Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menyebutkan empat tantangan kepala daerah, untuk mengatasinya dengan melakukan kolaborasi dan inovasi.
Bima Arya mengatakan, saat ini kepala daerah mengalami beragam dinamika dan permasalahan dari berbagai sektor.
Advertisement
“Setiap kepala daerah memiliki ujian yang berbeda pada masa kepemimpinannya, mulai dari hantaman pandemi, bencana alam, hingga penyesuaian fiskal,” kata Bima, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Grand City Hall Medan, dikutip Kamis (2/7/2026).
Mantan Wali Kota Bogor tersebut memetakan sedikitnya ada empat tantangan besar yang wajib dikawal oleh seluruh wali kota di Indonesia saat ini. Pertama, dinamika geopolitik global yang berdampak pada stabilitas regional.
Kedua, pengawalan kebijakan strategis nasional agar selaras di tingkat daerah. Ketiga, pemenuhan janji kampanye di tengah keterbatasan anggaran. Keempat, perkembangan algoritma media sosial yang sangat memengaruhi persepsi publik terhadap kinerja pemerintah.
Kendati tantangan tersebut kompleks, Bima Arya optimistis bahwa kunci penyelesaiannya justru berada di tangan para kepala daerah itu sendiri melalui kolaborasi.
"Solusi atas berbagai tantangan itu sesungguhnya ada di daerah. Praktik-praktik terbaik (best practices) ada di lingkungan kawan-kawan kita sendiri," tegas Bima Arya.
Guna menjawab tantangan tersebut, Wamendagri mendorong pemerintah kota untuk tidak ragu melahirkan inovasi, terutama dalam mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ia menyarankan pemanfaatan skema pembiayaan alternatif seperti Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), serta memperkuat city branding sebagai identitas daerah untuk memikat investasi.
Inovasi Digitalisasi
Sejalan dengan arahan Wamendagri, Wali Kota Medan selaku tuan rumah, Rico Waas, mengajak seluruh anggota APEKSI memanfaatkan momentum ini untuk melahirkan langkah konkret yang langsung berdampak bagi masyarakat, bukan sekadar menghasilkan rekomendasi di atas kertas.
"Kami berharap jangan sampai forum ini berakhir di atas kertas atau hanya menjadi wacana. Komitmen yang dibangun harus menjadi aksi nyata dan diimplementasikan di kota masing-masing," ujar Rico.
Pada kesempatan itu, Rico juga langsung memamerkan inovasi digitalisasi perpajakan Restoran bernama QRESTO hasil kolaborasi Pemko Medan, Bank Indonesia, dan Bank Sumut. Sistem ini memotong langsung pajak 10% ke Kas Daerah guna menutup celah kebocoran pajak.
Acara berskala nasional yang mengusung tema "Kota Tangguh, Bangsa Berdaulat" ini turut dihujani gagasan strategis dari para tokoh penting. Di antaranya Gubernur Sumut, Bobby Nasution.
Bobby menyarankan agar ke depan rekomendasi APEKSI tidak hanya ditujukan ke Pemerintah Pusat, melainkan juga ke Pemerintah Provinsi melalui Komisariat Wilayah (Komwil) sebagai mitra strategis daerah.
Ketua Dewan Pengurus APEKSI, Eri Cahyadi, menegaskan roh APEKSI adalah saling membantu. Wali Kota Surabaya ini meminta kota yang memiliki kelebihan inovasi untuk membagikannya agar tidak ada kota yang tertinggal.
Rangkaian Rakernas XVIII APEKSI di Medan ini sendiri berlangsung maraton sejak 28 Juni hingga 4 Juli 2026, yang diisi dengan berbagai sub-kegiatan mulai dari Youth City Changers, Forum Investasi, hingga Indonesia City Expo.