Pernah sekali menyandang gelar sebagai orang paling kaya di Rusia, roda bisnis Mikhail Khodorkovsky harus terhenti karena terbelit kasus penipuan pajak. Total kekayaannya saat itu mencapai US$ 15 miliar atau Rp 183 triliun (kurs: Rp 12.200 per dolar AS).
Saat itu, pengusaha minyak asal Rusia ini bahkan mampu mencatatkan namanya di peringkat 15 besar miliarder terkaya di dunia. Namun sayang, kasus pajak yang menimpa bos Yukos Oil ini menyeretnya ke balik jeruji besi.
Khodorkovsky bersama rekan bisnisnya, Platon Lebedev ditangkap dan terbukti bersalah atas tuduhan mangkir dan penipuan pajak pada 2003. Pria berusia 50 tahun itu akhirnya dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.
Hebatnya, Khodorkovsky tidak frustasi dan putus asa atas kegagalan karirnya. Di dalam penjara dia justru aktif menulis dan banyak berkonsultasi dengan penulis handal di negaranya. Khodorkovsky ternyata memiliki bakat terpendam dan sangat pandai menulis.
Bagaimana lika-liku si raja minyak yang tersandung kasus pajak lantas menemukan bakat terpendamnya? Berikut perjalanan karir Khodorkovsky setelah bisnisnya tenggelam seperti dikutip dari Forbes, Los Angeles Times, dan BBC News, Selasa (4/2/2014):
Saat berbisnis, Khodorkovsky seperti anggota gangster
Saat itu, pengusaha minyak asal Rusia ini bahkan mampu mencatatkan namanya di peringkat 15 besar miliarder terkaya di dunia. Namun sayang, kasus pajak yang menimpa bos Yukos Oil ini menyeretnya ke balik jeruji besi.
Khodorkovsky bersama rekan bisnisnya, Platon Lebedev ditangkap dan terbukti bersalah atas tuduhan mangkir dan penipuan pajak pada 2003. Pria berusia 50 tahun itu akhirnya dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.
Hebatnya, Khodorkovsky tidak frustasi dan putus asa atas kegagalan karirnya. Di dalam penjara dia justru aktif menulis dan banyak berkonsultasi dengan penulis handal di negaranya. Khodorkovsky ternyata memiliki bakat terpendam dan sangat pandai menulis.
Bagaimana lika-liku si raja minyak yang tersandung kasus pajak lantas menemukan bakat terpendamnya? Berikut perjalanan karir Khodorkovsky setelah bisnisnya tenggelam seperti dikutip dari Forbes, Los Angeles Times, dan BBC News, Selasa (4/2/2014):
Saat berbisnis, Khodorkovsky seperti anggota gangster
Mikhail Khodorkovsky merupakan pebisnis asal Rusia yang lahir di Moscow, 26 Juni 1963. Pria berkacamata ini lulus dari Mendeleyev Chemistry Institute dan memulai karirnya sebagai anggota partai komunis di era kerajaan Soviet.
Dia menjalankan bisnis impor komputer di bawah pergerakan partai (Komsomol) pada 1980-an. Pada 1987, dia mendirikan salah satu bank swasta pertama di Rusia, Menatep.
Jutaan dolar berhasil dicetaknya pada awal 1990-an saat bank tersebut mengakuisisi saham-saham dalam jumlah besar dari sejumlah perusahaan yang diprivatisasi dengan harga murah.
Kerajaan bisnisnya, pernah dituding seperti operasi gangster dan dari perusahaan-perusahaan yang diakuisisinya dia merebut berbagai saham dalam jumlah besar.
Pernah jadi orang terkaya di Rusia
Pada 1995, Khodorkovsky mengakuisisi perusahaan minyak, Yukos Oil pada sebuah lelang dengan harga sangat jatuh sebesar US$ 350 juta atau setara Rp 4,27 triliun.
Di bawah tangan Khodorkovsky, Yukos berhasil menjadi perusahaan minyak terbesar kedua di Rusia. Yukos mampu menghasilkan satu dari lima barel minyak yang mampu di produksi negaranya.
Khodorkovsky bahkan pernah menjabat sebagai wakil menteri minyak dan gas (Migas) di bawah Kepresidenan Boris Yeltsin. Dari semua bisnis dan karirnya di bidang politik, Khodorkovsky berhasil menyandang status konglomerat terkaya di Rusia dengan total kekayaan mencapai US$ 15 miliar atau Rp 183 triliun.
Terbelit kasus pajak lalu diseret ke penjara
Pria berusia 50 tahun ini pertama kali ditangkap pada Oktober 2003 bersama rekan bisnisnya, Platon Lebedev atas tuduhan mangkir dan melakukan penipuan pajak. Dia akhirnya terbukti bersalah pada 2005 setelah serangkaian sidang digelar.
Hukumannya cukup berat, dia harus mendekam di penjara selama delapan tahun. Seharusnya, Khodorkovsky bisa bebas pada 2011. Namun pada Desember 2010, kasus lain merebak.
Bersama rekan bisnisnya tersebut, Khodorkovsky kembali terbukti melakukan penggelapan minyak sebesar lebih dari 200 juta ton serta penggelapan pajak. Dia akhirnya harus kembali ke balik jeruji besi selama enam tahun lamanya.
Yukos Oil mengumpulkan berkas kebangkrutannya pada 2006. Ironisnya, saat itu Khodorkovsky tengah menjalani hukuman pertamanya di kamp Siberia, sebuah lokasi pemberian hukuman di era buruh Uni Soviet.
Dia lalu dipindahkan ke sebuah penjara di Karelia dekat perbatasan Finnish. Tidak mudah untuk bersikap tegar bagi Khodorkovsky mengingat uangnya banyak dimanfaatkan politisi Rusia dan dia dibuang begitu saja ke penjara.
Meski demikian, ibunya selalu datang mengunjungi ke penjara setiap tiga bulan sekali. Dia merasa harus memberikan dukungan moril pada sang anak.
Rajin menulis artikel di penjara
Sejak berada dalam penjara pada 2003, Khodorkovsky mulai tekun menulis. Meski terlalu dini untuk menyebutnya penulis handal, tetapi puisi dan artikel-artikelnya sangat memilukan.
Tanpa komputer, bersenjatakan pulpen dan pensil, dia menuliskan kisah hidupnya selama berada di dalam penjara. Artikel pertama yang ditulisnya berjudul `The Crisis of Liberalism in Russia` yang sangat kental dengan nuansa politik.
Sejak saat itu, miliarder tersebut terus menuliskan lebih dari 100 artikel dan beberapa cerita pendek ke sejumlah media di Rusia, bahkan asing. Tak hanya mencurahkan isi pikirannya tentang seluruh tuduhan yang dihujamkan pada dirinya, dia juga menulis tentang berbagai tantangan moral, ekonomi dan politik yang diharapi masyarakat Rusia.
Dalam beberapa minggu saja, Khodorkovsky sudah memiliki kolom sendiri bernama `Prison Folk` di New Times, sebuah majalah politik berpengaruh di Rusia.
Tak hanya politik, dia juga menulis kisah teman-temannya di penjara
Salah satu fakta yang membuat ceritanya semakin menarik adalah saat Khodorkovsky menceritakan kisah nyata tentang Kolya, pria yang tertangkap tangan tengah memegang obat-obatan terlarang. Para penyidik meminta Koyla untuk mengakui perampokan yang sama sekali tidak dilakukannya.
Kolya mau mengakuinya asalkan dia dapat memilih penjara mana yang dia suka dan diperbolehkan untuk bertemu dengan keluarganya. Malang nasib Koyla, setelah dia mengakui kesalahan yang tidak dilakukannya, para penyidik malah memukulinya dan melempar dia ke dalam penjara.
Setidaknya begitulah yang ditulis Khodorkovsky pada salah satu artileknya. Di sana dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana seseorang dihukum untuk kesalahan yang tidak dilakukannya. Selain Koyla, dia juga menulis beberapa cerita tentang rekan satu selnya di penjara.
Khodorkovsky aktif berkomunikasi dengan penulis ternama Rusia Lyudmila Ulitskay yang mengatakan kemampuan menulisnya terus meningkat.
Ajukan pembebasan hukuman karena sang ibu sakit parah
Pada Desember 2013, mantan miliarder yang seharusnya masih mendekam di penjara itu mengajukan surat permohonan pembebasan langsung pada Presiden Rusia Vladimir Putin. Permohonan itu dikabulkan dan Khodorkovsky terbebas dari segala hukuman yang menjeratnya.
Alasan dia mengajukan permohonan tersebut karena ibunya sedang menderita sakit parah. Putin membebaskannya agar dia dapat menjenguk sang ibu yang sedang sakit dan dirawat di Jerman.
Khodorkovsky langsung terbang ke Jerman dan berjanji tidak akan pernah kembali ke Rusia. Namun jika negara membutuhkannya, dia akan mempertimbangkan kembali keputusannya untuk kembali ke tanah kelahirannya. (Sis/Igw)