Survei: Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap Kinerja Prabowo Capai 64,8 Persen

Survei Puspoll menunjukkan kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo masih 64,8 persen, meski keyakinan terhadap arah pemerintahan menurun.

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 27 Juni 2026, 14:40 WIB
Pusat Polling Indonesia (Puspoll) merilis Hasil Survei Nasional menuju dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka. (Liputan6.com/Lizsa Egeham)

Liputan6.com, Jakarta - Pusat Polling Indonesia (Puspoll) merilis Hasil Survei Nasional menuju dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka. Hasilnya, tingkat kepuasan kinerja Prabowo masih cukup tinggi di tengah kondisi ekonomi yang tertekan karena situasi global.

"Tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo tercatat sebesar 64,8 persen, turun dibanding Agustus 2025 yang mencapai 67,7 persen," ujar Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia Chamad Hojin dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Sabtu (27/6/2026).

Di sisi lain, tingkat keyakinan masyarakat bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik mengalami penurunan jauh lebih tajam, dari 80,4 persen menjadi 53,2 persen.

Pada saat yang sama, proporsi masyarakat yang tidak yakin terhadap masa depan pemerintahan meningkat dari 15,8 persen menjadi 43,1 persen.

Bahkan, kata Chamad, hanya 51,7 persen yang menyatakan bahwa saat ini Indonesia berjalan ke arah yang benar. Sementara 34 persen menyatakan menuju ke arah yang salah.

 

Masyarakat Masih Cukup Puas

Kendati begitu, Chamad mengatakan pemerintahan Prabowo saat ini belum berada tahap krisis. Hal ini dikarenakan masyarakat masih cukup puas terhadap kinerja pemerintahan Prabowo.

"Ini merupakan tekanan terhadap legitimasi berbasis kinerja yang perlu dijawab dengan hasil kebijakan yang nyata, bukan sekadar penguatan narasi komunikasi," ucap dia.

Menurut Chamad, pemerintah perlu membaca data tersebut sebagai peringatan dini dan peluang untuk melakukan koreksi sebelum tekanan ekonomi berkembang menjadi ketidakpuasan politik yang lebih luas.

"Survei juga menemukan bahwa 41,9 persen responden menyebut mahalnya harga kebutuhan pokok sebagai persoalan paling utama yang sedang dihadapi masyarakat. Selain itu, 74,1 persen responden menyatakan mencari pekerjaan saat ini sulit atau sangat sulit," kata dia.

Sebanyak 42,1 persen masyarakat juga menilai harga kebutuhan pokok semakin tidak terjangkau dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut meningkat tajam dari 28,7 persen pada Agustus 2025, atau naik 13,4 poin dalam sembilan bulan.

 

Ekonomi Rumah Tangga Masih Belum Kuat

Adapun ketidakpuasan tertinggi terhadap kinerja pemerintah ditemukan pada bidang menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok (59 persen), penyediaan lapangan pekerjaan (57,4 persen), pengurangan kemiskinan (56,9 persen), dan pengelolaan ekonomi nasional (51 persen).

Chamad menilai data tersebut memperlihatkan masyarakat belum merasakan perbaikan yang cukup kuat pada ekonomi rumah tangga.

"Masyarakat tidak menilai ekonomi hanya dari angka pertumbuhan, investasi, atau inflasi nasional. Mereka menilai ekonomi dari harga beras, minyak goreng, telur, ongkos transportasi, kesempatan kerja, dan pendapatan keluarga. Ketika persoalan itu belum membaik, capaian makro pemerintah tidak selalu terkonversi menjadi kepuasan publik," pungkas Chamad.

Survei ini dilakukan dalam periode 18-26 Mei 2026, dengan jumlah sampel sebanyak 2.400 responden, margin of error +/- 2% pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sampel dipilih sepenuhnya secara acak (probability sampling) dengan menggunakan metode penarikan sampel acak bertingkat (multistagerandom sampling), dengan memperhatikan urban/ rural dan proporsional antara jumlah sampel dengan jumlah pemilih di setiap provinsi.

Proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka (face to face interview) dengan menggunakan kuesioner terstruktur (structured interview). Usia minimum responden adalah 17 tahun atau sudah memenuhi syarat pemilih.

Quality control dilakukan terhadap hasil wawancara, yang dipilih secara random sebesar 20% daritotal sampel. Dalam quality control tidak ditemukan adanya kesalahan berarti.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya