Tukang Martabak Tewas Gantung Diri, Abang Kandung Cium Kejanggalan

Korban disebut-sebut sempat memergoki sang istri tengah berduaan dengan seorang Kepala Desa (Kades) setempat sebelum ditemukan tewas.

oleh Reza EfendiDiterbitkan 26 Juni 2026, 15:12 WIB
Kematian Pedagang Martabak Dinilai Janggal, Sang Kakak Datangi Polda Sumut Buat Laporan

Liputan6.com, Asahan - Tabir misteri menyelimuti kematian Safii (44), seorang pedagang martabak asal Kabupaten Asahan, Sumatera Utara (Sumut).

Tak percaya sang adik tewas karena mengakhiri hidup, Teguh (62), rela menempuh perjalanan jauh dari Aceh Tamiang demi mencari keadilan di Mapolda Sumatera Utara, Kamis (25/6/2026).

Didampingi sejumlah anggota keluarga dan rekannya, Teguh resmi mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumut untuk melaporkan dugaan keji di balik kematian adiknya yang terjadi pada 2 Juni lalu di Perkebunan Bandar Selamat, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan.

Kecurigaan keluarga mencuat setelah proses pemandian jenazah almarhum. Teguh membeberkan bahwa kondisi fisik sang adik sama sekali tidak menunjukkan ciri-ciri korban gantung diri biasa.

"Curiganya itulah, karena ada memar di dada sebelah kiri. Itu yang tahu yang memandikannya. Kemudian ada bekas jeratan di leher, bukan seperti gantung diri menggunakan kain jendela seperti informasi awal," ungkap Teguh dengan nada getir.

Sebelumnya, Safii ditemukan tewas di dalam kamarnya pada Selasa, 2 Juni 2026. Saat itu, Kepala Dusun (Kadus) setempat bernama Suriadi langsung mengevakuasi korban ke Puskesmas.

Karena korban dinyatakan sudah meninggal dunia, jasadnya langsung dibawa pulang untuk disemayamkan dan dimakamkan tanpa ada pemeriksaan lanjutan.

"Yang bilang bunuh diri itu si Kadus. Pulang dari Puskesmas hingga ke rumah adik saya, narasi yang dibangun ya kejadiannya bunuh diri," tambah Teguh.

 

Pergoki Sang Istri Berduaan dengan Kades

Di balik kematian tragis ini, beredar informasi panas yang diduga menjadi motif kuat. Korban yang sehari-hari berdagang martabak ini dikabarkan sempat memergoki sang istri tengah berduaan dengan seorang Kepala Desa (Kades) setempat sebelum ditemukan tewas.

Kecurigaan keluarga semakin berlipat ganda karena beberapa kejanggalan di lokasi kejadian, antara lain TKP sapu bersih. Saat pihak keluarga tiba di rumah duka, lokasi kejadian di dalam kamar sudah dalam kondisi bersih rapi.

Minim tindakan hukum. Pihak kepolisian, baik dari Polsek Bandar Pulau maupun Polres Asahan, dilaporkan sama sekali tidak datang untuk melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Bukti krusial lenyap. Alat bukti berupa tali nilon yang diklaim digunakan korban untuk gantung diri di jendela justru raib tanpa jejak.

"Katanya talinya kecil, tali nilon. Tapi barang itu enggak pernah ditunjukkan ke pihak keluarga," kata Teguh heran.

Langkah melaporkan kasus ini ke tingkat Polda Sumut diambil keluarga karena merasa penanganan di tingkat bawah sangat janggal.

Teguh berharap penuh agar aparat kepolisian dapat membongkar kasus ini secara transparan dan profesional.

"Saya berharap laporan ini segera diproses, dan penyebab pasti kematian adik saya bisa terungkap. Apakah benar-benar dibunuh atau ada hal lain," pungkasnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya