Pemimpin Redaksi Star Weekly, Auw Jong Peng Koen atau Petrus Kanisius Ojong, dipanggil seorang pejabat. Seluruh isi kantor tegang. Beberapa jam kemudian, Ojong muncul dan berujar dalam bahasa Belanda: "Wij zijn dood" atau "kita mati". Semua kaget dan terdiam.
Ada beberapa versi sebab pembredelan. Versi terkuat, menurut Tan Hian Lay, wakil pemimpin redaksi Star Weekly, majalah itu ditutup karena rubrik Tinjauan Luar Negeri yang terlalu kerap menyentil pemerintah.
Star Weekly terakhir terbit pada 7 Oktober 1961. Tirasnya 60 ribu. Saat Ojong didapuk menjadi pemimpin redaksi, pada 1951, oplagnya baru 15 ribu.
Ojong sendiri selalu menyesalkan jika ada koran yang dibredel, tak peduli meski koran tersebut berbeda ideologi dengannya. Saat Suluh Marhaen diberangus, tak lama setelah G30S, Ojong menulis di Kompas, "Di setiap edisi itu nama penanggung jawabnya tercantum hitam di atas putih. mengapa bukan mereka (dua orang itu) yang diadili dan kemudian dihukum?"
Ojong bekerja di Star Weekly sejak berdirinya majalah tersebut pada 1946. Saat itu ia masih berstatus mahasiswa Rechts Hoge School, yang kini menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Isi Star Weekly cukup bervariasi: tinjauan dalam negeri, luar negeri, cerita silat, cerita detektif, laporan perjalanan, komik, juga cerita pendek. Terbit setiap Sabtu.
Pada awalnya, media itu hanya ditujukan untuk komunitas Tionghoa. Saat diserahkan ke Ojong, Star Weekly sudah lebih luas lingkup pembacanya. Pada April 1958, misalnya, Star Weekly menerbitkan edisi khusus Idul Fitri. Ojong menulis artikel "Islam dan Kita." Di sana, ia mengritik gejala eksklusifitas golongan.
Ada beberapa versi sebab pembredelan. Versi terkuat, menurut Tan Hian Lay, wakil pemimpin redaksi Star Weekly, majalah itu ditutup karena rubrik Tinjauan Luar Negeri yang terlalu kerap menyentil pemerintah.
Star Weekly terakhir terbit pada 7 Oktober 1961. Tirasnya 60 ribu. Saat Ojong didapuk menjadi pemimpin redaksi, pada 1951, oplagnya baru 15 ribu.
Ojong sendiri selalu menyesalkan jika ada koran yang dibredel, tak peduli meski koran tersebut berbeda ideologi dengannya. Saat Suluh Marhaen diberangus, tak lama setelah G30S, Ojong menulis di Kompas, "Di setiap edisi itu nama penanggung jawabnya tercantum hitam di atas putih. mengapa bukan mereka (dua orang itu) yang diadili dan kemudian dihukum?"
Ojong bekerja di Star Weekly sejak berdirinya majalah tersebut pada 1946. Saat itu ia masih berstatus mahasiswa Rechts Hoge School, yang kini menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Isi Star Weekly cukup bervariasi: tinjauan dalam negeri, luar negeri, cerita silat, cerita detektif, laporan perjalanan, komik, juga cerita pendek. Terbit setiap Sabtu.
Pada awalnya, media itu hanya ditujukan untuk komunitas Tionghoa. Saat diserahkan ke Ojong, Star Weekly sudah lebih luas lingkup pembacanya. Pada April 1958, misalnya, Star Weekly menerbitkan edisi khusus Idul Fitri. Ojong menulis artikel "Islam dan Kita." Di sana, ia mengritik gejala eksklusifitas golongan.
Kutipannya: "...masing-masing balik kembali pada titik pusat lingkaran sendiri-sendiri, balik pada ego masing-masing, di mana kita merasa autarkis, dan maka itu puas dan aman, dengan perbendaharaan kata-kata, bahasa, logat, surat kabar, kebudayaan dan literatur tersendiri pula."
Sebagai peranakan Tionghoa, Ojong mendukung pembaruan atau asimilasi. Itu semua seharusnya berlangsung secara alamiah dan sukarela. Pernikahan antargolongan dianjurkan tapi jangan dipaksakan.
Di Star Weekly edisi 26 Maret 1960, Ojong menulis, "Orang boleh 1.000 kali menganjurkan untuk bersikap anti-asimilasi, tapi asimilasi akan berjalan terus. Karena proses itu proses wajar. Proses itu hanya bisa ditahan lagi kalau kita kembali ke zaman kolonial...kalau kita kembali mengirim anak-anak kita entah ke HIS, entah ke HCS...kembali menjadi eksklusif rasial yang memecah-belah dari pemerintah kolonial."
Ojong lahir pada 25 Juli 1920 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Ayahnya, Auw Jong Pauw, adalah petani di Pulau Quemoy (kini wilayah Taiwan). Karena memimpikan kehidupan yang lebih baik, ia merantau ke Nusantara, tepatnya ke Sumatera Barat. Jong Pauw lantas menjadi juragan tembakau.
Setelah lulus dari SD dan MULO di Payakumbuh dan Padang, Ojong merantau ke Jakarta untuk menempuh pendidikan lanjutan. Lulus dari Sekolah Guru Atas Negeri di Jatinegara, Ojong sempat menjadi guru Hollandsch Chieneesche Broederschool di Mangga Besar, Jakarta Barat.
Bersama Jakob Oetama, ia menerbitkan majalah Intisari pada 1963. Lalu, dua tahun kemudian, mereka menerbitkan Kompas--koran terbanyak pembacanya di Indonesia sampai saat ini.
Ojong meninggal dunia pada 31 Mei 1980, diduga akibat serangan jantung, saat sedang membaca buku sambil berbaring di kamarnya. Ia meninggalkan Catherine Oei Kian Kiat, sang istri, dan 6 anaknya.
Dalam ingatan almarhum Mochtar Lubis, Ojong adalah sosok dengan takaran rasa simpati pada orang lain yang amat besar. "Jika mendengar ada kawan yang sakit, air mukanya segera menunjukkan keprihatinan," tulis jurnalis legendaris dan pendiri koran Indonesia Raya itu dalam buku PK Ojong: Hidup Sederhana, Berpikir Mulia karya Helen Ishwara.
Sesaat setelah Indonesia Raya dibredel pada 1974, Ojong mendatangi Mochtar dan bertanya apa yang dapat dibantunya. Ketika sejumlah mantan wartawan dan karyawan Indonesia Raya mendirikan sebuah usaha, kata Mochtar, Ojong memberikan pinjaman keuangan dalam jumlah yang lumayan besar.
Ketika Mochtar dan sejumlah sastrawan membangun majalah budaya Horison, Ojong sejak awal memberikan bantuan, sering dalam bentuk uang. "...tanpa bantuannya...majalah ini tidak akan dapat panjang umur seperti sekarang," tulis Mochtar.
Sosiolog Arief Budiman mengaku mengetahui kiprah Ojong saat duduk di SMA. Saat itu, ia menggemari tulisan-tulisan Ojong tentang Perang Dunia II dan laporan perjalanannya ke Eropa.
Arief kemudian mengirimkan terjemahan novel Albert Camus, L'Etranger, ke redaksi Star Weekly. Redaksi menolaknya dengan alasan terlalu "berat" untuk pembaca mereka.
Tapi, Ojong mengajak kakak Soe Hok Gie itu untuk ngobrol. Ojong penasaran saat mengetahui ada siswa SMA menerjemahkan karya filsuf eksistensialis Prancis tersebut.
"Hari itu merupakan hari yang saya banggakan. Saya bercerita ke teman-teman, yang juga penggemar Pak Ojong bahwa Pak Ojong adalah 'teman' saya. Saya lihat betapa mereka menjadi iri kepada saya," kata pria kelahiran 1941 itu.
Pada 1972, Arief ditahan rezim Orde Baru sebagai aktivis politik. Dalam esai di Kompas, Ojong mengecam penahanan itu sebagai tak berperikemanusiaan. Sebuah pilihan yang bukan tanpa risiko di era Orde Baru.
"Ketika saya keluar dari tahanan, baru saya tahu tulisan Pak Ojong ini. Saya hampir menangis karena terharu," tulis Arief di PK Ojong: Hidup Sederhana Berpikir Mulia. (Yus)