Iran Peringatkan Kapal Patuhi Rute Pelayaran di Selat Hormuz

Situasi di Selat Hormuz kembali tegang setelah beberapa hari terakhir cukup tenang.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 29 Juni 2026, 07:17 WIB
Matahari terbit di balik kapal tanker yang berlabuh di Selat Hormuz di lepas pantai Pulau Qeshm, Iran, Sabtu, 18 April 2026. (AP Photo/Asghar Besharati)

Liputan6.com, Teheran - Diplomat tertinggi Iran pada Minggu (28/6) memperingatkan bahwa setiap upaya kapal-kapal menghindari jalur pelayaran yang ditetapkan Teheran di Selat Hormuz hanya akan memperburuk ketegangan di Timur Tengah. Peringatan itu disampaikan ketika pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan di kawasan jalur pelayaran strategis tersebut.

Rangkaian serangan terbaru ini kembali menunjukkan rapuhnya kesepakatan yang dimediasi Pakistan untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel pada Februari lalu. Konflik tersebut sempat mengganggu arus pelayaran di Selat Hormuz sekaligus mengguncang pasar energi global.

Meski gencatan senjata mulai berlaku sejak April, bentrokan sporadis masih terus terjadi di kawasan Teluk. Kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz pun kerap menjadi pemicu meningkatnya ketegangan.

Pada Minggu dini hari, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengumumkan telah menyerang 10 sasaran militer Iran sebagai respons atas "agresi Iran yang terus berlanjut terhadap pelayaran komersial".

Iran kemudian mengklaim telah membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain. Kuwait maupun Bahrain mengecam serangan tersebut.

Saat ini, Iran mewajibkan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menggunakan koridor pelayaran yang berada dekat dengan wilayah pantainya. Namun, dalam sepekan terakhir puluhan kapal justru memilih berlayar di sisi berlawanan, menyusuri perairan dekat pantai Oman.

"Setiap upaya untuk menerapkan pengaturan baru atau berbeda dari yang saat ini diberlakukan oleh Republik Islam Iran hanya akan membuat situasi semakin rumit, menunda pembukaan kembali Selat Hormuz, dan meningkatkan ketegangan," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi seperti dikutip dari CNA.

"Saya mendesak semua pihak... untuk mematuhi nota kesepahaman tersebut dan tidak membiarkan MoU ini menyimpang dari jalurnya."

Korps Garda Revolusi Iran pada Minggu menyatakan telah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz. Mereka juga menegaskan kapal-kapal yang melanggar ketentuan tersebut akan ditindak lebih tegas dibanding sebelumnya.

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, menulis di platform X bahwa selama Iran mengendalikan Selat Hormuz, "impian hegemonik" Washington di kawasan tidak akan terwujud.

Dalam nota kesepahaman yang disepakati bulan ini untuk mengakhiri perang secara permanen, Iran menyetujui pemberian jalur aman bagi kapal-kapal komersial tanpa pungutan selama 60 hari untuk pelayaran dari Teluk Persia menuju Laut Oman maupun sebaliknya melalui Selat Hormuz.

 

Trump Kembali Ancam Iran

Para pengamat memperkirakan insiden di Selat Hormuz masih akan terus terjadi.

Menurut HA Hellyer dari lembaga kajian Royal United Services Institute (RUSI) di London, negosiasi yang berlarut-larut disertai tekanan yang tetap terkendali di Selat Hormuz dapat menguntungkan Iran.

Kesepakatan yang ditandatangani AS dan Iran menyatakan kedua negara beserta sekutu masing-masing tidak akan memulai perang maupun operasi militer terhadap satu sama lain, serta akan menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekuatan.

Meski demikian, sejak kesepakatan itu berlaku, kedua negara saling menuding telah melanggar gencatan senjata yang masih rapuh tersebut.

Presiden Donald Trump pada Sabtu (27/6) mengatakan Iran "tidak akan lagi ada" apabila AS terpaksa kembali melancarkan perang terhadap negara itu.

"Pesawat AS baru saja menghantam lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta lokasi radar pesisir karena kembali melanggar Perjanjian Gencatan Senjata!" tulis Trump di Truth Social.

CENTCOM menyebut serangan itu merupakan respons atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak berbendera Panama, Kiku.

Washington juga melancarkan serangan serupa sehari sebelumnya.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya