Liputan6.com, Jakarta - Harga emas yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari ini, Sabtu (27/6/2026) kembali naik usai tak bergerak beberapa hari terakhir. Harga emas antam hari ini lebih mahal Rp 5.000 dibandingkan Jumat kemarin.
Mengutip laman Logam Mulia, harga emas antam hari ini dipatok Rp 2.660.000 per gram. Sedangkan harga emas antam kemarin dibanderol Rp Rp 2.655.000 per gram.
Advertisement
Harga buyback emas Antam juga tersungkur dengan nilai yang lebih rendah. Harga buyback emas Antam hari ini naik menjadi Rp 2.378.000 per gram.
Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga yang berlaku jika pemilik emas menjual kembali emasnya kepada Antam. Dengan demikian, Antam akan membeli emas tersebut seharga Rp 2.378.000 per gram.
Harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis, 29 Januari 2026, yakni sebesar Rp 3.168.000 per gram. Sementara itu, harga buyback saat itu berada di level Rp 2.989.000 per gram.
Informasi mengenai harga emas Antam ini bersumber dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk. Dengan demikian, data yang disajikan memiliki tingkat akurasi dan kredibilitas yang tinggi bagi masyarakat.
Berikut daftar harga emas Antam terbaru:
- Harga emas 0,5 gram: Rp 1.380.500.
- Harga emas 1 gram: Rp 2.660.000.
- Harga emas 2 gram: Rp 5.260.000.
- Harga emas 3 gram: Rp 7.865.000.
- Harga emas 5 gram: Rp 13.075.000.
- Harga emas 10 gram: Rp 26.095.000.
- Harga emas 25 gram: Rp 65.112.000.
- Harga emas 50 gram: Rp 130.145.000.
- Harga emas 100 gram: Rp 260.212.000.
- Harga emas 250 gram: Rp 650.265.000.
- Harga emas 500 gram: Rp 1.300.320.000.
- Harga emas 1.000 gram: Rp 2.600.600.000.
Harga Emas Hari Ini Melambung Usai Dolar AS Kehilangan Tenaga
Sebelumnya, harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (Sabtu waktu Jakarta) setelah dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) sedikit mereda usai rilis data inflasi.
Meski demikian, logam mulia tersebut masih berada di jalur penurunan mingguan untuk pekan keempat berturut-turut.
Dikutip darii CNBC, Sabtu (27/6/2026), harga emas di pasar spot naik 1,2% menjadi US$ 4.073,78 per troy ounce. Sementara harga emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,2% ke level US$ 4.096,30 per troy ounce.
Penguatan harga emas didorong oleh pelemahan dolar AS dari level tertingginya setelah rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed.
Data tersebut menunjukkan inflasi PCE AS naik 4,1% secara tahunan pada Mei, sesuai dengan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters. Hasil ini membuat pelaku pasar sedikit mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sekitar 60%, turun dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 64%.
Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan harga emas mulai mengalami pemulihan setelah sempat mendapat tekanan jual cukup besar pada awal pekan.
Kenaikan Suku Bunga
Menurutnya, kenaikan suku bunga dan kebijakan moneter yang lebih ketat biasanya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil. Di sisi lain, suku bunga yang lebih tinggi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi dan meningkatkan daya tarik instrumen berbunga.
Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh bulan pada pekan ini. Secara keseluruhan, harga emas masih mencatat penurunan sekitar 2,6% sepanjang pekan berjalan.
Sementara itu, analis TD Securities menilai prospek emas masih menghadapi tantangan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka menyebut harga emas memiliki hubungan berlawanan arah dengan penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak. Jika pasar energi tetap kuat, tekanan terhadap harga emas diperkirakan masih akan berlanjut.
Di pasar fisik, permintaan emas di India mulai menunjukkan perbaikan. Untuk pertama kalinya dalam sekitar satu setengah bulan terakhir, harga emas diperdagangkan dengan premi setelah koreksi harga mendorong minat beli. Sebaliknya, permintaan di China yang merupakan konsumen emas terbesar dunia masih relatif lemah.