Harga Emas Melompat 2% Setelah Data Pekerjaan AS Melemah

Data pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kecil mendorong kenaikan suku bunga akhir 2026 akan lebih kecil. Hal itu menjadi katalis positif bagi harga emas.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 03 Juli 2026, 06:22 WIB
Seorang penjual berjalan melewati kalung emas yang dipajang selama festival Hindu 'Akshaya Tritiya', hari keberuntungan dalam kalender Hindu untuk membeli barang-barang berharga, di ruang pamer perhiasan di Chennai, India. (Arun SANKAR / AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia melanjutkan kenaikan pada Kamis, 2 Juli 2026 (Jumat pagi Jakarta). Harga emas naik lebih dari 2% setelah data nonfarm payrolls Amerika Serikat (AS) lebih lemah dari perkiraan mengurangi harapan kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) pada 2026.

Mengutip CNBC, Jumat, (3/7/2026), harga emas spot naik 2,2% menjadi US$ 4.117,63 per ons. Kontrak berjangka emas AS menguat 1,2% menjadi US$ 4.130,10.

Di sisi lain, indeks dolar AS turun 0,7%, membuat logam yang dihargai dalam dolar AS lebih murah bagi pemegang mata uang lain.

“Angka pekerjaan yang lebih rendah dari perkiraan menunjukkan kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini lebih kecil. Seperti yang kita ketahui, emas cenderung berkinerja lebih baik dalam lingkungan suku bunga lebih rendah,” ujar Direktur High Ridge Futures, David Meger.

"Oleh karena itu, kita melihat reli signifikan di pasar emas sebagai dampaknya,” ia menambahkan.

Laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan ekonomi AS menambah 57.000 pekerjaan bulan lalu, dibandingkan dengan perkiraan ekonom untuk kenaikan 110.000. Tingkat pengangguran berada di 4,2%.

Hal itu menyusul laporan pada Rabu yang menunjukkan penggajian swasta AS meningkat kurang dari yang diharapkan pada Juni.

Pelaku pasar sekarang melihat hampir 51% kemungkinan kenaikan suku bunga pada September, turun dari 66% sebelum data tersebut, menurut alat CME FedWatch.

Pada Rabu, Ketua Fed Kevin Warsh mengatakan, ekspektasi inflasi dan risiko inflasi telah menurun dalam beberapa minggu terakhir. Meskipun ia mengulangi, Fed berkomitmen untuk menurunkan inflasi ke target 2%.

Sementara itu, Dewan Emas Dunia mengatakan bank sentral kembali membeli emas pada Mei dan, berdasarkan data terbaru yang dilaporkan, cadangan emas resmi meningkat bersih sebesar 41 ton selama bulan tersebut.

Di Timur Tengah, Iran dan Amerika Serikat menyelesaikan putaran pembicaraan tidak langsung pada Rabu tanpa tanda-tanda mereka telah mencapai kemajuan menuju perdamaian abadi.

 

Harga Emas Bangkit dari Titik Terendah Didorong Pernyataan Ketua The Fed

Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Sebelumnya, harga emas dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Rabu setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan. Sentimen positif juga datang dari pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, yang menilai risiko inflasi mulai mereda.

Dikutip dari CNBC, Kamis (2/7/2026), harga emas di pasar spot naik 2,1% menjadi US$ 4.089,49 per ounce, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak November 2025. Pada kuartal II 2026, logam mulia tersebut juga mencatatkan kinerja negatif.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,6% ke level US$ 4.103,10 per ounce.

Pedagang logam independen, Tai Wong, mengatakan bahwa pelemahan data tenaga kerja swasta AS menjadi pemicu utama kenaikan harga emas. Di sisi lain, komentar Ketua The Fed mengenai inflasi turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS sehingga meningkatkan daya tarik emas.

"Emas mengalami kenaikan yang cukup baik. Data lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan menjadi pemicu awal, sementara komentar Ketua The Fed bahwa inflasi mulai menurun membuat imbal hasil obligasi turun dan mendorong pasar emas yang sebelumnya lesu kembali bergairah," kata Wong.

Ia menambahkan, harga emas berpotensi membentuk dasar penguatan dalam jangka pendek, kecuali jika laporan ketenagakerjaan nonpertanian (non-farm payrolls/NFP) yang dirilis Kamis nanti menunjukkan hasil yang jauh lebih kuat dari ekspektasi.

 

Risiko Inflasi AS

Ilustrasi harga emas dunia hari ini (Foto By AI)

Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan ekspektasi maupun risiko inflasi dalam beberapa pekan terakhir mulai menurun. Meski demikian, ia kembali menegaskan komitmen bank sentral AS untuk membawa inflasi kembali ke target 2%.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga umumnya mengurangi daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang, berdasarkan alat pemantau CME FedWatch.

Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran juga menggelar pembicaraan teknis di Doha pada Rabu. Kedua negara berupaya mencapai kesepakatan terkait kelancaran pelayaran di Selat Hormuz sekaligus mengamankan gencatan senjata yang berkelanjutan, menurut seorang pejabat Iran.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya