Pengamat sektor pertambangan, Simon Felix Sembiring, menilai rencana PT Pertamina (Persero) mengakuisisi PT Bukit Asam Tbk (PTBA) merupakan rencana bisnis yang kurang tepat.
Pasalnya, jelas Simon, kedua perusahaan berbeda bisnis. Pertamina di sektor perminyakan, sedangkan PTBA di sektor batubara.
"Buat apa diakuisisi?, apa urusannya Pertamina mengakuisisi PTBA?. Kalau bermimpi sih boleh saja tidak ada yang melarang, tapi yang realistis," kata pria yang pernah menjabat Dirjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengutip laman Antara, di Jakarta, Jumat (7/2/2014).
Simon menambahkan, sangat tidak elok jika Pertamina melontarkan wacana akuisisi PTBA. Sebab, keduanya merupakan sama-sama BUMN dan ditambah lagi PTBA merupakan perusahaan yang sehat.
"Lebih baik Pertamina urus rumah tangganya sendiri, jangan urus rumah tangga perusahaan lain. Mengurus rumah tangganya sendiri saja belum beres malah mau mencampuri rumah tangga perusahaan lain," jelas dia.
Indonesia masih bergantung pada minyak impor baik minyak mentah maupun BBM serta elpiji impor. Dan itu seharusnya yang diurusi Pertamina.
Pengamat energi Reforminer Insitute Komaidi Notonegoro menilai bahwa rencana bisnis Pertamina untuk masuk ke batubara harus dikaji benar-benar.
Pasalnya, selama ini bisnis utama Pertamina di sektor minyak. "Seandainya benar, apa tujuannya, harus clear dulu, harus jelas kajiannya dulu," tegas Komaidi.
Menurut Komaidi, harus dilihat ekspansi ini kemauan korporasi ataukah kemauan pihak lain. Jangan sampai keuntungan dari ekspansi itu kemudian menetes ke pihak yang menitipkan isu ekspansi akuisisi.
"Misal kenapa momentum akusisi, ekspansi, itu muncul sekarang ini, tidak sebelumnya, kan itu jadi pertanyaan lagi," tegasnya.
Sebelumnya beredar kabar bahwa Pertamina akan mencaplok PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Hal itu terlihat dalam salah satu isi dari dokumen 'Pertamina 2025 The Asian Energy Champion 2025'. Adapun tujuan Pertamina mencaplok PTBA, agar Pertamina menjadi perusahaan energi kelas dunia.
Komaidi menambahkan, dalam teori ekonomi, penggabungan dua perusahaan, baru bisa dilakukan manakala ada masalah di salah satu perusahaan.
"Dalam bisnis, ada konsep spesialisasi. Semakin spesial sesuatu dia semakin optimal. Kalau mau ekspansi ke batubara, panas bumi, bisa saja jika sudah ada ruang gerak. Jangan yang satu belum tuntas, menggarap yang lain. Lama-lama tidak dapat semua," jelas dia.
Ia juga mengingatkan, dari sisi teori bisnis, sebuah perusahaan yang akan ekspansi, semua masalah internal harus selesai dulu. Core bisnisnya sudah optimal. "Bisnis minyak belum beres kok mau bisnis lainnya," tutup dia. (Ant/Nrm)
Pasalnya, jelas Simon, kedua perusahaan berbeda bisnis. Pertamina di sektor perminyakan, sedangkan PTBA di sektor batubara.
"Buat apa diakuisisi?, apa urusannya Pertamina mengakuisisi PTBA?. Kalau bermimpi sih boleh saja tidak ada yang melarang, tapi yang realistis," kata pria yang pernah menjabat Dirjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengutip laman Antara, di Jakarta, Jumat (7/2/2014).
Simon menambahkan, sangat tidak elok jika Pertamina melontarkan wacana akuisisi PTBA. Sebab, keduanya merupakan sama-sama BUMN dan ditambah lagi PTBA merupakan perusahaan yang sehat.
"Lebih baik Pertamina urus rumah tangganya sendiri, jangan urus rumah tangga perusahaan lain. Mengurus rumah tangganya sendiri saja belum beres malah mau mencampuri rumah tangga perusahaan lain," jelas dia.
Indonesia masih bergantung pada minyak impor baik minyak mentah maupun BBM serta elpiji impor. Dan itu seharusnya yang diurusi Pertamina.
Pengamat energi Reforminer Insitute Komaidi Notonegoro menilai bahwa rencana bisnis Pertamina untuk masuk ke batubara harus dikaji benar-benar.
Pasalnya, selama ini bisnis utama Pertamina di sektor minyak. "Seandainya benar, apa tujuannya, harus clear dulu, harus jelas kajiannya dulu," tegas Komaidi.
Menurut Komaidi, harus dilihat ekspansi ini kemauan korporasi ataukah kemauan pihak lain. Jangan sampai keuntungan dari ekspansi itu kemudian menetes ke pihak yang menitipkan isu ekspansi akuisisi.
"Misal kenapa momentum akusisi, ekspansi, itu muncul sekarang ini, tidak sebelumnya, kan itu jadi pertanyaan lagi," tegasnya.
Sebelumnya beredar kabar bahwa Pertamina akan mencaplok PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Hal itu terlihat dalam salah satu isi dari dokumen 'Pertamina 2025 The Asian Energy Champion 2025'. Adapun tujuan Pertamina mencaplok PTBA, agar Pertamina menjadi perusahaan energi kelas dunia.
Komaidi menambahkan, dalam teori ekonomi, penggabungan dua perusahaan, baru bisa dilakukan manakala ada masalah di salah satu perusahaan.
"Dalam bisnis, ada konsep spesialisasi. Semakin spesial sesuatu dia semakin optimal. Kalau mau ekspansi ke batubara, panas bumi, bisa saja jika sudah ada ruang gerak. Jangan yang satu belum tuntas, menggarap yang lain. Lama-lama tidak dapat semua," jelas dia.
Ia juga mengingatkan, dari sisi teori bisnis, sebuah perusahaan yang akan ekspansi, semua masalah internal harus selesai dulu. Core bisnisnya sudah optimal. "Bisnis minyak belum beres kok mau bisnis lainnya," tutup dia. (Ant/Nrm)