Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Senin setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu lonjakan harga minyak. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi sehingga memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Dikutip dari CNBC, Selasa (30/6/2026), harga emas di pasar spot turun 1,7% menjadi US$ 4.019,79 per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 1,4% ke level US$ 4.038,90 per ons. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh titik terendah dalam lebih dari tujuh bulan.
Advertisement
Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan bahwa pelaku pasar masih sangat mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah.
"Pasar saat ini sangat mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah. Ketegangan memang kembali meningkat pada akhir pekan, sementara pelaku pasar juga masih menyesuaikan diri dengan sikap Federal Reserve yang kini cenderung lebih agresif dalam kebijakan moneternya," kata Peter Grant.
Menurutnya, meningkatnya ketegangan geopolitik pada akhir pekan membuat pasar kembali berhati-hati. Di saat yang sama, investor juga masih menyesuaikan diri dengan sikap Federal Reserve yang cenderung lebih agresif dalam kebijakan moneternya.
Aset Safe Haven Terkikis Harga Energi
Ketegangan meningkat setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Minggu. Serangan itu terjadi tidak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan kepemimpinan Iran apabila negara tersebut tidak mematuhi ketentuan dalam perjanjian damai yang sedang dirundingkan.
Meningkatnya eskalasi konflik tersebut langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent di pasar global.
Di satu sisi, emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven yang biasanya diburu investor saat ketidakpastian geopolitik meningkat. Namun kali ini, lonjakan harga energi akibat konflik justru memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut meningkatkan peluang suku bunga tetap tinggi atau bahkan kembali dinaikkan. Situasi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Federal Reserve sendiri pada bulan ini mempertahankan suku bunga acuannya. Meski demikian, para pembuat kebijakan memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini karena inflasi masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%.
Penguatan Dolar AS
Selain itu, dolar AS juga berada di jalur penguatan bulanan terbesar dalam hampir satu tahun terakhir. Menguatnya dolar membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaannya berpotensi melemah.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi penting AS, yakni laporan ketenagakerjaan versi ADP yang akan dirilis pada Rabu serta data nonfarm payrolls pada Kamis. Kedua data tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Peter Grant menilai data ketenagakerjaan yang tetap kuat berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap harga emas.
"Harga emas masih berpotensi turun ke level terendah yang baru apabila data ketenagakerjaan AS kembali menunjukkan hasil yang kuat. Kondisi itu akan semakin mendukung pandangan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama," tambah Grant.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada September mencapai sekitar 60%.
Sementara itu, logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan. Harga perak spot turun 1,21% menjadi US$ 58,4467 per ons. Platinum melemah 1,88% menjadi US$ 1.584,00 per ons, sedangkan palladium turun tipis 0,07% ke level US$ 1.208,28 per ons.