NASA Gelar Misi Penyelamatan Teleskop Swift agar Tak Jatuh ke Bumi

Misi ini menjadi uji coba pertama di AS untuk menaikkan kembali orbit teleskop yang terus kehilangan ketinggian.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 29 Juni 2026, 10:35 WIB
Peneliti utama LINK Kieran Wilson (kiri) dan insinyur sistem antariksa Hunter Robertson dari Katalyst Space berpose di samping wahana LINK menjelang uji vakum termal di NASA Goddard Space Flight Center, Maryland, 17 April 2026. (Dok. Sophia Roberts/NASA via AP)

Liputan6.com, Washington, DC - NASA tengah berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan teleskop antariksa Swift yang terus kehilangan ketinggian orbit agar tidak jatuh kembali ke Bumi.

Upaya penyelamatan senilai US$ 30 juta itu dijadwalkan dimulai paling cepat pekan ini melalui peluncuran sebuah wahana robotik.

NASA menggandeng perusahaan rintisan Katalyst Space Technologies untuk menaikkan orbit Swift agar teleskop itu dapat terus beroperasi. Misi tersebut akan menggunakan wahana robotik yang diluncurkan dengan roket Pegasus dari Kepulauan Marshall, Samudra Pasifik. Setelah mencapai orbit, wahana itu akan mendekati Swift dan membawanya ke orbit yang lebih tinggi. Peluncuran dijadwalkan paling cepat pada Selasa (30/6).

Swift telah mengamati ruang angkasa sejak diluncurkan pada 2004. Namun, dalam beberapa waktu terakhir teleskop itu kehilangan ketinggian orbit semakin cepat akibat meningkatnya aktivitas Matahari. Karena itu, Swift harus segera dipindahkan ke orbit yang lebih tinggi dan lebih stabil agar tetap dapat beroperasi.

Ancaman serupa juga membayangi Teleskop Antariksa Hubble milik NASA.

Seperti Swift, Hubble juga terus kehilangan ketinggian orbit akibat meningkatnya aktivitas Matahari. CEO Katalyst Space Ghonhee Lee mengatakan robot generasi berikutnya yang sedang dikembangkan perusahaannya berpotensi menyelamatkan Hubble yang berukuran jauh lebih besar dalam beberapa tahun mendatang.

Sejauh ini, baru China yang pernah menjalankan misi serupa. Empat tahun lalu, China berhasil memindahkan sebuah satelit ke orbit yang diperuntukkan bagi satelit yang sudah pensiun. 

"Ini adalah robot antariksa pertama milik AS yang menjalankan misi seperti ini," kata Lee kepada Associated Press.

"NASA memiliki banyak observatorium antariksa yang sudah berusia tua. Semuanya bisa mendapatkan manfaat dari layanan seperti ini. Misi ini membuktikan bahwa kini ada cara baru untuk memperpanjang masa operasional satelit dan teleskop di luar angkasa."

Wahana otonom bernama LINK diperkirakan mencapai Swift sekitar satu bulan setelah diluncurkan. Dalam sekitar dua bulan berikutnya, wahana itu akan memindahkan Swift dari orbit setinggi sekitar 360 kilometer di atas permukaan Bumi ke orbit sekitar 600 kilometer di atas permukaan Bumi.

Agar penyelamatan bisa dilakukan, Swift harus tetap berada di atas ketinggian 300 kilometer. Berdasarkan perkiraan terbaru, teleskop itu diperkirakan mencapai batas tersebut pada Oktober.

LINK berukuran kurang lebih sebesar kulkas rumah tangga dengan bentangan panel surya sepanjang 12 meter. Wahana ini memiliki tiga lengan yang masing-masing dapat menjangkau lebih dari 1 meter. Di ujung setiap lengan terdapat dua penjepit kecil yang bentuknya menyerupai tangan mini figur Lego.

"Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, Swift diperkirakan dapat kembali beroperasi pada September," tutur Lee.

 

Misi Berisiko Tinggi

Swift yang bernilai ratusan juta dolar AS sejak awal tidak dirancang untuk diperbaiki, apalagi ditangkap kembali oleh tangan manusia maupun robot. Itulah yang membuat misi ini sangat menantang. Pihak Katalyst pun mengakui tidak ada jaminan operasi tersebut akan berhasil.

Saat menandatangani kontrak dengan Katalyst pada September tahun lalu, NASA hanya mengajukan dua syarat: pekerjaan harus diselesaikan secepat mungkin, tetapi misi itu tidak boleh memperburuk kondisi Swift. Sembilan bulan kemudian, perusahaan tersebut menyatakan siap menjalankan misinya.

"Saya harus jujur. Tidak ada yang mengira ini mungkin dilakukan. Tidak ada yang menyangka kami bisa melangkah sejauh yang telah kami capai hari ini," ujar Direktur Astrofisika NASA Shawn Domagal-Goldman.

Untuk memperlambat penurunan orbit Swift, NASA juga telah mematikan seluruh instrumen ilmiahnya. Seluruh kegiatan pengamatan dihentikan sejak Februari.

Kepala Direktorat Misi Sains NASA Nicky Fox mengatakan upaya tersebut layak dilakukan.

"Jika kami membiarkan Swift masuk kembali ke atmosfer, kami akan kehilangan teleskop itu. Kami juga akan kehilangan banyak kemampuan ilmiah," ujarnya.

"Saat ini kami tidak memiliki anggaran untuk membangun teleskop penggantinya."

Menurut Domagal-Goldman, tidak semua objek di luar angkasa bisa diselamatkan. Namun, Swift merupakan pengecualian.

Sesuai namanya, Swift dirancang agar dapat bergerak cepat mengarahkan teleskopnya ke berbagai peristiwa astronomi yang baru terdeteksi, seperti semburan sinar gamma maupun ledakan bintang. Dengan semakin banyaknya penemuan yang diperkirakan akan dihasilkan Teleskop Antariksa Webb dan Teleskop Antariksa Roman yang akan segera diluncurkan, Swift akan semakin dibutuhkan sebagai teleskop yang pertama diterjunkan NASA untuk mengamati berbagai fenomena tersebut.

Katalyst melihat misi Swift sebagai langkah awal membangun bisnis perbaikan satelit di luar angkasa. Robot penyelamat generasi berikutnya dijadwalkan terbang tahun depan dan akan menangani satelit di orbit setinggi 35.800 kilometer.

Lee membayangkan suatu hari nanti akan ada ratusan robot yang bekerja di orbit untuk memperbaiki satelit, menaikkan kembali orbitnya, mengisi ulang bahan bakarnya, hingga membantu membangun pembangkit listrik tenaga surya, pusat data, dan berbagai fasilitas lainnya di luar angkasa.

Hubble yang kini telah berusia 36 tahun sebelumnya beberapa kali menjalani perbaikan oleh astronaut pada era pesawat ulang-alik. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, teleskop itu bisa menjadi proyek berikutnya yang mendapat dorongan ke orbit lebih tinggi pada 2028 untuk memperpanjang masa operasionalnya.

"Ini adalah harta nasional," ungkap Fox. "Orang-orang mencintai Hubble."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya