Penjualan Toyota Anjlok 4 Bulan Berturut-turut

Berdasarkan laporan penjualan global Mei 2026, Toyota berhasil menjual sebanyak 898.721 unit, atau turun 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu

oleh Arief AszhariDiterbitkan 01 Juli 2026, 19:03 WIB
Meski optimis penjualannya akan terdongkrak di Tanah Air, Toyota justru ragu dengan pasar Thailand.

Liputan6.com, Jakarta - Toyota kembali mengalami penurunan penjualan dalam empat bulan berturut-turut. Meski masih jadi produsen mobil terbesar di dunia, namun performa perusahaan asal Jepang ini tergerus dengan melemahnya permintaan di sejumlah pasar, terutama di China, Amerika Serikat, dan Timur Tengah.

Berdasarkan laporan penjualan global Mei 2026, yang disitat dari Carscoops, Toyota berhasil menjual sebanyak 898.721 unit, atau turun 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Jika digabungkan dengan merek Lexus, Daihatsu, dan Hino, total penjualan grup Toyota mencapai 955.532 unit. Kondisi tersebut membuat penjualan global Toyota terus berada di jalur negatif sejak Februari 2026.

China menjadi salah satu penyumbang terbesar penurunan tersebut. Penjualan Toyota di Negeri Tirai Bambu anjlok 31,7 persen, menjadi hanya 102.299 unit.

Persaingan yang semakin ketat dari produsen mobil lokal, khususnya di segmen mobil listrik dan hybrid plug-in (PHEV), membuat posisi Toyota semakin tertekan.

Di sisi lain, pasar Amerika Serikat juga mencatat penurunan tipis sebesar 0,6 persen menjadi 238.800 unit. Sedangkan di kawasan Timur Tengah mengalami kontraksi paling dalam hingga 38,6 persen.

Di tengah penurunan penjualan, Toyota masih mampu mempertahankan permintaan yang kuat untuk model hybrid di beberapa negara.

Namun, hal tersebut belum cukup mengimbangi melemahnya performa di pasar-pasar utama.

Produksi Toyota juga Merosot

Situasi ini juga diperparah oleh tingginya harga bahan bakar di sejumlah wilayah, serta kondisi pasar otomotif global yang masih penuh tantangan.

Tak hanya penjualan, produksi global Toyota juga mengalami penurunan. Perusahaan mengakui bahwa perubahan jadwal produksi sejumlah model, serta penyesuaian kapasitas di beberapa fasilitas manufaktur turut memengaruhi total kapasitas.

Meski begitu, Toyota tetap optimistis permintaan terhadap kendaraan elektrifikasi, terutama hybrid, masih akan menjadi salah satu penopang bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya