3 Peserta SPPI Meninggal, Ini Rutinitas Latihan Dasar Kemiliteran

Pelatih juga menerapkan pemberian hukuman dan penghargaan untuk para peserta yang melanggar peraturan ataupun berprestasi selama menjalankan pendidikan.

oleh Tim NewsDiterbitkan 25 Juni 2026, 15:57 WIB
Peserta latsarmil dari pengelola KDMP dan KNMP mengikuti upacara pembukaan pelatihan diklat di lapangan Dirgantara AAU, Yogyakarta pada Rabu (17/6/2026). (Antara/Humas TNI AU)

Liputan6.com, Jakarta - Tiga orang peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti pendidikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil). Penyebabnya meninggal, rata-rata karena penyakit. Korps Marinir TNI AL menjelaskan rutinitas peserta latihan dasar kemiliteran (latsarmil) yang dilakukan anggota SPPI calon pengelola Koperasi Merah Putih.

Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak Letkol (Mar) Agus Mutaqin mengatakan kegiatan para peserta dibuka dengan bangun pagi pukul 04.30 WIB.

"Kemudian melaksanakan ibadah salat Subuh. Selanjutnya kami lanjutkan kegiatan olahraga, pembinaan fisik, kemudian dilanjutkan makan pagi," kata Agus saat ditemui awak media di markas Marinir, Cilandak, Jakarta Timur, Kamis (25/6/2026). Seperti dilansir Antara.

Setelah makan pagi, para peserta mengikuti kegiatan apel pagi. Dilanjutkan kegiatan baris berbaris dan akhirnya masuk ke kelas untuk mengikuti materi.

Setelah mengikuti materi kelas sampai sore, para peserta diajak mengikuti kegiatan "pengasuhan" oleh para pelatih.

"Pengasuhan adalah pemberian bekal-bekal, salah satunya mungkin pengenalan lingkungan, kemudian etika selama di sini, sikap PBB, dan sebagainya. Termasuk bekal-bekal keseragaman dan kekompakan," jelas Agus.

Setelah itu peserta diizinkan untuk istirahat, salat dan makan. Akhirnya beristirahat pukul 21.30 WIB. Agus menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan itu dilakukan dengan bimbingan para pelatih dari Korps Marinir.

Hukuman Tidak Standar Militer

Pelatih juga menerapkan pemberian hukuman dan penghargaan untuk para peserta yang melanggar peraturan ataupun berprestasi selama menjalankan pendidikan.

Hukuman yang diberikan tidak disesuaikan dengan standar kemiliteran pada umumnya, melainkan menyesuaikan dengan kemampuan para peserta.

Tujuan dari pemberian hukuman dan reward itu dilakukan untuk meningkatkan jiwa disiplin dan semangat para peserta dalam menjalankan pendidikan. Hingga saat ini, lanjut Agus, seluruh rangkaian pendidikan latsarmil masih berjalan dengan aman dan kondusif.

 

 

 

Penyebab 3 Peserta SPPI Meninggal

Jumlah peserta Program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) yang meninggal dunia saat mengikuti pendidikan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bertambah menjadi tiga orang.

Korban terbaru adalah Novia Rahmadhani Sihotang, peserta calon pengelola Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).

Kementerian Pertahanan (Kemhan) membenarkan kabar meninggalnya Novia yang mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Pusat Bahasa Kodiklatau, Jakarta.

"Benar, Kementerian Pertahanan telah menerima laporan mengenai meninggalnya salah satu peserta Program SPPI KNMP Tahun 2026 atas nama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta. Kemhan menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga almarhumah," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/2026.

Rico menjelaskan Novia mengalami gangguan kesehatan saat menjalani latsarmil pada Senin, 22 Juni 2026. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa untuk mendapatkan perawatan medis.

Namun, kondisi Novia terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Selasa, 23 Juni 2026.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB)," ujar Rico.

Meninggalnya Novia menambah daftar peserta SPPI yang wafat selama mengikuti latsarmil. Sebelumnya, dua peserta lain, yakni Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, juga meninggal dunia saat menjalani pendidikan.

Menurut Rico, Anisa meninggal akibat heat stroke saat mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan.

Sementara itu, Yonanda meninggal dunia saat mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja. Ia sempat mengalami penurunan kondisi fisik pada 17 Juni 2026 dan dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

"Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest atau henti jantung," kata Rico.

Kemhan menyatakan seluruh peserta latsarmil telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti pendidikan. Selain itu, peserta yang mengalami gangguan kesehatan selama pelatihan juga disebut telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur.

Meski demikian, Kemhan memastikan akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan latsarmil guna meningkatkan aspek keselamatan dan pengawasan kesehatan peserta.

"Saat ini Kemhan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan terus melakukan evaluasi dan penguatan pengawasan kesehatan peserta guna memastikan keselamatan dan kesehatan peserta tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program," ujar Rico.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya