Liputan6.com, Ramallah - Pada 1 Juli 1994, pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Yasser Arafat, untuk pertama kalinya kembali ke wilayah Palestina setelah menjalani pengasingan selama 27 tahun. Kepulangannya menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam konflik Israel-Palestina sekaligus menandai dimulainya pemerintahan sendiri Palestina di Jalur Gaza.
Arafat memasuki Jalur Gaza melalui perlintasan Rafah dari Mesir dengan mengenakan seragam militer khas dan keffiyeh yang menjadi ciri khasnya. Sebelum berangkat dari Kairo bersama Presiden Mesir saat itu, Hosni Mubarak, ia mengungkapkan rasa harunya.
Advertisement
"Saya kembali ke tanah Palestina merdeka pertama. Anda dapat membayangkan betapa hal itu menggerakkan hati dan perasaan saya," ujar Arafat, dikutip dari BBC, Rabu (1/7/2026).
Kembalinya Arafat berlangsung di bawah pengamanan ketat. Israel menggelar salah satu operasi keamanan terbesar sejak kunjungan Presiden Mesir Anwar Sadat ke Yerusalem pada 1977, menyusul kekhawatiran akan kemungkinan serangan dari kelompok garis keras Israel maupun Palestina yang menolak proses perdamaian.
Setelah melintasi perbatasan, Arafat dikawal pasukan keamanan Palestina menuju Kota Gaza. Rute perjalanannya sempat diubah karena adanya ancaman dari kelompok pemukim Israel di kawasan Kfar Darom.
Kunjungan tersebut berlangsung sebulan setelah Israel dan PLO menandatangani Perjanjian Kairo, yang memberikan kewenangan pemerintahan sendiri secara terbatas kepada Palestina di Jalur Gaza dan Kota Yerikho, Tepi Barat. Kesepakatan itu merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Oslo yang ditandatangani pada 1993.
Di Kota Gaza, Arafat disambut ratusan ribu warga Palestina. Ia kemudian menyampaikan pidato dari balkon bekas markas gubernur militer Israel di Lapangan Parlemen, yang dipadati sekitar 200.000 pendukungnya.
Meski mulai memimpin pemerintahan sendiri Palestina, Arafat menegaskan bahwa Yerusalem tetap menjadi bagian penting dari perjuangan rakyat Palestina. Namun, dalam agenda kunjungan perdananya selama tiga hari, ia hanya mengunjungi Gaza dan Yerikho tanpa memasuki Yerusalem.
Di sisi lain, kepulangan Arafat juga memicu penolakan. Demonstrasi yang menentang kehadirannya digelar di Yerusalem dan sejumlah wilayah lain oleh kelompok yang menolak proses perdamaian antara Israel dan Palestina.
Kepulangan Arafat pada 1994 menjadi tonggak penting dalam sejarah modern Palestina. Meski proses perdamaian yang diharapkan kemudian menghadapi berbagai hambatan, momen tersebut menandai berakhirnya hampir tiga dekade pengasingan pemimpin PLO dan dimulainya babak baru pemerintahan Palestina di sebagian wilayah yang sebelumnya diduduki Israel.