2 Punggawa Gemini AI Hengkang dari Google, Pindah ke Perusahaan Ini

Keduanya memegang peran krusial dalam pengembangan Gemini, model AI andalan Google yang menjadi pesaing berat GPT-4.

oleh IskandarDiterbitkan 26 Juni 2026, 18:00 WIB
Google Gemini Ternyata Rentan Dibajak Lewat Fitur Biasa. (Liputan6.com/ Yuslianson)

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa teknologi Google tampaknya sedang menghadapi krisis internal serius dalam mempertahankan talenta terbaiknya. Dua peneliti kecerdasan buatan (AI) terkemuka, Jonas Adler dan Alexander Pritzel, dilaporkan resmi meninggalkan Google untuk bergabung dengan rival sengit mereka, Anthropic.

Menurut laporan Bloomberg, Adler dan Pritzel bukan sekadar karyawan biasa. Keduanya memegang peran krusial dalam pengembangan Gemini, model AI andalan Google yang digadang-gadang menjadi pesaing berat GPT-4 milik OpenAI.

Saat dikonfirmasi mengenai kabar hengkangnya kedua tokoh kunci ini, pihak Google masih enggan memberikan komentar resminya.

Mengutip Techcrunch, Jumat (26/6/2026), kepergian Adler dan Pritzel memperpanjang daftar panjang eksodus "otak" AI dari Google belakangan ini. Fenomena itumenjadi sinyal lampu kuning bagi divisi AI perusahaan yang dipimpin Sundar Pichai tersebut.

Hanya berselang sepekan sebelum kabar ini mencuat, jagat teknologi dikejutkan dengan pengumuman dari Noam Shazeer. Peneliti AI legendaris yang telah mengabdi di Google sejak tahun 2000 itu memutuskan hengkang demi bergabung dengan OpenAI.

Ironisnya, Google sebelumnya sempat menggelontorkan dana fantastis sebesar USD 2,7 miliar (sekitar Rp 48 triliun) untuk mengakuisisi startup milik Shazeer, Character.AI.

Langkah itu sengaja dilakukan Google demi membawa Shazeer kembali ke pangkuan mereka untuk menakhodai proyek Gemini. Namun, investasi raksasa tersebut kini berujung sia-sia setelah sang maestro memilih menyeberang ke kubu lawan.

 

Peraih Nobel Ikut Angkat Kaki

Pukulan telak bagi Google tidak berhenti sampai di situ. Beberapa hari setelah pengumuman Shazeer, John Jumper, Direktur Google DeepMind, turut menyatakan pengunduran dirinya untuk berlabuh ke Anthropic.

Jumper bukanlah nama sembarangan di industri sains global. Bersama CEO DeepMind Demis Hassabis, ia baru saja dianugerahi Penghargaan Nobel Kimia pada 2024 berkat keberhasilan mereka mengembangkan AlphaFold--sebuah sistem AI yang mampu memprediksi struktur 3D protein dengan akurasi luar biasa.

Kehilangan figur sekaliber peraih Nobel tentu menjadi kerugian reputasi dan inovasi yang masif bagi Google.

 

Iming-Iming Saham Jelang IPO

Para analis menilai gelombang eksodus ini dipicu oleh momentum korporasi yang sedang berjalan di industri AI. Saat ini, baik OpenAI maupun Anthropic dikabarkan tengah mempersiapkan diri untuk melantai di bursa saham (go public).

Rencana IPO ini menjadi senjata pamungkas bagi OpenAI dan Anthropic untuk memikat talenta-talenta top dunia. Mereka menawarkan kompensasi berupa kepemilikan saham (equity) yang nilainya diprediksi akan melonjak drastis setelah perusahaan resmi melantai di bursa.

Bagi para ilmuwan papan atas, tawaran ini jelas jauh lebih menggiurkan secara finansial dibandingkan bertahan di Google yang pergerakan sahamnya cenderung stabil sebagai perusahaan matang.

Jika Google tidak segera merombak strategi retensi karyawannya, tren pembelokan talenta ini diprediksi masih akan terus berlanjut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya