Liputan6.com, Jakarta - Harga emas diperkirakan masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin hari ini. Prospek positif tersebut didukung kombinasi sinyal teknikal yang mulai membaik dan sejumlah sentimen fundamental yang masih berpihak pada logam mulia.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengatakan bahwa tekanan jual yang sempat mendominasi pasar mulai mereda. Pada grafik timeframe H4, harga emas berhasil membentuk area support yang cukup kuat sehingga membuka peluang berlanjutnya tren kenaikan dalam jangka pendek.
Advertisement
Terbentuknya area support menunjukkan bahwa tekanan dari pelaku pasar yang ingin menjual mulai berkurang, sementara minat beli perlahan meningkat. Selain itu, harga emas juga membentuk pola valid swing low, yang dalam analisis teknikal kerap menjadi sinyal awal bahwa tren naik masih berpotensi berlanjut.
"Struktur harga saat ini mulai mengarah ke tren yang lebih positif. Selama area support tetap terjaga, peluang kenaikan masih cukup terbuka," ujar Geraldo dikutip Senin (29/6/2026).
Ia memperkirakan target kenaikan terdekat berada di level 4.095. Jika harga mampu menembus area tersebut dengan dukungan volume pembelian yang kuat, maka emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju level resistance berikutnya di kisaran 4.144.
Analisis Teknikal
Dari sisi indikator teknikal, Stochastic memang telah memasuki area overbought atau jenuh beli. Meski demikian, indikator tersebut belum memperlihatkan sinyal pelemahan ataupun pembalikan arah yang signifikan.
Kondisi tersebut menunjukkan momentum kenaikan masih cukup kuat sehingga peluang emas untuk melanjutkan reli dalam jangka pendek tetap terbuka.
Meski begitu, investor tetap diminta mewaspadai pergerakan harga saat mendekati area resistance. Jika tekanan jual meningkat di level tersebut, harga emas berpotensi mengalami koreksi sementara sebelum kembali menentukan arah pergerakan berikutnya.
Selain faktor teknikal, prospek emas juga didukung kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi, meningkatnya tensi geopolitik, hingga volatilitas pasar keuangan mendorong investor mencari instrumen yang dinilai lebih aman.
Dalam situasi seperti itu, emas masih menjadi salah satu aset safe haven favorit karena dinilai mampu mempertahankan nilai investasi ketika kondisi ekonomi dan pasar sedang bergejolak.
Pelemahan Dolar dan Suku Bunga The Fed
Faktor lain yang berpotensi menopang harga emas adalah pelemahan dolar Amerika Serikat. Ketika nilai tukar dolar melemah, harga emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaannya cenderung meningkat.
Di sisi lain, pasar juga mulai mencermati peluang perubahan arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve. Jika ekspektasi penurunan suku bunga kembali menguat, tekanan terhadap dolar AS dapat berkurang dan memberikan ruang bagi harga emas untuk melanjutkan kenaikan.
Prospek positif emas juga didukung potensi penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield). Ketika imbal hasil obligasi menurun, biaya peluang untuk berinvestasi di emas menjadi lebih rendah sehingga minat investor terhadap logam mulia biasanya meningkat.
Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu memantau sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, seperti inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan aktivitas bisnis. Data tersebut akan menjadi acuan bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga, yang pada akhirnya turut memengaruhi pergerakan dolar AS maupun harga emas.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai tren harga emas masih cenderung positif. Selama area support mampu dipertahankan dan sentimen global tetap mendukung, emas diperkirakan berpeluang menguji level USD$ 4.095 dan melanjutkan penguatan menuju USD$ 4.144.