Setelah Matcha, Ube Jadi Tren Kuliner Baru yang Bikin Keranjingan

Berbeda dengan matcha, rasa ube dinilai bisa diterima lidah lebih banyak orang.

oleh Asnida RianiDiterbitkan 02 Juli 2026, 05:00 WIB
Satu porsi "Ooh BAE Pancakes," yaitu pancake ube dengan krim garam laut dan sirup kelapa, disajikan di restoran Breaking Dawn di Los Gatos, California, pada 4 Agustus 2024. (AP Photo/Terry Tang)

Liputan6.com, Jakarta - Baru beberapa tahun terakhir, matcha telah mendominasi dunia kuliner modern. Minuman, kue, serta berbagai makanan penutup berlomba menghadirkan warna khas dari bubuk teh Jepang tersebut. Kini, perhatian pencinta kuliner mulai beralih ke warna lain yang tak kalah mencuri mata: ungu pekat dari ube.

Di berbagai kafe kota besar, melansir Euronews, Selasa, 30 Juni 2026, ube mulai muncul dalam bentuk latte, es krim, kue, dan aneka hidangan penutup. Warna ungunya yang khas membuat makanan dan minuman berbahan ube terlihat berbeda, sekaligus menarik untuk dibagikan di media sosial.

Namun, daya tariknya bukan sekadar soal tampilan. Umbi berwarna ungu ini membawa cerita panjang dari Asia Tenggara, khususnya Filipina, tempat ube telah menjadi bagian dari budaya makan masyarakat selama berabad-abad.

Ube atau yang dibaca "oo-beh" merupakan jenis yam yang banyak tumbuh di Filipina. Masyarakat setempat telah lama mengolahnya sebagai bahan makanan sehari-hari, seperti halnya penggunaan ubi di berbagai negara lain.

Meski memiliki penampilan yang mirip dengan ubi jalar ungu, ube dan ubi jalar sebenarnya berasal dari keluarga tanaman yang berbeda. Ube termasuk kelompok yam, sementara ubi jalar ungu berasal dari kelompok tanaman yang berbeda secara botani.

Umbi ini memiliki warna alami yang beragam, mulai dari ungu tua hingga lavender cerah. Di pasar internasional, ube lebih sering dijual dalam bentuk puree, bubuk, pasta, atau sirup agar lebih mudah digunakan dalam berbagai resep.

Visual Baru, Rasa Familiar

Sebuah tart crème brûlée, yang terbuat dari custard lemon kayu manis, selai stroberi jambu biji, streusel kelapa macadamia, dan ube espuma (busa ubi ungu), ditampilkan di restoran Abaca di San Francisco, 29 Mei 2023. (AP Photo/Jeff Chiu)

Salah satu alasan ube semakin populer adalah rasanya yang mudah diterima banyak orang. Ube memiliki cita rasa lembut dengan sentuhan kacang, vanila, dan pistachio, serta rasa manis alami yang mengingatkan pada ubi atau wortel matang.

Karakter tersebut membuat ube memiliki keunggulan dibandingkan beberapa tren makanan sebelumnya. Jika matcha dikenal dengan rasa khas yang sedikit pahit dan tidak selalu cocok untuk semua orang, ube menawarkan rasa yang lebih familiar sejak pertama kali dicoba.

Popularitas ube kemudian berkembang di dunia patiseri. Para pembuat kue mulai menggunakannya untuk menghadirkan warna alami sekaligus rasa berbeda pada berbagai produk, seperti makaroni, cheesecake, chiffon cake, dan es krim.

Tren tersebut semakin terlihat melalui kemunculan ube latte. Sejumlah jaringan kedai kopi mulai menghadirkan minuman berbahan ube sebagai pilihan baru bagi konsumen yang mencari pengalaman berbeda.

Ube latte biasanya dibuat dengan mencampurkan bubuk atau pasta ube bersama air panas, kemudian menambahkan susu dan espresso. Dalam versi dingin, warna ungu yang kontras membuat minuman ini menjadi daya tarik visual yang kuat, terutama bagi pengguna media sosial. 

Kandungan Alami

Kobe the Ube menjadi produk cookies yang diminati oleh para pelanggan karena rasanya yang tidak terlalu manis. credit: instagram.com/kukkinoki.

Selain tampil menarik, ube juga mendapat perhatian karena kandungan alaminya. Warna ungu pada umbi ini berasal dari antosianin, pigmen tumbuhan yang memiliki sifat antioksidan. Ube juga mengandung serat, vitamin A, vitamin C, vitamin E, kalium, dan tembaga.

Meski demikian, tren global terhadap ube membawa tantangan tersendiri. Lonjakan permintaan terhadap bahan pangan tertentu dapat memengaruhi pola produksi di daerah asalnya.

Britta Klein dari Federal Centre for Nutrition mengingatkan bahwa popularitas makanan yang meningkat cepat dapat memberikan tekanan terhadap petani. "Setiap kali sebuah makanan tiba-tiba mengalami peningkatan permintaan besar, hal itu dapat mengganggu struktur pertanian yang telah terbentuk," ujarnya.

Menurut Klein, tren yang diperkuat media sosial dapat mengubah sistem produksi secara cepat. Dalam kasus ube, meningkatnya permintaan internasional mulai mendorong perluasan budidaya di Filipina, serta sejumlah wilayah Asia dan Afrika. 

Kehidupan Baru

Berbagai pilihan muffin mochi tersedia di Third Culture Bakery di Berkeley, California, 19 Agustus 2021, mulai dari kue ube hingga muffin mochi. (AP Photo/Eric Risberg)

Di luar Asia, ube masih tergolong bahan pangan yang belum mudah ditemukan. Konsumen biasanya mendapatkannya dalam bentuk bubuk, ekstrak, atau pasta melalui toko bahan makanan Asia.

Beberapa kafe mulai menawarkan menu berbahan ube, tapi distribusinya belum seluas bahan pangan populer lainnya. Perjalanan ube menjadi tren global memperlihatkan bagaimana makanan tradisional dapat menemukan kehidupan baru melalui kreativitas kuliner dan perubahan gaya hidup.

Seperti matcha sebelumnya, ube tidak hanya hadir sebagai rasa baru, tapi juga membawa cerita tentang budaya dan perjalanan sebuah bahan pangan dari ladang hingga meja makan. Di balik warna ungunya yang mencolok, ube menyimpan kisah tentang bagaimana selera dunia terus berkembang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya