Liputan6.com, Lima - Keiko Fujimori memenangkan pemilihan presiden Peru dengan selisih tipis. Presiden terpilih dari kubu konservatif itu berjanji memulihkan ketertiban dan harapan di tengah meningkatnya aksi kejahatan terorganisasi serta ketidakstabilan politik yang telah lama melanda negaranya.
Kemenangan tersebut juga menandai kembalinya keluarga Fujimori ke kursi kepresidenan setelah lebih dari dua dekade sejak tumbangnya pemerintahan mendiang Alberto Fujimori. Rekam jejak dan warisan politik Alberto, yang pernah dipenjara atas kasus pelanggaran hak asasi manusia, hingga kini masih memecah belah masyarakat Peru.
Advertisement
Berdasarkan hasil akhir penghitungan suara, Keiko mengalahkan kandidat sayap kiri Roberto Sanchez pada putaran kedua pemilihan presiden yang digelar 7 Juni. Ia unggul kurang dari 50.000 suara dari lebih dari 18 juta suara yang masuk.
"Setiap hari kita semakin dekat untuk memulai perjalanan menuju ketertiban dan harapan bagi seluruh rakyat Peru," tulis Keiko melalui akun X setelah resmi dinyatakan sebagai pemenang.
Perempuan berusia 51 tahun itu akhirnya terpilih sebagai presiden setelah empat kali mencalonkan diri.
Keiko akan memimpin Peru di tengah tantangan besar. Negara itu tengah menghadapi maraknya aksi pemerasan oleh geng kriminal, meningkatnya kasus pembunuhan bayaran, serta krisis politik yang berkepanjangan. Dalam satu dekade terakhir, Peru telah mengalami pergantian delapan presiden.
Menghadapi situasi tersebut, Keiko berjanji akan menerapkan pendekatan yang tegas, seperti yang pernah dilakukan ayahnya saat memimpin Peru.
"Ia akan memerintah dengan baik karena memiliki program yang bagus. Ia punya gagasan yang baik untuk membawa Peru menjadi lebih baik," kata Jenny Martinez, pedagang berusia 40 tahun di Lima seperti dilaporkan CNA.
Alberto Fujimori memimpin Peru pada 1990 hingga 2000. Ia sempat dipuji karena berhasil menumpas pemberontakan kelompok Maois dan mengendalikan hiperinflasi. Namun, ia kemudian lengser dari kekuasaan, hidup di pengasingan, dan akhirnya dipenjara atas kasus korupsi serta kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan dalam operasi pemberantasan pihak-pihak yang ia sebut sebagai teroris.
Hingga hasil resmi diumumkan, Sanchez belum memberikan tanggapan.
Sebelumnya, Sanchez sempat memimpin perolehan suara selama proses penghitungan. Namun, Keiko kemudian menyalip dan mempertahankan keunggulannya hingga dinyatakan sebagai pemenang.
Sanchez juga sebelumnya menyatakan tidak akan mengakui pemerintahan yang dipimpin Keiko. Ia menuding terdapat ketidakteraturan administratif dalam penanganan suara pemilih di luar negeri.
Kenangan Kelam
Keiko dijadwalkan dilantik sebagai presiden pada 28 Juli untuk masa jabatan lima tahun.
Ia menjadi pemimpin terbaru di Amerika Latin yang berhasil meraih kursi kepresidenan di tengah menguatnya sentimen politik sayap kanan dan kemarahan publik terhadap meningkatnya angka kejahatan. Sebelumnya, tren serupa juga terjadi di Kolombia, Bolivia, Ekuador, dan Cile.
Pada Senin (29/6), Keiko mengakui Peru saat ini berada dalam kondisi yang terbelah.
"Kami memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan semua pihak. Pintu dialog terbuka bagi siapa pun," ujarnya, merujuk kepada Sanchez dan kelompok-kelompok politik di kubu kiri.
Selama ini Keiko dikenal sebagai politikus yang konfrontatif. Namun, sepanjang masa kampanye ia berupaya membangun citra yang lebih moderat.
Dengan penampilan rapi, setelan celana yang menjadi ciri khasnya, dan senyum yang selalu mengembang, Keiko tumbuh di lingkungan yang akrab dengan para kepala negara.
Ia menjadi ibu negara pada usia 19 tahun setelah ibunya secara terbuka berpisah dengan Alberto Fujimori. Setelah itu, Keiko menempuh pendidikan administrasi bisnis di Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun, nama besar Fujimori menjadi keuntungan sekaligus beban politik baginya. Nama tersebut memberinya tingkat pengenalan publik yang tinggi, basis pendukung yang loyal, serta jaringan politik yang kuat. Di sisi lain, nama itu juga memunculkan penolakan dari banyak kalangan.
Jutaan warga Peru masih menyimpan kenangan pahit terhadap pemerintahan Alberto Fujimori dan menolak memberikan suara kepada siapa pun yang menyandang nama Fujimori. Penolakan itulah yang menggagalkan langkah Keiko menuju kursi kepresidenan dalam tiga pemilihan sebelumnya.
Para pengkritiknya juga menilai Keiko dan partainya menjadi salah satu penyebab ketidakstabilan politik di Peru. Mereka menyoroti besarnya pengaruh Fuerza Popular di Kongres yang dinilai turut memicu gejolak politik di negara tersebut.