Liputan6.com, Kinshasa: Suasana Kinshasa, ibu kota Republik Demokratik Kongo kembali memanas. Beberapa anggota satuan elite pengawal Presiden Kongo Joseph Kabila berupaya menggulingkan Kabila, pada Jumat (11/6) dini hari waktu setempat. Kudeta yang dipimpin oleh Mayor Eric Lenge ini berhasil mengambil alih Stasiun Radio Congo dan menyiarkan pesan yang menyatakan dirinya mengambil alih kekuasaan ke seantero Kota Kinshasa.
Dalam pidatonya tadi, Lenge mengumumkan bahwa seantero Kinshasa sudah diambil alih kelompoknya. Dia juga mengeluhkan pemerintahan Kabila yang tidak menjalankan proses transisional dalam menjalankan roda pemerintahan. Setelah menyampaikan pesan tersebut, arus listrik di Kota Kinshasa dipadamkan. Akibatnya, lebih dari dua jam kota tersebut gelap gulita.
Beruntung tentara Kongo yang setia kepada pemerintahan Presiden Kabila berhasil mengambil alih kembali stasiun radio tersebut. Pasukan pemerintah mengklaim telah menangkap sekurangnya 12 orang pemberontak. Namun hingga berita ini diturunkan, Lenge dilaporkan masih dikepung tentara Kongo di dekat Bandar Udara Ndjili, Kinshasa. Di saat yang sama, warga menyatakan tak melihat kehadiran militer di jalanan di Ibu Kota Negara. Melalui tayangan televisi setempat, Joseph Kabila mengumumkan kalau dirinya masih memegang kendali sambil meminta warga untuk tetap tenang.
Kendati telah terjadi upaya kudeta, tak disebutkan terdapat baku tembak dalam peristiwa itu. Sejumlah saksi mata memang menyatakan, sempat mendengar suara letusan senjata api dan sejumlah ledakan di beberapa distrik di Kinshasa, menjelang Jumat dinihari. Lantaran itulah, sejumlah analis politik dan warga lokal mencurigai upaya tersebut hanya sekadar taktik unjuk kekuatan Presiden Joseph Kabila.
Upaya kudeta di Kongo bukan hanya dilakukan oleh Lenge. Kota Bukavu juga sempat jatuh ke tangan pemberontak awal bulan silam [baca: Kerusuhan di Kongo Mereda]. Warga Bukavu sempat menuding tentara sengaja menyerahkan kota itu ke tangan pemberontak. Warga setempat juga menyesalkan sikap pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang cuma berdiam diri saat kota strategis itu dikuasai pemberontak.(YAN/Yes)
Dalam pidatonya tadi, Lenge mengumumkan bahwa seantero Kinshasa sudah diambil alih kelompoknya. Dia juga mengeluhkan pemerintahan Kabila yang tidak menjalankan proses transisional dalam menjalankan roda pemerintahan. Setelah menyampaikan pesan tersebut, arus listrik di Kota Kinshasa dipadamkan. Akibatnya, lebih dari dua jam kota tersebut gelap gulita.
Beruntung tentara Kongo yang setia kepada pemerintahan Presiden Kabila berhasil mengambil alih kembali stasiun radio tersebut. Pasukan pemerintah mengklaim telah menangkap sekurangnya 12 orang pemberontak. Namun hingga berita ini diturunkan, Lenge dilaporkan masih dikepung tentara Kongo di dekat Bandar Udara Ndjili, Kinshasa. Di saat yang sama, warga menyatakan tak melihat kehadiran militer di jalanan di Ibu Kota Negara. Melalui tayangan televisi setempat, Joseph Kabila mengumumkan kalau dirinya masih memegang kendali sambil meminta warga untuk tetap tenang.
Kendati telah terjadi upaya kudeta, tak disebutkan terdapat baku tembak dalam peristiwa itu. Sejumlah saksi mata memang menyatakan, sempat mendengar suara letusan senjata api dan sejumlah ledakan di beberapa distrik di Kinshasa, menjelang Jumat dinihari. Lantaran itulah, sejumlah analis politik dan warga lokal mencurigai upaya tersebut hanya sekadar taktik unjuk kekuatan Presiden Joseph Kabila.
Upaya kudeta di Kongo bukan hanya dilakukan oleh Lenge. Kota Bukavu juga sempat jatuh ke tangan pemberontak awal bulan silam [baca: Kerusuhan di Kongo Mereda]. Warga Bukavu sempat menuding tentara sengaja menyerahkan kota itu ke tangan pemberontak. Warga setempat juga menyesalkan sikap pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang cuma berdiam diri saat kota strategis itu dikuasai pemberontak.(YAN/Yes)