranjuri, menggantikan pewarna sintetis yang tak ramah lingkungan.

Daun rau menghasilkan rona krem, daun mangga memberi sentuhan kuning kehijauan, sementara daun kayu jati dan ketapang menciptakan nuansa cokelat kemerahan serta hitam. Proses pewarnaan alami membutuhkan waktu panjang. Dari sepuluh kilogram daun kering, hanya cukup untuk mewarnai sekitar lima lembar kain.

Dari Kain ke Ekowisata

Daun pohon rau yang tumbuh di Hutan Ranjuri, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, menjadi salah satu bahan pewarna alami untuk Batik Valiri. (dok. Gampiri Interaksi)

Proses pewarnaan itu mencakup perebusan hingga empat jam dan pencelupan berulang sampai dua puluh kali agar warna meresap sempurna. "Kalau pewarna sintetis cukup satu kali celup, warna langsung keluar. Tapi pewarna alami butuh kesabaran. Itu yang membuat nilainya berbeda," kata Anto.

Dalam pemanfaatan bahan alam, masyarakat adat Desa Beka hanya mengambil daun yang telah gugur, tanpa menebang pohon. Pengelolaan Hutan Ranjuri dilakukan melalui rembuk bersama tokoh adat, dan setiap aktivitas di kawasan tersebut harus melalui izin adat. Meski secara administratif berstatus hutan produksi, secara sosial, hutan itu dijaga sebagai ruang sakral dan sumber kehidupan.

Batik Valiri juga mulai mengembangkan bisnisnya lewat paket ekowisata berbasis pengalaman. Wisatawan diajak menyusuri Hutan Ranjuri, mengenal filosofi motif, hingga mencoba langsung membatik. Konsep ini telah diuji coba dalam beberapa kegiatan lokal, nasional, dan internasional sebagai upaya menyatukan potensi alam, budaya, dan ekonomi dalam satu ekosistem.

Ekonomi Restoratif Lewat Batik Valiri

Bahan baku alam di Hutan Ranjuri diolah menjadi pewarna alami untuk Batik Valiri. (dok. Gampiri Interaksi)

Batik Valiri kini menjadi bagian dari transformasi Kabupaten Sigi menuju kabupaten lestari dengan menghadirkan praktik ekonomi yang berakar pada nilai lokal dan keberlanjutan. Melalui penguatan usaha berbasis komunitas, pemanfaatan sumber daya secara bijak, dan penciptaan nilai tambah di tingkat lokal, Batik Valiri turut mendorong ekonomi restoratif yang meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi daerah.

Melalui jaringan Gampiri Interaksi dan Kabupaten Lestari, Batik Valiri yang juga dipasarkan via Instagram, kerap menjadi suvenir resmi dalam kunjungan lintas provinsi dan mitra internasional. Hingga kini, tercatat kunjungan dari perwakilan berbagai negara, seperti Brazil, Amerika, Jepang, dan beberapa negara lainnya, yang datang untuk belajar dan berbelanja langsung.

Bagi Gampiri Interaksi dan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Batik Valiri adalah contoh konkret ekonomi restoratif yang berjalan di lapangan. Ketika hutan dijaga, budaya dihidupkan, dan masyarakat dilibatkan, kesejahteraan bisa tumbuh tanpa harus memilih antara ekonomi atau lingkungan. 

Di Sigi, pengalaman wisata melalui Batik Valiri bukan hanya tentang melihat hutan atau belajar membatik. Ia menjadi cara untuk memahami bagaimana alam, adat, keterampilan tangan, dan ekonomi lokal dapat hidup dalam satu cerita. 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya