Kelelahan Kronis dan Kabut Otak, Gejala Kecemasan yang Sering Disalahartikan

Banyak gejala kecemasan, seperti kelelahan persisten, gangguan tidur, dan kesulitan konsentrasi, kerap disalahartikan sebagai kelelahan biasa.

oleh Vinsensia DianawantiDiterbitkan 05 Juli 2026, 19:00 WIB
ilustrasi orang yang mengalami stres/copyright freepik.com/freepik

Liputan6.com, Jakarta - Kelelahan yang tak kunjung hilang meski telah beristirahat cukup, atau kesulitan berkonsentrasi yang sering disebut sebagai “kabut otak”, kerap dianggap sebagai bagian dari kesibukan sehari-hari. Namun, kondisi tersebut bisa jadi merupakan sinyal dari kecemasan yang tersembunyi.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak gejala kecemasan yang luput dari perhatian karena disalahartikan sebagai kelelahan fisik atau mental biasa, padahal implikasinya bisa jauh lebih serius. Menurut Serene Mind Counseling, kecemasan dapat menjadi teman yang licik, memengaruhi individu dengan cara yang mungkin tidak mereka sadari.

Kondisi ini, terutama saat menjadi kronis, menempatkan tubuh dalam mode fight-or-flight secara terus-menerus, yang pada akhirnya menguras energi secara signifikan. Natalie Thornhill-Brown, seorang pelatih kesehatan, menjelaskan bahwa berada dalam mode fight-or-flight yang berkelanjutan mirip dengan memiliki terlalu banyak tab yang terbuka di perangkat digital.

Ini menguras daya baterai dengan cepat dan menyebabkan kelelahan ekstrem setelah hormon stres mereda. Respons fight-or-flight ini melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, yang sebenarnya memberikan ledakan energi cepat untuk menghadapi situasi mengancam.

Salah satu manifestasi kecemasan yang paling umum adalah kelelahan yang persisten dan tidak kunjung hilang meski sudah beristirahat. Berbeda dengan kelelahan biasa yang dapat diatasi dengan tidur malam yang nyenyak, kelelahan akibat kecemasan tidak mudah mereda. Sebuah jajak pendapat daring menunjukkan bahwa 97 persen responden melaporkan mengalami kelelahan kronis akibat kecemasan mereka.

Gejala Fisik dan Kognitif Kecemasan yang Menyamar

Kecemasan juga seringkali mengganggu pola tidur, menyebabkan kesulitan untuk memulai tidur, sering terbangun di malam hari, atau tidur yang tidak nyenyak. Pikiran yang terus berpacu dan kekhawatiran yang tak henti membuat otak sulit untuk “dimatikan” saat waktunya beristirahat.

Sebuah studi pada 2019 menemukan bahwa individu dengan insomnia memiliki kemungkinan hampir 10 kali lebih besar mengalami kecemasan klinis dibandingkan mereka yang memiliki kualitas tidur yang baik. Selain itu, kecemasan dapat memicu kelelahan kognitif, yang ditandai dengan kesulitan berkonsentrasi, 'kabut otak', dan penurunan kapasitas pemrosesan informasi. Penelitian mengindikasikan bahwa kelelahan dalam pengambilan keputusan lebih sering terjadi pada orang yang mengalami kecemasan.

Studi yang meneliti gangguan kelelahan terkait stres secara konsisten mengidentifikasi kelelahan kognitif sebagai salah satu gejala yang paling umum dan mengganggu. Jajak pendapat AnxietyCentre.com mencatat bahwa 85 persen orang dengan kecemasan melaporkan kelelahan mental.

Stres dan kecemasan juga dapat menyebabkan otot menegang, yang pada gilirannya memicu kejang otot dan kelelahan terkait. Gejala fisik seperti ketegangan otot, nyeri, dan sakit kepala sering menyertai kondisi kecemasan. Peningkatan detak jantung atau palpitasi jantung juga merupakan pengalaman fisik kecemasan yang umum, bersama dengan sesak atau ketidaknyamanan di dada.

Membedakan Kelelahan Akibat Kecemasan dari Kondisi Lain

Gejala-gejala ini, termasuk detak jantung cepat dan pusing, dapat disalahartikan sebagai serangan panik atau kecemasan umum. Masalah pencernaan seperti sakit perut, kram, kembung, atau diare juga seringkali terkait dengan kecemasan, mengingat kuatnya hubungan antara sistem pencernaan dan kesehatan emosional. Selain itu, pusing atau sakit kepala ringan juga merupakan gejala fisik kecemasan yang kerap disalahartikan.

Para ahli menekankan pentingnya membedakan kelelahan akibat kecemasan dari kelelahan biasa atau kondisi medis lainnya. Kelelahan biasa umumnya membaik dengan istirahat, sementara kelelahan akibat kecemasan cenderung tetap ada atau bahkan memuncak saat beristirahat. Kelelahan biasa terasa berat dan tumpul, sedangkan kelelahan karena kecemasan dapat terasa tegang, mendesak, atau gelisah. Kelelahan akibat kecemasan juga seringkali berfluktuasi, datang dan pergi, atau membaik saat tingkat stres menurun, berbeda dengan kelelahan medis yang cenderung lebih persisten.

Kecemasan dapat menyebabkan kondisi yang disebut “wired and tired”, di mana pikiran terus berpacu namun tubuh terasa lesu. Shikari, seorang ahli, menyatakan bahwa kelelahan adalah tanda dari banyak kondisi berbeda, dan dokter seringkali menyalahkannya pada kecemasan atau depresi karena sifatnya yang samar. Gee menambahkan bahwa keterbatasan waktu dengan pasien dan gejala yang tidak jelas dapat menyebabkan diagnosis kecemasan yang salah.

 

Kapan Saatnya Mencari Bantuan Profesional

Dr. Baraniuk, seorang peneliti ME/CFS (Myalgic Encephalomyelitis/Chronic Fatigue Syndrome) dan GWI (Gulf War Illness), telah lama berpendapat bahwa peneliti kerap melewatkan fokus pada depresi dalam ME/CFS, padahal kecemasan, menurutnya, jauh lebih umum. Kecemasan dan sindrom kelelahan kronis memiliki gejala umum seperti gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan kelelahan fisik.

Jika Anda mengalami kelelahan yang persisten, parah, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, meskipun telah melakukan penyesuaian gaya hidup, sangat disarankan untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental atau dokter. Kelelahan dan kecemasan dapat terkait dengan berbagai penyebab dan kondisi, sehingga penting untuk memeriksakan diri guna menyingkirkan kemungkinan lain. Memahami perbedaan antara kelelahan biasa dan kelelahan akibat kecemasan adalah langkah krusial untuk mendapatkan perawatan yang tepat dan meningkatkan kualitas hidup Anda.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya