Liputan6.com, Jakarta: Hari ini adalah hari yang paling bersejarah bagi Indonesia. Buat pertama kalinya, rakyat Indonesia memilih presiden dan wakil presiden secara langsung dalam pemilihan umum eksekutif. Berbagai persiapan pun telah dilakukan Komisi Pemilihan Umum, dari logistik pemilu hingga sistem penghitungan suara. Berkaitan dengan hal itu, KPU yakin penghitungan suara pemilihan presiden putaran pertama rampung dalam waktu 11 hari. Itu kalau menggunakan teknologi informasi. Sedangkan bila dilakukan secara manual, penghitungan baru selesai 26 Juli mendatang atau 21 hari setelah pencoblosan. Demikian diungkapkan Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin di Jakarta, Ahad (4/7) malam.
Pada kesempatan terpisah, Ketua Kelompok Kerja Teknologi Informasi KPU Chusnul Mariyah mengatakan, untuk penghitungan sementara tetap menggunakan teknologi informasi. Tapi penghitungan manual juga tetap dilaksanakan [baca: KPU Tetap Menggunakan Sistem TI]. Menurut Chusnul, dari sekitar 8.000 komputer yang dimanfaatkan pada penghitungan suara pemilu legislatif, 30 di antaranya rusak. Namun dia yakin kerusakan perangkat lunak itu tak akan mengganggu proses penghitungan suara. Sebab KPU juga akan menghitung secara manual.
Sementara itu, calon presiden dari Partai Amanat Nasional Amien Rais mengimbau masyarakat untuk mewaspadai adanya praktik politik uang menjelang pencoblosan atau dikenal dengan istilah "serangan fajar". Amien juga membawa setumpuk bukti adanya praktik politik uang yang akan diserahkan ke KPU dan Panitia Pengawas Pemilu.
Satu hari menjelang pencoblosan, KPU Jakarta terus menggelar sosialisasi pemilu presiden dengan membagikan 11 ribu stiker tata cara pencoblosan. Kegiatan dilakukan di sejumlah tempat keramaian seperti terminal dan pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.
Anggota KPU DKI Hamid Darnadi menjelaskan, selain diberikan kepada warga stiker juga banyak ditempel di badan bus. Tapi striker tak boleh ditempel di dinding terminal karena dianggap mengotori fasilitas umum tersebut.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)
Pada kesempatan terpisah, Ketua Kelompok Kerja Teknologi Informasi KPU Chusnul Mariyah mengatakan, untuk penghitungan sementara tetap menggunakan teknologi informasi. Tapi penghitungan manual juga tetap dilaksanakan [baca: KPU Tetap Menggunakan Sistem TI]. Menurut Chusnul, dari sekitar 8.000 komputer yang dimanfaatkan pada penghitungan suara pemilu legislatif, 30 di antaranya rusak. Namun dia yakin kerusakan perangkat lunak itu tak akan mengganggu proses penghitungan suara. Sebab KPU juga akan menghitung secara manual.
Sementara itu, calon presiden dari Partai Amanat Nasional Amien Rais mengimbau masyarakat untuk mewaspadai adanya praktik politik uang menjelang pencoblosan atau dikenal dengan istilah "serangan fajar". Amien juga membawa setumpuk bukti adanya praktik politik uang yang akan diserahkan ke KPU dan Panitia Pengawas Pemilu.
Satu hari menjelang pencoblosan, KPU Jakarta terus menggelar sosialisasi pemilu presiden dengan membagikan 11 ribu stiker tata cara pencoblosan. Kegiatan dilakukan di sejumlah tempat keramaian seperti terminal dan pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.
Anggota KPU DKI Hamid Darnadi menjelaskan, selain diberikan kepada warga stiker juga banyak ditempel di badan bus. Tapi striker tak boleh ditempel di dinding terminal karena dianggap mengotori fasilitas umum tersebut.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)