Liputan6.com, Jakarta - Tiga hari berlalu sejak balita I (4) meninggal dunia setelah terjatuh di lubang proyek pembangunan Lapangan Multifungsi Taman RW 04 di Jalan Manggarai Utara II, Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.
Bagi AB, sang ayah, suara putranya yang saat kejadian memanggil meminta pertolongan masih terus terngiang. Air mata AB bahkan terus mengalir kala mengingat kejadian itu.
Advertisement
Di rumah duka, Selasa (30/6/2026), AB berulang kali mengingat momen ketika putranya masih bisa bersuara dari dasar lubang yang sempit dan dalam. Dalam kepanikan, ia hanya bisa terus memanggil nama anaknya sambil mencari cara untuk menjangkaunya.
"Dia teriak-teriak manggil ayah, ayah terus saya senter. Dia di bawah gelap begitu. Minta senter masih kedengeran dia teriak-teriak, manggil-manggil," kata AB dengan suara lirih.
Saat itu, ia sudah berusaha melakukan apa pun agar putranya tetap merespons. AB juga meminta anak sulungnya mencoba menjangkau sang adik karena tubuhnya sendiri tak mungkin masuk ke dalam lubang kecil berukuran sekitar 15-30 sentimeter itu.
“Saya sampai paksa anak saya yang pertama coba menolong, mukanya sampai lecet tapi tidak bisa. Saya juga mau menolong tapi badan saya enggak muat,” ucapnya.
Janji Ajak Bermain ke Ancol
Di tengah kepanikan itu, AB terus berbicara kepada putranya. Ia berusaha menenangkan sang anak sambil meyakinkannya bahwa pertolongan akan segera datang.
“Ayah nanti masuk ke dalam ya, Ayah nanti angkut. Nanti kalau Ayah angkut kita pergi keluar ke Ancol. Main jalan-jalan kan mau liburan,” kata AB.
Beberapa jam sebelumnya, AB tak pernah menyangka bahwa hari itu akan menjadi pertemuan terakhir bersama buah hatinya.
Menurut dia, O dan kakak-kakaknya, serta anak-anak lainnya di lingkungan itu memang biasa main di lokasi tersebut saat waktu sore hingga malam. Terlebih, rata-rata warga di lokasi itu berjualan makanan dan minuman.
AB bercerita, kabar anaknya terperosok ke dalam lubang proyek tersebut didapati tak lama usai ditinggal buang air kecil. Kendati saat tiba di lokasi, ia masih mendengar suara putranya dari dalam lubang, namun ruang yang sempit membuat upaya penyelamatan tidak bisa dilakukan dengan mudah.
Meski berbagai cara telah dicoba bersama warga dan petugas, AB hanya bisa pasrah menunggu proses evakuasi yang berlangsung selama berjam-jam.
Kenangan Bersama Balita I
Kini, yang tersisa bagi AB adalah kenangan tentang anaknya yang mulai belajar berbicara dan selalu ingin berada di dekat ayahnya.
“Dia anak yang paling aktif, paling beda dengan anak saya yang lainnya,” ujar AB.
Di tengah duka mendalam yang menyelimuti keluarganya, AB dan keluarga berusaha untuk menerima kepergian putranya sebagai ketetapan Tuhan.
Bagi AB, suara lirih buah hati yang memanggil namanya saat kejadian akan menjadi kenangan yang tak pernah hilang sepanjang hidupnya.
“Saya juga tidak menginginkan kejadian ini terjadi karena umur kita di tangan Allah, garis takdir,” kata dia.