Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Sentuh Rp 64.250 per Kg

Berikut daftar lengkap harga pangan termasuk cabai pada Rabu, (1/7/2026).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 01 Juli 2026, 09:44 WIB
Ilustrasi harga pangan (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Harga pangan seperti komoditas cabai rawit merah tembus Rp 64.250 per kilogram (kg) pada Rabu, (1/7/2026) pukul 08.38 WIB. Sementara itu, harga telur ayam ras mencapai Rp 29.400 per kg.

Demikian ditunjukkan berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional dikutip dari Antara.

BACA JUGA: Harga Pangan Ikut Merosot?

Selain itu, harga cabai merah besar menyentuh Rp 52.200 per kg, cabai merah keriting Rp 52.000 per kg, dan cabai rawit hijau Rp 50.050 per kg.

Adapun harga pangan lain di tingkat pedagang eceran secara nasional lainnya yaitu bawang merah mencapai Rp 49.150 per kg dan bawang putih tembus Rp 44.400 per kg.

Di sisi lain, beras kualitas bawah I di harga Rp 14.700 per kg, beras kualitas bawah II Rp 14.500 per kg. Sedangkan beras kualitas medium I Rp 16.300 per kg, dan beras kualitas medium II di harga Rp 16.100 per kg. Selanjutnya, beras kualitas super I di harga Rp 17.600 per kg, dan beras kualitas super II Rp 17.100 per kg.

Kemudian daging ayam ras segar Rp 37.050 per kg, daging sapi kualitas I Rp 149.900 per kg, daging sapi kualitas II di harga Rp 140.800 per kg.

Harga komoditas berikutnya yakni gula pasir kualitas premium tercatat Rp 20.300 per kg, gula pasir lokal Rp 19.050 per kg.

Sementara itu, minyak goreng curah di harga Rp 20.650 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I di harga Rp 24.300 per liter, serta minyak goreng kemasan bermerek II di harga Rp 23.500 per liter.

Harga Minyakita Tak Naik Meski CPO Melambung

Produk MinyaKita. (Foto: Bapanas)

Sebelumnya, Pemerintah memastikan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita tetap dipertahankan di level Rp 15.700 per liter, meski harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di pasar global mengalami kenaikan.

Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan minyak goreng tetap terjangkau.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, hingga saat ini pemerintah belum memiliki rencana menaikkan HET Minyakita.

"Sampai sekarang tidak naik. Jadi sesuai hasil rapat itu kan dengan beberapa pertimbangan," kata Budi dikutip dari Antara, Selasa (30/6/2026).

Menurut Budi, keputusan mempertahankan harga Minyakita merupakan bentuk perlindungan pemerintah terhadap konsumen di tengah meningkatnya harga bahan baku minyak goreng.

Ia menjelaskan, penyesuaian harga minyak goreng tidak bisa diputuskan secara sepihak karena harus mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kondisi petani kelapa sawit, biaya produksi, distribusi, hingga kemampuan daya beli masyarakat.

"Saya sampaikan banyak pertimbangan ya. Tadi dari sisi produknya, artinya dari petaninya. Kemudian dari biaya distribusi, juga dari konsumen," ujarnya.

Karena itu, pemerintah memilih mempertahankan HET Minyakita sambil terus memantau perkembangan harga CPO dan kondisi pasar.

 

Biaya Produksi Alami Tekanan

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari. Dok Bakom

Sebelumnya, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga harga Minyakita tetap berada di level Rp 15.700 per liter meski biaya produksi mengalami tekanan akibat kenaikan harga minyak sawit dunia.

Menurut Qodari, ketersediaan minyak goreng dengan harga yang terjangkau menjadi salah satu perhatian utama Presiden Prabowo Subianto.

"Bagi Presiden Prabowo, yang utama adalah tersedianya minyak goreng dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia," ujar Qodari dalam keterangannya.

Ia menambahkan pemerintah memahami bahwa harga kebutuhan pokok selalu menjadi perhatian masyarakat. Oleh sebab itu, menjaga stabilitas harga Minyakita dinilai penting untuk mempertahankan daya beli sekaligus mengendalikan inflasi pangan.

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berharap masyarakat tetap dapat memperoleh minyak goreng dengan harga yang terjangkau, sementara keseimbangan antara kepentingan petani, pelaku usaha, distributor, dan konsumen tetap terjaga di tengah dinamika harga CPO di pasar global.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya