Cegah Banjir Jakarta, Modifikasi Cuaca Dilakukan Hingga Februari

Operasi TMC dilakukan dengan cara menembakkan atau menebar garam ke awan.

oleh Moch Harun Syah diperbarui 14 Jan 2014, 15:46 WIB
Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk modifikasi cuaca dilakukan di langit Jakarta mulai hari ini sampai pertengahan Februari mendatang. Dengan operasi ini diharapkan Ibukota terhindar dari banjir yang lebih parah.

"Kalau kita lihat intensitasnya berpeluang hujan sampai pertengahan Februari. Kita akan coba lakukan sampai 2 bulan ini," kata Kepala UPT Hujan Buatan BPPT Heru Widodo di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa (14/1/2014).

Operasi ini dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB), dan TNI Angkatan Udara. Modifikasi cuaca dilakukan dengan cara menembakkan atau menebar garam ke awan-awan di langit yang berpotensi menjadi hujan.

Garam itu disebar ke daerah-daerah datangnya angin yang mengarah ke Jakarta. Sehingga, awan itu menjadi hujan sebelum masuk ke langit Jakarta.

"Ini bisa mempercepat proses awan menjadi hujan atau jumping process terhadap awan-awan yang sedang tumbuh di daerah upwind (asal angin) yang bergerak memasuki Jabodetabek," tutur dia.

Heru menambahkan, garam-garam itu akan disebar dengan menggunakan pesawat Hercules dan Casa 212-200. "Metode ini juga bisa mengurangi masa udara yang masuk ke Jabodetabek agar hujan yang terjadi tidak terlalu besar. Hanya hujan sporadis dan lokal saja," jelas Heru.

Selain akan mengganggu pertumbuhan awan di langit Jabodetabek, modifikasi cuaca juga mengincar awan yang bergerak meninggalkan atau pun yang menuju daerah aliran sungai. Sehingga awan itu tidak menjadi hujan di Jabodetabek.

"Metode ini dieksekusi menggunakan peralatan darat atau ground-based generator di 20 lokasi yang membangkitkan partikel-partikel halus untuk menciptakan efek persaingan pada awan agar sulit berkembang," terang Heru.

Heru mengklaim pada tahun 2013 lalu, modifikasi cuaca berhasil mengurangi curah hujan di Jakarta sebesar 20 hingga 50 persen. Metode ini juga bisa mengurangi risiko kecelakaan pesawat terbang.

"Untuk yang sekarang, kita bukan ingin meningkatkan target atau tidak. Tapi yang jelas, modifikasi cuaca saat ini mengurangi korosi debu-debu di pesawat, jadi lebih efektif dan lebih mengurangi resiko kecelakaan karena pesawat jadi lebih bersih," pungkas Heru. (Eks/Ism)

Baca juga:

Banjir Surut, Warga Kampung Pulo Berbenah
Peringati Maulid di Monas, SBY Doakan Korban Banjir Jakarta
Banjir 2 Malam, Gudang Peluru Tebet Kembali Normal

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya