Israel Berpacu Menangkal Ancaman Drone FPV Hizbullah

Drone murah berbasis fiber-optik menghadirkan tantangan baru bagi sistem pertahanan Israel.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 30 Juni 2026, 07:00 WIB
Warga menyaksikan seorang pekerja kota mengemudikan buldoser untuk membersihkan puing-puing dari jalan di lokasi serangan Israel di Tyre, Lebanon Selatan, pada Kamis 28 Mei 2026. (KAWANT HAJU/AFP)

Liputan6.com, Tel Aviv - Drone first-person view (FPV) berbasis fiber-optik milik Hizbullah melintas tanpa terdeteksi di langit Lebanon selatan dan Israel utara. Dari udara, drone-drone kecil itu membidik berbagai sasaran, mulai dari titik lemah tank Merkava milik Israel, baterai pertahanan udara Iron Dome, hingga sekelompok tentara Israel yang lengah.

Rekaman yang diambil drone bermuatan peledak tersebut memperlihatkan bagaimana satu per satu drone menemukan lalu menghantam targetnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, drone FPV berbasis fiber-optik menjadi salah satu senjata andalan Hizbullah dalam menghadapi Israel. Senjata ini mampu menembus sistem pertahanan canggih Israel dengan mengadopsi taktik perang asimetris yang pertama kali berkembang dalam perang Rusia-Ukraina.

Sedikitnya 12 tentara Israel tewas akibat serangan drone Hizbullah sejak konflik kembali memanas pada Maret lalu. Jumlah itu mencakup sekitar sepertiga dari seluruh korban jiwa tentara Israel di Lebanon. Situasi tersebut membuat militer Israel berpacu mencari cara untuk menghadapi ancaman baru ini.

Berbeda dengan drone yang sebelumnya digunakan Hizbullah, drone FPV berbasis fiber-optik—yang ukurannya kerap tak lebih besar dari piring makan—jauh lebih sulit dideteksi. Keunggulannya terletak pada gulungan kabel fiber-optik tipis sepanjang beberapa kilometer yang menghubungkan drone dengan operatornya. Karena tidak memancarkan sinyal radio, drone ini sangat sulit dideteksi sekaligus tidak dapat dilumpuhkan melalui sistem peperangan elektronik.

"Ancaman drone memang menjadi tantangan, tetapi kami akan mengatasinya," kata Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir bulan lalu seperti dilaporkan CNN.

Menurut dia, berbagai "solusi operasional dan teknologi" tengah dikembangkan dan mulai diterapkan.

Israel Berpacu Cari Penangkal

Laboratorium di Rumah Sakit Jabal Amel rusak, menyusul serangan udara Israel pada Senin (1/6) yang menghantam gedung di dekatnya, di kota pelabuhan selatan Tyre, Lebanon, Selasa 2 Juni 2026. (AP Photo/Mohammed Zaatari)

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) lebih dulu memasang jaring pelindung seluas ratusan ribu meter persegi untuk melindungi pasukan di Lebanon selatan dan pangkalan militer di Israel utara. Jaring tersebut dirancang untuk menangkap drone sebelum mencapai sasaran.

Selain itu, IDF membekali tentaranya dengan senapan laras pendek (shotgun) dan amunisi fragmentasi yang dapat digunakan untuk menembak jatuh drone dari jarak dekat.

Namun, perlengkapan tersebut hanya akan efektif jika para tentara lebih dulu mengetahui bahwa drone sedang mendekat.

Hingga kini, IDF belum mengungkapkan apakah mereka telah meningkatkan kemampuan mendeteksi dan melacak drone jenis tersebut. Meski demikian, militer Israel telah menggandeng perusahaan teknologi dan industri pertahanan swasta untuk mengembangkan sekaligus menerapkan sistem penangkal yang lebih efektif.

Bulan lalu, sejumlah perusahaan berkumpul bersama pejabat militer untuk mencari solusi atas persoalan yang dinilai mendesak. Di antara mereka terdapat pengembang sensor nonfrekuensi radio untuk mendeteksi drone fiber-optik, serta perusahaan yang mengembangkan teknologi guna mencegat dan melumpuhkan drone sebelum mencapai sasaran.

Salah satu perusahaan yang terlibat adalah Airwayz. Direktur Teknologi (Chief Technology Officer) sekaligus salah satu pendirinya, Shai Kurianski, mengatakan perusahaannya mengembangkan perangkat lunak untuk mengelola ruang udara di ketinggian rendah sekaligus mendeteksi potensi ancaman. Teknologi tersebut sebelumnya digunakan Kepolisian Miami untuk membantu mengamankan sebuah stadion Piala Dunia FIFA dari ancaman drone.

Menurut para ahli, drone fiber-optik Hizbullah sangat sulit dideteksi sehingga diperlukan beberapa jenis sensor yang bekerja secara bersamaan agar ancaman dapat dikenali secara akurat. Sensor tersebut antara lain berupa sistem optik, akustik, radar, dan laser.

Airwayz menyatakan sistemnya mampu menggabungkan data dari berbagai sensor sehingga dapat dengan cepat membedakan drone milik sendiri dan drone yang menjadi ancaman.

"Sebagian besar peringatan yang diterima para tentara baru muncul ketika mereka mendengar suara drone mendekat. Saat itu mereka hanya memiliki waktu sekitar tiga hingga empat detik," tutur Kurianski.

"Kalau mereka mendapat peringatan 20 atau 30 detik lebih awal, hasilnya akan sangat berbeda."

"Kami Tidak Akan Tinggal Diam"

Seorang warga melemparkan puing-puing dari sebuah apartemen di sebuah gedung yang rusak akibat serangan Israel di kota pelabuhan Tyre, Lebanon Selatan, Kamis 18 Juni 2026. (AP Photo/Hassan Ammar)

Seperti banyak pelaku industri teknologi di Israel, Kurianski mengaku terdorong oleh rasa mendesak karena tentara Israel dinilai masih belum memiliki perlindungan yang memadai terhadap ancaman baru dari Hizbullah.

"Anak-anak kami yang bertugas di Lebanon menjadi sasaran drone FPV bermuatan peledak itu. Kami tidak akan tinggal diam," ujarnya.

Di balik rasa mendesak tersebut, banyak warga Israel juga merasa frustrasi karena militer dinilai kurang siap menghadapi ancaman yang sebenarnya sudah diperkirakan sejak lama.

Drone fiber-optik pertama kali muncul di medan perang Ukraina sekitar dua tahun lalu. Pejabat Ukraina mengatakan mereka telah memperingatkan Israel mengenai ancaman tersebut, bahkan menawarkan bantuan untuk menyiapkan langkah antisipasi sebelum drone murah yang hanya berharga sekitar US$ 300 hingga US$ 400 per unit itu digunakan oleh musuh-musuh Israel.

"Kami tidak melihat adanya ketertarikan atau kemauan yang besar dari kepemimpinan Israel di bidang ini," ungkap Duta Besar Ukraina untuk Israel Yevgen Korniychuk kepada situs berita Israel, Ynet, pada Mei lalu.

"Saya tidak ingin berspekulasi mengenai alasannya. Saya sering mendengar rasa frustrasi karena Israel kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa tentaranya."

Ancaman tersebut kini semakin nyata setelah Hizbullah mengunggah puluhan video yang memperlihatkan drone mereka berhasil menyusup ke pangkalan dan posisi militer Israel, lalu menyerang tentara Israel di lapangan.

Sejumlah pejabat militer Israel, baik yang masih aktif maupun yang telah pensiun, juga mengakui bahwa Israel memang belum siap menghadapi ancaman drone tersebut.

Brigadir Jenderal (Purn.) Yaron Rosen, mantan Kepala Staf Siber IDF, mengatakan militer Israel "benar-benar kewalahan" menghadapi banyaknya ancaman dan berbagai medan operasi yang harus ditangani secara bersamaan.

"Semua orang mengatakan, 'Ini pasti akan datang.' Namun tidak ada yang benar-benar tahu kapan, sementara perhatian kami tersita oleh banyak persoalan lain, terutama Iran," kata Rosen, yang kini juga menjabat sebagai Ketua Eksekutif (Executive Chairman) Airwayz.

Menurut dia, IDF kini "melakukan segala yang bisa dilakukan" untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Ia berharap efektivitas drone Hizbullah akan mengalami "penurunan tajam" dalam beberapa bulan mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya