Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) mempercepat kesiapan infrastruktur untuk mendukung pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan distribusi biosolar B50 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi nasional.
Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan mengatakan, kesiapan Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda menjadi salah satu langkah mendukung implementasi avtur ramah lingkungan sekaligus menjaga keandalan pasokan energi sektor penerbangan.
Advertisement
“Kesiapan infrastruktur dan SDM untuk implementasi SAF sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian energi nasional dan mengurangi ketergantungan energi impor,” kata Iriawan kepada wartawan, Selasa (30/6/2026).
Iriawan meninjau, Integrated Terminal Surabaya yang disebut telah siap mendukung distribusi biosolar B50 menjelang peluncuran program tersebut. Ia juga mendorong terminal itu menjadi percontohan pengembangan energi hijau di lingkungan Pertamina.
Selain pengembangan bahan bakar rendah emisi, Iriawan meminta optimalisasi digitalisasi operasional melalui Pertamina Integrated Command Center (PICC) dan Terminal Automation System untuk meningkatkan efisiensi distribusi serta memperkuat ketahanan pasokan energi nasional.
Ia juga menekankan, pentingnya menjaga keandalan infrastruktur dan keselamatan kerja di tengah percepatan transisi energi.
“Kedaulatan energi yang sejati adalah ketika kita mampu berdiri di atas kaki sendiri, mengolah apa yang dikaruniai Tuhan di bumi Nusantara ini menjadi energi bersih bagi masa depan bangsa. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang menggantungkan nasibnya pada belas kasihan pasar global," ujar dia.
Mengenal B50, BBM Baru Berbahan Sawit yang Diluncurkan 1 Juli 2026
Sebelumnya, Pemerintah akan meluncurkan biodiesel B50 pada Rabu (1/7/2026) sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Program yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan biodiesel dengan campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit untuk berbagai moda transportasi.
Lantas, apa sebenarnya B50?
B50 merupakan bahan bakar diesel yang terdiri atas 50 persen solar dan 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME), yakni biodiesel yang diolah dari minyak nabati, terutama minyak kelapa sawit. Program ini merupakan kelanjutan dari implementasi B35 dan B40 yang telah lebih dahulu diterapkan pemerintah.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pengembangan B50 merupakan hasil perjalanan panjang riset biodiesel Indonesia selama sekitar 15 tahun.
"Tentu saja program B50 ini sudah mempunyai sejarah yang panjang sejak 15 tahun yang lalu, dan kali ini kita membuktikan di dunia bahwa B50 itu hanya ada di Indonesia. Kita saat ini capaiannya sudah nomor 1 di dunia," ungkap Eniya belum lama ini.
Menurut dia, hingga saat ini belum ada negara lain yang menerapkan biodiesel B50 di sektor transportasi. Karena itu, Indonesia harus menyusun sendiri seluruh standar dan prosedur teknis tanpa memiliki acuan dari negara lain.
"Bahkan tidak ada lagi rujukan-rujukan teknis yang bisa kita akses. Jadi tidak ada contohnya. Ini yang membuat kebanggaan bagi kita sendiri," katanya.
Uji Coba Sejak 2025
Sebelum diterapkan secara nasional, pemerintah telah melakukan serangkaian uji coba B50 sejak 9 Desember 2025 pada berbagai jenis kendaraan dan alat berat. Pengujian dilakukan pada mobil penumpang, truk, alat berat pertambangan, kapal, kereta api hingga alat pertanian.
Menurut Eniya, hasil pengujian menunjukkan performa B50 justru melampaui standar yang ditetapkan produsen kendaraan.
"Di otomotif kita sudah lihat kemarin dari hasil target 50.000 km dan ada juga 40.000 km. Di situ semua pengujian di atas saran dari pabrikan. Jadi, misalnya filter harus diganti di 10.000. Nah, ternyata kemarin 30.000 aja belum ganti," ungkapnya.
Ia menjelaskan kualitas FAME yang digunakan pada B50 kini lebih baik dibandingkan saat implementasi B40 karena memiliki kandungan air (water content) yang lebih rendah.
"Jadi spesifikasi FAME untuk campuran ke B50 itu lebih bagus daripada yang kemarin, yang spek 40. Karena water content-nya lebih kecil lagi," kata Eniya.
Selain itu, B50 juga telah diuji pada kondisi suhu rendah di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Hasilnya, mesin kendaraan tetap dapat dihidupkan dengan cepat.
"Nah kemarin cold start engine saya di Bromo itu sudah bagus. Kurang dari 1 detik, bahkan 0,8 detik," ujarnya.
Tidak Ada Rujukan di Dunia
Keberhasilan pengujian tersebut menjadi dasar pemerintah memberlakukan mandatori B50 mulai 1 Juli 2026. Menurut Eniya, apabila biodiesel mampu bekerja optimal pada kendaraan dengan putaran mesin tinggi (high speed engine), maka penerapannya pada mesin berputaran rendah seperti kereta api maupun generator listrik akan lebih mudah.
"Intinya kalau high speed engine itu berhasil, bisa muter, bisa jalan, berarti yang lambat lebih mudah lagi gitu. Sehingga kita berkesimpulan bisa dimandatorikan di 1 Juli," ujarnya.
Eniya juga mengungkapkan bahwa hasil uji coba B50 di Indonesia mulai mendapat perhatian berbagai negara. Pasalnya, hingga kini belum ada referensi global mengenai implementasi biodiesel dengan komposisi campuran setinggi itu.
"Pengujian B50 ini tidak ada rujukan di dunia, sehingga kita benar-benar terbuka untuk teman-teman yang melakukan pengujian. Termasuk di perkeretaapian ini kan belum ada referensinya," katanya.
Melalui implementasi B50, pemerintah berharap konsumsi solar impor dapat terus ditekan, penggunaan energi terbarukan semakin meningkat, serta nilai tambah industri sawit nasional ikut terdongkrak. Program ini juga menjadi salah satu langkah menuju target swasembada energi yang dicanangkan pemerintah dalam beberapa tahun ke depan