Rusia Bakal Larang Tambang Kripto di 19 Wilayah

Pemerintah Rusia mempertimbangkan melarang penambangan Bitcoin di 19 wilayah menyusul lonjakan konsumsi listrik dan kekhawatiran stabilitas jaringan energi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 05 Juli 2026, 15:00 WIB
Seorang teknisi melakukan perawatan pada rig pertambangan dari komputer super di dalam pabrik bitcoin. Aktivitas penambangan Bitcoin di Rusia menghadapi ancaman larangan di 19 wilayah karena konsumsi listrik terus meningkat. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Rusia tengah mempertimbangkan untuk memperluas larangan aktivitas penambangan mata uang kripto di 19 wilayah yang terhubung dengan sistem kelistrikan pusat negara tersebut. Wacana ini muncul setelah lonjakan konsumsi listrik, pesatnya pembangunan pusat data (data center), serta meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas jaringan listrik nasional.

Mengutip CoinMarketCap, Minggu (5/7/2026), Pemerintah Rusia sedang mengevaluasi rencana pelarangan penambangan mata uang kripto, termasuk Bitcoin, di wilayah yang terhubung dengan sistem energi terpadu yang berpusat di Moskow.

Apabila disetujui, aturan tersebut tidak hanya berlaku untuk Moskow dan wilayah sekitarnya, tetapi juga mencakup 17 wilayah lain di Rusia bagian tengah, seperti Bryansk, Kaluga, Tula, Yaroslavl, dan Voronezh.

Dengan demikian, sebagian besar aktivitas penambangan kripto di Rusia bagian tengah berpotensi dihentikan.

Sebagai alternatif, Kementerian Energi Rusia juga tengah mengkaji aturan yang lebih ketat terkait penyambungan jaringan listrik bagi perusahaan penambangan baru.

Dalam skema tersebut, pelaku usaha hanya dapat memperoleh akses listrik melalui kategori keandalan tingkat empat (fourth-category reliability). Artinya, pasokan listrik mereka menjadi prioritas terakhir dan dapat diputus lebih dahulu apabila terjadi kekurangan listrik.

Selain itu, operator juga diwajibkan memenuhi persyaratan teknis yang lebih ketat, termasuk memasang sistem otomatis untuk kondisi darurat.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Konsumsi Listrik Melonjak

Rig pertambangan dari komputer super (kiri) dan filter udara yang berada dalam pabrik bitcoin. (AFP Photo/Halldor Kolbeins)

Meningkatnya konsumsi listrik menjadi alasan utama pemerintah Rusia mempertimbangkan kebijakan tersebut.

Selama musim gugur dan musim dingin, sistem kelistrikan Rusia mencatat rekor kebutuhan listrik sebesar 43,3 gigawatt (GW), atau meningkat sekitar 2,3 GW dibandingkan rekor sebelumnya.

Di kawasan Moskow dan sekitarnya saja, kebutuhan listrik mencapai 21,1 GW.

Pusat data menjadi salah satu penyumbang terbesar peningkatan konsumsi energi. Saat ini, data center di Rusia diperkirakan mengonsumsi listrik sekitar 4 GW, atau setara sekitar 2% dari total konsumsi listrik nasional.

Berdasarkan proyeksi Kementerian Pembangunan Digital Rusia, kebutuhan listrik pusat data diperkirakan masih akan bertambah sekitar 2 GW hingga 2030.

Beberapa perusahaan teknologi menjadi pengguna listrik terbesar, antara lain Yandex yang mengonsumsi sekitar 660 megawatt (MW) dan Sberbank sekitar 1,2 GW. Selain itu, terdapat 65 pusat data di Moskow dan wilayah sekitarnya yang menggunakan sekitar 734 MW, belum termasuk puluhan proyek baru yang masih menunggu sambungan listrik.

Para analis menilai lonjakan kebutuhan energi tersebut tidak hanya dipicu aktivitas penambangan kripto, tetapi juga berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta ekspansi infrastruktur digital.

 

Pindah Operasi

Di sisi lain, rencana pelarangan penambangan kripto di Rusia bagian tengah dinilai berpotensi memunculkan konsekuensi baru.

Pelaku industri memperkirakan perusahaan penambangan akan memindahkan operasinya ke wilayah lain. Namun, tidak menutup kemungkinan sebagian operator justru beralih ke aktivitas penambangan ilegal dengan memanfaatkan sambungan listrik tanpa izin.

Menurut pelaku industri, regulasi yang terlalu ketat justru dapat memperbesar pasar penambangan kripto bawah tanah sehingga menyulitkan pemerintah mengawasi konsumsi listrik secara menyeluruh.

Meski demikian, pemerintah Rusia tetap berupaya menekan risiko kelebihan beban jaringan listrik tanpa harus sepenuhnya menghambat perkembangan sektor aset kripto maupun infrastruktur digital nasional.

Para ahli memperkirakan persoalan pasokan listrik akibat meningkatnya aktivitas penambangan kripto dan pembangunan pusat data akan menjadi tantangan yang semakin besar dalam beberapa tahun mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya