Harga Perak Antam Hari Ini Turun Rp 100

Berikut harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di tengah koreksi harga perak dunia pada Rabu, (1/7/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 01 Juli 2026, 12:00 WIB
Harga perak (Ilustrasi perak-silver by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun pada Rabu, (1/7/2026). Harga perak Antam hari ini mengikuti harga perak dunia dan harga emas Antam.

Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam turun Rp 100 menjadi Rp 39.200. Pada perdagangan kemarin, harga perak Antam dipatok Rp 39.300 per gram.

Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram, dan perak butiran murni 99,95%. Harga perak batangan 250 gram dipatok 10.325.000 per gram, harga perak batangan 500 gram dibanderol Rp 19.725.000 per gram.

Sementara itu, mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia turun 1,19% menjadi US$ 57,81.

Harga perak turun di bawah US$ 58 per ons pada Rabu, merosot menuju level terendah dalam tujuh bulan. Hal ini karena data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kuat menekankan ketahanan ekonomi dan memperkuat ekspektasi Federal Reserve (the Fed) akan menaikkan suku bunga tahun ini.

Laporan JOLTS terbaru menunjukkan lowongan pekerjaan naik ke level tertinggi dua tahun, sementara analis memperkirakan peningkatan yang solid lainnya dalam data penggajian non-pertanian bulan Juni.

Sementara itu, angka inflasi inti baru-baru ini tetap jauh di atas target 2% Fed. Pasar sekarang memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga Fed tahun ini, dengan yang pertama berpotensi terjadi paling cepat pada September.

Investor juga menunggu perkembangan dari pembicaraan perdamaian AS-Iran yang sedang berlangsung di Qatar di tengah harapan akan kesepakatan gencatan senjata yang langgeng, meskipun kedua pihak diperkirakan tidak akan mengadakan pembicaraan langsung.

Harga Emas Dunia

Seorang karyawan memegang beberapa perhiasan emas di sebuah toko perhiasan. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Sebelumnya, harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa, 30 Juni 2026 (Rabu pagi Jakarta). Harga emas berada di jalur penurunan kuartalan paling tajam dalam 13 tahun seiring kekhawatiran inflasi yang berasal dari konflik Timur Tengah memperkuat harapan the Federal Reserve (the Fed) dapat menaikkan suku bunga.

Mengutip CNBC, Rabu, (1/7/2026), harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 4.008,94 per ons setelah mencapai level terendah sejak November. Harga emas merosot 11,3% pada Juni 2026.

Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman Agustus merosot 0,4% menjadi US$ 4.022,70 per ons.

Di antara logam lainnya, harga perak turun 0,8% menjadi US$ 58.2585 per ons. Harga perak menuju penurunan kuartalan terburuk sejak kuartal pertama 2020.

Harga platinum merosot 0,7% menjadi US$ 1.564,34 dan paladium naik 0,2% menjadi US$ 1.215,94. Dua logam itu berada di jalur untuk mencatat penurunan bulanan dan kuartalan.

Adapun logam mulia menuju penurunan kuartalan pertama sejak 2024, dan koreksi paling tajam sejak kuartal Juni 2013.

Meskipun emas biasanya dilihat sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani logam yang tidak memberikan imbal hasil ini.

"Pasar agak gelisah tentang seberapa stabil [nota kesepahaman] tersebut dan ada tekanan pada emas karena orang-orang tidak melihat banyak harapan di ujung terowongan,” ujar analis Marex, Edward Meir.

 

 

Sentimen Harga Emas Lainnya

Ilustrasi harga emas hari ini (dok: Foto AI)

Seorang pejabat Qatar menuturkan, para utusan utama AS yang telah tiba di Doha tidak akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Iran.

Hal itu menimbulkan keraguan tentang kemajuan upaya untuk menghentikan perang Iran secara permanen.

Sementara itu, inflasi AS tetap tinggi dan jauh di atas target 2% Federal Reserve (the Fed). Pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lama dan bahkan mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut, kata Meir, mencatat bahwa ekspektasi ini membebani harga emas.

Para pedagang memperkirakan sekitar 65% kemungkinan kenaikan suku bunga pada September, menurut alat CME FedWatch. Investor kini mengamati data ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis pada hari Rabu dan data penggajian non-pertanian AS yang akan dirilis pada Kamis untuk mengukur lebih lanjut sikap kebijakan moneter The Fed.

Sementara itu, survei OMFIF menunjukkan bank sentral lebih cenderung mengurangi eksposur dolar AS selama dekade berikutnya karena meningkatnya kekhawatiran geopolitik, sambil meningkatkan kepemilikan emas dalam jangka pendek.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya