Liputan6.com, Yogyakarta - Di balik riuh dan dinamisnya Kota Yogyakarta, terselip sebuah sudut sunyi yang menyimpan episentrum sejarah pergerakan Islam Nusantara. Di sinilah, di sebidang tanah yang bersahaja, jasad para raksasa pemikiran bangsa terbaring dalam keheningan yang magis.
Suasana teduh langsung menyergap ketika melangkah ke halaman belakang Masjid Jami' Karangkajen yang terletak di kawasan Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta. Di balik dinding masjid yang kokoh, terhampar sebuah kompleks pemakaman Islam istimewa yang menjadi saksi tidur panjang para tokoh pergerakan bangsa.
Advertisement
Halaman depan masjid menyajikan area parkir yang cukup lapang untuk menampung beberapa mobil dan motor, meskipun letaknya yang berada di dalam area perkampungan membuat bus-bus besar peziarah luar kota terpaksa parkir di luar area gang.
Untuk masuk ke area makam, peziarah bisa melewati dua pintu masuk di sisi kiri dan kanan masjid. Di dekat pintu masuk, sebuah papan informasi besar berdiri tegak menceritakan riwayat hidup KH Ahmad Dahlan, ulama besar bergelar Pahlawan Nasional sekaligus pendiri organisasi Muhammadiyah.
Kompleks makam yang berdiri di atas tanah Sultan Ground milik Keraton Yogyakarta ini dijaga oleh sosok pria paruh baya bernama Nur Samhudi (63). Meski rambutnya mulai memutih, perawakan Mbah Nur masih tampak gagah dan tegap untuk orang seusianya. Sorot matanya berbinar penuh semangat saat mengisahkan asal-usul tanah pemakaman yang dijaganya secara turun-temurun ini.
"Ini memang sudah lama sekali, dan sudah dari zaman simbah saya. Lupa tahunnya. Tapi, kata ayah saya, tanah di sini itu kan termasuk Sultan Ground yang dimiliki oleh Keraton. Mbah saya namanya Mbah Mugni, dipercaya oleh pihak keraton untuk menjaga di pemakaman sini," kenang Nur dengan nada bertutur yang hangat.
Tugas mulia sebagai juru kunci ini mengalir laksana warisan tak benda yang sakral. Garis takdir membawa Nur melanjutkan tongkat estafet penjagaan dari kakek, ayah, hingga kakaknya yang berpulang pada tahun 2015 silam.
Sebagai seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta, mengurus makam para ulama dan pejuang ini dinilainya sebagai bentuk pengabdian hidup yang luhur.
Ikatan Saudagar Batik dan Sesaknya Lahan Makam
Di balik ketenangannya, Makam Karangkajen menyimpan ikatan emosional yang amat mendalam dengan sang pendiri Muhammadiyah. Perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam memurnikan Islam di Indonesia tidaklah sendirian. Di masa lalu, gerakan ini disokong penuh oleh orang-orang militan dari Kampung Karangkajen.
Dikutip dari suaramuhammadiyah, Karangkajen tempo dulu merupakan basisnya para saudagar batik kaya. Latar belakang ini serupa dengan keseharian Kiai Dahlan yang juga seorang pedagang.
Kesamaan profesi dan visi keagamaan tersebut melahirkan kedekatan emosional yang begitu kuat, hingga membuat Kiai Dahlan berwasiat agar jasadnya kelak dikebumikan di Pemakaman Karangkajen. Berkat sokongan kaum saudagar militan inilah, Muhammadiyah mampu berkembang pesat seiring gerak zaman ke arah yang modern.
Kini, berjalan menyusuri jalan setapak di Karangkajen seperti membuka kembali lembar demi lembar buku sejarah pergerakan Islam. Selain sang pendiri, di sinilah tempat bersemayamnya para pemikir dan intelektual besar. Mulai dari KH Ahmad Badawi (Ketua Umum PP Muhammadiyah 1962–1965), KH AR Fachruddin, hingga KH Ahmad Azhar Basyir.
Nama-nama besar lain seperti Mohammad Jazman Alkindi (pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, IMM), aktivis kemanusiaan Said Tuhulele, Mantan Menteri Agama yang juga tokoh Nahdlatul Ulama Fathurahman Kafrawi, hingga sosok kharismatik yang belum lama berpulang KH Muhammad Jazir ASP, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, juga dimakamkan di sini.
Bahkan, pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Lafran Pane, turut mendapat tempat di pemakaman istimewa ini.
Mbah Nur mengatakan, saking istimewanya pemakaman di sana, ruang yang tersedia kini telah mencapai batas maksimalnya. Kepadatan makam begitu kentara di setiap sudut, memperlihatkan nisan-nisan yang berhimpitan rapat sehingga pengelola terpaksa memberlakukan aturan ketat demi menyiasati keterbatasan lahan.
"Di sini banyak tokoh-tokoh yang dimakamkan memang dari dulu, dari pengurus Muhammadiyah itu, kan banyak yang dari Kauman. Tapi sekarang kalau dari Kauman sendiri, kalau tidak ada nasab warga sini tidak bisa dimakamkan karena saat ini kondisi pemakaman Karangkajen ini sudah penuh, sudah tumpuk waris," jelas Nur seraya menunjuk area makam yang padat.
Sistem tumpuk waris terpaksa dilakukan agar hubungan sejarah warga lokal dengan tanah makam ini tidak terputus.
Sebelum meninggalkan lokasi kompleks pemakaman, para pengunjung juga dapat membeli berbagai suvenir khas KH Ahmad Dahlan yang disediakan di sekitar area masjid sebagai kenang-kenangan dari ruang ziarah religi yang bersahaja ini.