Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan harga logam mulia di tanah air kembali menunjukkan pergerakan yang dinamis. Berdasarkan data terbaru dari laman resmi Pegadaian, Sabtu (27/6/2026), harga emas batangan untuk produk Antam, Galeri24 dan UBS kompak mengalami kenaikan.
Masing-masing produk tersebut kini dibanderol di angka Rp 2.638.000 per gram untuk Galeri24, Rp 2.650.000 per gram untuk UBS dan Rp 2.767.000 untuk harga emas antam.
Advertisement
Bagi masyarakat yang berminat melakukan investasi, penting untuk dicatat bahwa harga tersebut bersifat dinamis.
"Harga tersebut sewaktu-waktu bisa berubah," tulis keterangan resmi Pegadaian.
Selain fluktuasi harga, ketersediaan ukuran atau kuantitas dari ketiga produk ini juga bervariasi di gerai Pegadaian.
Untuk produk Galeri24, masyarakat bisa membelinya mulai dari ukuran terkecil 0,5 gram hingga 1.000 gram (1 kilogram). Sementara itu, emas UBS tersedia dari ukuran 0,5 gram hingga 500 gram. Bagi konsumen yang mengincar emas Antam, saat ini di Pegadaian hanya tersedia hingga ukuran 100 gram saja.
Bagi Anda yang berencana melakukan transaksi buyback maupun investasi jangka panjang, berikut rincian lengkap daftar harga emas hari ini di Pegadaian.
Galeri24
- 0,5 gram: Rp 1.383.000
- 1 gram: Rp 2.638.000.
- 2 gram: Rp 5.211.000
- 5 gram: Rp 12.932.000
- 10 gram: Rp 25.794.000
- 25 gram: Rp 64.138.000
- 50 gram: Rp 128.174.000
- 100 gram: Rp 256.221.000
- 250 gram: Rp 638.978.000
- 500 gram: Rp 1.277.955.000
- 1.000 gram: Rp 2.540.132.000
Antam
- 0,5 gram: Rp 1.436.000
- 1 gram: Rp 2.767.000
- 2 gram: Rp 5.471.000
- 3 gram: Rp 8.180.000
- 5 gram: Rp 13.598.000
- 10 gram: Rp 27.139.000
- 25 gram: Rp 67.717.000
- 50 gram: Rp 135.351.000
- 100 gram: Rp 270.621.000
UBS
- 0,5 gram: Rp 1.432.000
- 1 gram: Rp 2.650.000
- 2 gram: Rp 5.259.000
- 5 gram: Rp 12.994.000
- 10 gram: Rp 25.852.000
- 25 gram: Rp 64.503.000
- 50 gram: Rp 128.739.000
- 100 gram: Rp 257.378.000
- 250 gram: Rp 643.255.000
- 500 gram: Rp 1.284.999.000
Harga Emas Hari Ini Melambung Usai Dolar AS Kehilangan Tenaga
Sebelumnya, harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (Sabtu waktu Jakarta) setelah dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) sedikit mereda usai rilis data inflasi.
Meski demikian, logam mulia tersebut masih berada di jalur penurunan mingguan untuk pekan keempat berturut-turut.
Dikutip darii CNBC, Sabtu (27/6/2026), harga emas di pasar spot naik 1,2% menjadi US$ 4.073,78 per troy ounce. Sementara harga emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,2% ke level US$ 4.096,30 per troy ounce.
Penguatan harga emas didorong oleh pelemahan dolar AS dari level tertingginya setelah rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed.
Data tersebut menunjukkan inflasi PCE AS naik 4,1% secara tahunan pada Mei, sesuai dengan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters. Hasil ini membuat pelaku pasar sedikit mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 60%, turun dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 64%.
Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan harga emas mulai mengalami pemulihan setelah sempat mendapat tekanan jual cukup besar pada awal pekan.
Kenaikan Suku Bunga
Menurutnya, kenaikan suku bunga dan kebijakan moneter yang lebih ketat biasanya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, suku bunga yang lebih tinggi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan meningkatkan daya tarik instrumen berbunga.
Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh bulan pada pekan ini. Secara keseluruhan, harga emas masih mencatat penurunan sekitar 2,6% sepanjang pekan berjalan.
Sementara itu, analis TD Securities menilai prospek emas masih menghadapi tantangan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka menyebut harga emas memiliki hubungan berlawanan arah dengan penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak. Jika pasar energi tetap kuat, tekanan terhadap harga emas diperkirakan masih akan berlanjut.
Di pasar fisik, permintaan emas di India mulai menunjukkan perbaikan. Untuk pertama kalinya dalam sekitar satu setengah bulan terakhir, harga emas diperdagangkan dengan premi setelah koreksi harga mendorong minat beli. Sebaliknya, permintaan di China yang merupakan konsumen emas terbesar dunia masih relatif lemah.