Ketika Orang Baduy <i>Saba</i> Kota

Kegiatan itu tiba ketika warga Baduy Dalam maupun Baduy Luar menghadiri upacara tradisional Seba. Kegiatan rutin warga Baduy ini sebagai ungkapan tali silaturahmi warga Baduy dengan pemda setempat.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 Juni 2004, 16:35 WIB
Liputan6.com, Banten: Hari baru saja terang tanah. Kabut pagi pun belum menghilang dari pandangan. Tapi, di tengah kabut pagi, sekelompok lelaki terlihat menyusuri jalanan pedesaan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, beberapa pekan silam. Mereka tampak jalan beriringan bak barisan tentara yang tengah menuju medan peperangan. Mereka adalah warga Baduy Dalam dari Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, yang akan menemui Bupati Lebak dan Gubernur Banten--disebut Bapak Gede--di Rangkasbitung dan Serang. Seba, begitulah acara yang akan mereka hadiri.

Seba adalah kegiatan rutin warga Baduy sebagai ungkapan tali silaturahmi masyarakat adat terpencil tersebut dengan pemerintah daerah setempat. Acara yang digelar tiap tahun ini juga bisa diartikan sebagai tanda kesetiaan anggota suku yang berjumlah 7.512 jiwa dan tersebar dalam 67 kampung ini pada pemerintahan Republik Indonesia. Tak jelas betul kapan tepatnya tradisi Seba ini bermula. Tapi, warga Baduy meyakini tradisi Seba sudah dilakukan para leluhur sejak mereka ada dan tinggal di sekitar kaki Pegunungan Kendeng. Tak heran, Seba menjadi bagian dari amanah para leluhur yang harus dijalankan.

Warga Baduy yang juga dikenal sebagai orang Kanekes adalah sekelompok masyarakat Sunda yang hidup mengisolir diri di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, wilayah selatan Banten. Atau sekitar 172 kilometer sebelah barat Jakarta atau kira-kira 65 kilometer sebelah selatan ibu kota Provinsi Banten. Mereka adalah bagian dari sisa kejayaan Dinasti Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja (sekitar abad XV sampai XVI Masehi) yang tetap mempertahankan tradisi dan kultur Kerajaan Hindu Padjadjaran. Selama berabad-abad, mereka juga berusaha menolak segala bentuk pengaruh luar, termasuk penggunaan segala bentuk teknologi modern. Sedangkan untuk mempertahankan kemurniannya, mereka membagi diri dalam dua kelompok yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Orang Baduy Dalam dicirikan dengan ikat kepala putih yang tetap memegang teguh tradisi ajaran Sunda Wiwitan sepenuhnya. Sementara Baduy Luar yang dicirikan dengan ikat kepala hitam mempunyai aturan yang lebih longgar. Biasanya, warga Baduy Luar masih bisa menerima produk teknologi modern, meski dalam batas-batas tertentu.

Perbedaan ini bisa dilihat saat mereka akan menuju ke Rangkasbitung untuk mengikuti acara Seba. Warga Baduy Dalam menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Tak heran, waktu yang ditempuh juga cukup lama yakni sembilan jam. Warga Baduy Dalam adalah orang-orang yang dikenal tangguh. Ketentuan adat mengharuskan mereka menolak penggunaan segala bentuk teknologi modern, termasuk kendaraan bermotor. Tidak aneh, mereka setiap berkelana selalu berjalan kaki. Kekuatan mereka berjalan memang mengagumkan. Uniknya, tak ada jamu atau ramuan khusus yang mereka makan untuk mempertahankan stamina. Resepnya, cuma satu yakni beristirahat bila datang saat lelah.

Berbeda dengan orang Baduy Dalam, Baduy Luar sedikit lebih longgar dalam menjalan aturan adat. Mereka boleh naik kendaraan untuk pergi ke suatu tempat. Tak heran, mereka bisa lebih santai mengingat cuma memerlukan waktu dua jam untuk sampai ke Rangkasbitung. Karena itu pula, meski matahari sudah naik sepenggalan rombongan Baduy Luar ini masih berkumpul di rumah Jaro Dainah, Kepala Desa Kanekes yang juga menjabat sebagai jaro atau pemerintahan dalam sistem adat Baduy.

Meski berbeda, baik warga Baduy Dalam maupun Luar yang menempati areal sekitar 5.108 hektare sekaligus desa terluas di Provinsi Banten ini sama-sama masih mempertahankan satu hal yakni kesederhanaan hidup. Tak heran, saat mereka tiba di Rangkasbitung, suasana kontras pun mulai terasa. Mereka seperti masuk ke dalam suatu dunia baru. Kesibukan senja di Rangkasbitung seolah menjadi titik balik dari keheningan dan ketenteraman di lingkungan Baduy. Hiruk pikuk kota, ibarat sihir yang mengusik kemurnian warga Baduy. Keramaian lalu lintas, panggung hiburan, dan hiruk pikuk lainnya kini menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.

Menjelang Seba, biasanya mereka bertebaran di sudut-sudut kota. Dandanan mereka yang khas tampak kontras dengan gaya perkotaan Rangkasbitung. Ayah Samin, kokolot atau sesepuh Baduy Dalam dari Desa Cikeusik, misalnya. Sedikit uang saku dari hasil menjual petai digunakannya untuk menikmati jagung bakar. Lelaki tua itu sendiri tak berani pergi jauh dari pendopo karena khawatir tersesat di kota yang asing baginya ini. Tapi, profilnya yang ramah membuat banyak orang Rangkasbitung mengajaknya bicara dan bertanya tentang kehidupan di Baduy.

Keberadaan mereka di kota juga membuka peluang bagi beberapa orang Baduy Dalam untuk sedikit melanggar pantangan. Juli, warga Baduy Dalam, misalnya. Juli yang sejak berangkat dari Kanekes bercita-cita akan menelepon seseorang kerabat yang dikenalnya di Jakarta. Cita-cita itu tercapai. Juli langsung menelepon kenalannya setibanya di Rangkasbitung. Padahal, telepon adalah salah satu perangkat teknologi yang dilarang digunakan orang Baduy. Tapi, entah karena gagap teknologi atau takut terhadap larangan adat, Juli tampak ragu dan kikuk saat menelepon.

Interaksi dengan kemajuan kota memang sulit dihindari warga Baduy saat melakukan Seba. Meski sebagian besar tampak dingin menyikapi aroma kota, tetap saja mereka terlihat penasaran dan berusaha menikmati hiburan yang disuguhkan. Mereka begitu terpesona menikmati suguhan layar tancap. Entah apa yang terlintas dalam pikiran mereka saat ini. Yang jelas, secara perlahan berbagai pengaruh luar mulai merasuk ke dalam kehidupan mereka.

Menjelang sore, warga Baduy berkumpul di Pendopo Kabupaten sambil menikmati santapan istimewa yang disuguhkan bupati menjelang acara Seba. Sang bupati pun menemui para warganya yang memilih cara hidup berbeda dengan masyarakat lainnya. Biasanya, tiga bulan menjelang acara Seba, warga Baduy melaksanakan Kawalu dan Ngalaksa. Kawalu adalah puasa selama tiga bulan untuk menyucikan diri. Sedangkan Ngalaksa adalah pesta membuat kue sebagai syukuran setelah puasa Kawalu.

Setelah semua itu dilakukan, barulah Seba atau berkunjung ke Bapak Gede bisa dilakukan. Harapannya, agar mereka datang ke Bapak Gede dengan hati suci. Dan kini dengan hati yang bersih inilah mereka datang untuk bersilaturahmi dengan Bapak Gede. Selain ke bupati, Seba juga dilakukan ke Bapak Gede di Serang yaitu Gubernur Banten. Sebagai wujud kesetiaan warga Baduy kepada pemerintah yang sah maka sejumlah hasil bumi diberikan kepada sang gubernur. Sebaliknya sang gubernur juga memberikan sejumlah oleh-oleh seperti garam dan beras.

Tapi, inti Seba kali ini lebih bertumpu pada sebuah misi yang diemban oleh Ayah Mursid. Ayah Mursid adalah anak dari pemimpin spiritual Baduy yang disebut Puun. Ayah Mursid memperoleh tugas dari Puun untuk menanyakan tentang penyerobotan hutan yang kini sering terjadi di wilayah adat Baduy. Ayah Mursid meminta gubernur untuk menghentikan aksi penyerobotan ini dan menghukum para pelakunya.

Terlepas dari itu, kedatangan warga Baduy ini disikapi secara kurang peka oleh Pemerintah Provinsi Banten. Meski maksudnya baik yakni memberi hiburan pada warga Baduy yang datang untuk Seba. Tapi, hiburan yang dipertontonkan justru sangat bertolak belakang dengan moralitas orang Baduy. Misalnya, pertunjukan musik dangdut yang penuh goyangan seronok ini. Tanpa disadari, hal tersebut menggambarkan ketidakpahaman pemerintah daerah terhadap orang Baduy. Inilah cermin dari kesombongan tradisi besar yang tak pernah belajar untuk memahami tradisi-tradisi kecil.(ORS/Satriana Budi dan Binsar Rahardian)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya