Sekolah Rakyat, Saat Negara Memeluk The Invisible People

Sekolah Rakyat menjadi ruang tempat negara hadir menyapa mereka yang kerap luput dari perhatian.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 25 Juni 2026, 13:05 WIB
Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 06, Jakarta Timur (Liputan6.com/Muhammad Radityo Priyasmoro)

Liputan6.com, Jakarta - Perasaan ini campur aduk saat berada di tengah mereka, para pelajar istimewa dari Sekolah Rakyat. Dalam hati bergumam, inikah wujud nyata Pasal 31 UUD 1945, ketika negara hadir memberi pendidikan bagi semua, termasuk mereka yang tak terlihat atau the invisible people.

Memastikan bahwa program dari Presiden Prabowo Subianto itu berjalan dengan baik, Liputan6.com terjun ke lapangan dan mendatangi salah satu lokasinya di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 06 Jakarta Timur.

Sabtu 20 Juni 2026, di depan gerbang masuk, papan besar dengan foto Presiden Prabowo menyambut dengan kutipan 'Dan kelak, ketika anak-anak dari tepian sungai, lereng bukit, dan sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang akan berkata pelan: Di masa itu, pernah ada seorang Presiden yang menanam harapan dan menamainya Sekolah Rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI (Purnawirawan) Prabowo Subianto'.

Kutipan itu disampaikan oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul di Banjarbaru 12 Januari 2026. Meski singkat, namun sarat makna mendalam yang menggambarkan bagaimana asa itu tengah dipupuk untuk masa depan para pelajar yang berasal dari keluarga Desil 1 dan 2, alias kategori miskin ekstrem dan miskin.

Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 06, Jakarta Timur (Liputan6.com/Muhammad Radityo Priyasmoro)

Siapa sangka, mereka yang tidak berpunya dapat bersekolah di gedung yang bisa dibilang megah dan memiliki fasilitas lengkap. Mulai dari lapangan olahraga, ruang kelas dengan laptop dan smart board, aula tempat berkumpul, hingga ruang makan lengkap dengan meja dan kursi serta makanan yang disiapkan tiga kali sehari.

Belum lagi kamar tempat mereka beristirahat, lengkap dengan kasur dan meja belajar. Sekolah ini menawarkan konsep asrama. Pelajar tidak bisa pulang kecuali masa liburan sekolah atau hanya dapat dikunjungi oleh orang tua mereka satu kali pada minggu terakhir tiap bulannya.

Bukan untuk membuat mereka stres atau jauh dari keluarga, namun semata menumbuhkan kedisiplinan, meningkatkan fokus belajar dan kemandirian. Mulai dari cuci baju dengan tangan, menjemur hingga menggosok seragam sendiri. Mereka dituntut agar tidak menjadi remaja malas dan manja.

Sehari di Sekolah Rakyat

Gibran Prasnawati Ganda, siswa dengan predikat terbaik tahun ajaran 2025/2026 di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 06, Jakarta Timur (Liputan6.com/Muhammad Radityo Priyasmoro)

Selama berada di SRMP 06 Jakarta Timur, Liputan6.com ditemani oleh Gibran Prasnawati Ganda, siswa dengan predikat terbaik di tahun ajaran 2025/2026. Dia bercerita bagaimana kegiatan di Sekolah Rakyat dimulai, bahkan sejak pukul 03.00 WIB

“Kita mulai diajak bangun untuk Tahajud biasanya, nanti jam 04.00 WIB mulai Salat Subuh dan itu berjamaah. Setelah salat kita olahraga dulu kumpul di lapangan, lalu lanjut persiapan sekolah, seperti mandi dan sarapan pagi. Mulai masuk kelas sekira jam 07.20,” kata Gibran usai mendapat piagam penghargaan pelajar terbaik.

Gibran lalu banyak menceritakan kisah inspiratifnya dalam setahun terakhir hidup di Sekolah Rakyat. Tidak ada rasa penyesalan, raut wajahnya semringah saat menuturkan giat demi giat selama 24 jam, bahkan tanpa gawai pintar seperti anak sekolah seusia pada umumnya.

Sebab, sudah menjadi aturan, tidak ada pelajar yang boleh membawa ponsel ke sekolah. Satu-satunya kesempatan pelajar membuka media sosial mungkin hanya saat jam belajar menggunakan laptop, namun itu pun atas pengawasan ketat guru di kelas.

“Tidak boleh bawa hape, laptop juga harus ditinggal di kelas, tidak ada laptop dibawa ke kamar. Jika memang butuh, harus izin ke wali asuh atau juga guru,” ungkap Gibran.

Menjadi murid terbaik, memang butuh pengorbanan. Gibran mengaku banyak jam bebasnya dihabiskan di dalam perpustakaan atau mengerjakan soal seusai kelas.

“Bukan PR, tapi ingin review aja pelajaran yang dibahas,” jelas Gibran.

Gibran mengaku tidak mengerti, mengapa ada dorongan dari dalam diri untuk mau giat belajar. Jika diceritakan, Gibran sebelumnya juga sudah bersekolah di salah satu SMP Negeri, tetapi semangatnya perlahan memudar, hingga tak ada lagi semangat berangkat ke sekolah dan dinyatakan putus dalam 6 bulan terakhirnya di bangku pertama jenjang SMP.

“Hanya saja di Sekolah Rakyat berbeda, entah kenapa keinginan belajar saya menggebu sampai mendapatkan penghargaan ini,” tuturnya.

Meski masih duduk di kelas 7 dan naik ke kelas 8, namun dirinya sudah mempunyai target kampus saat berkuliah nanti. Jika bukan Universitas Indonesia, maka Universitas Gadjah Mada adalah jawabannya.

“Aku ingin ke UI atau UGM, keren kampusnya!” seru dia.

Pada kesempatan senada, Liputan6.com juga bertemu langsung dengan Regut Sutrasto sang kepala sekolah SRMP 06 Jakarta Timur. Dia mengakui menjadi guru di Sekolah Rakyat adalah sebuah tugas mulia. Sebab, mereka mengajar murid yang istimewa.

“Mendidik anak-anak 'istimewa' ini luar biasa, karena mereka adalah anak-anak yang datang dari keluarga desil 1 dan desil 2. Mereka adalah anak-anak yang tumbuh di lingkungan keras, dimana bermimpi seringkali dianggap sebagai kemewahan yang tak terjangkau,” kata Regut.

Satu tahun berjalan, Regut kagum dengan mereka. Banyak yang awalnya tidak betah, kini justru sebaliknya. Juga dengan tata krama kesopanan dan jiwa yang terkendali.

“Satu tahun lalu, banyak dari siswa ini datang dengan tatapan kosong dan perilaku ‘agak liar’ akibat pengaruh lingkungan asal. Namun, setahun di bawah asuhan SR Handayani, sebuah transformasi drastis terjadi. Bahkan memiliki tujuan yang disebut Proposal Hidup," ungkap Regut.

“Luar biasanya, meski baru duduk di bangku SMP, sudah ada siswa yang dengan tegas mencantumkan rencana masuk ke FISIP setelah lulus SMA nanti juga kampus besar seperti UI atau UGM, termasuk ITB,” sambung dia.

Peran Wali Asuh

Anindra Kusuma Jaya, Wali Asuh di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 06, Jakarta Timur (Liputan6.com/Muhammad Radityo Priyasmoro)

Peran, kedisiplinan, dan tata krama Sekolah Rakyat tak bisa dilepas dari peran wali asuh. Saat pelajar sakit, atau rindu orangtua bahkan saat mereka butuh teman curhat, sosok wali asuhlah yang merangkul.

Salah satunya adalah Anindra Kusuma Jaya. Meski mengaku belum punya anak, namun kesabaran dalam mendidik mereka menjadi satu kunci bagi wali asuh. Dia bukan guru, namun soal budi pekerti saat berperilaku, menjadi tugasnya.

“Kita bahkan harus siap 24 jam, dari mereka bangun tidur kita yang bangunin. Malam waktunya istirahat, kita juga yang pastiin untuk tidak ada yang begadang. Tentunya tidak langsung tidur, juga tidak langsung bangun. Cara-cara persuasif dan pendekatan verbal adalah caranya. Jangan dibentak,” tegas dia.

Menurut Anindra, membimbing remaja bukanlah perkara instruksi satu arah. Ia sadar betul bahwa setiap anak membawa luka dan watak yang berbeda dari rumah asal mereka.

"Ada yang tidak bisa dikerasin, ada yang butuh ketegasan. Jadi saya mencoba pendekatan yang halus. Saya anggap mereka seperti keluarga sendiri," ungkapnya.

Ada momen ketika dirinya terharu. Kala itu seorang anak asuhnya datang menghampirinya dan berkata bahwa ia rindu dengan kedua orang tuanya. Kalau masih ada, bisa saja disambungkan dan berbicara beberapa menit. Tapi kasus kali ini berbeda, anak itu yatim piatu.

“Saya pun mencoba menjadi orang tua dalam posisi tersebut,” haru dia.

Bagi sang wali asuh, melihat mereka tumbuh kembang dari yang sebelumnya hidup di jalanan dan mulai bertransformasi dengan prestasi, menjadi satu hal yang tak ternilai angkanya. Anindra ingin mereka yang sudah bersama sejak kelas 7 SMP, terus diasuhnya sampai dengan kelulusan nanti.

“Saya ingin di sini saja sampai angkatan pertama ini lulus. Saya ingin melihat proses mereka sampai tuntas,” tekadnya menandasi.

Dari perbincangan dengan mereka para pelaku yang terlibat langsung di dalamnya, penulis juga merasakan langsung bagaimana atmosfer berada di dalamnya selama seharian penuh, dan berkeyakinan bahwa Sekolah Rakyat bukan sebatas program populis yang dijalankan Presiden Prabowo.

Bahkan ada momen saat kumandang adzan zuhur tiba, mereka langsung bergegas menuju musala untuk salat berjamaah. Termasuk saat waktu makan siang, mereka berbaris menunggu giliran makanan. 

Program Sekolah Rakyat bisa dinilai sebagai salah satu parameter kesuksesan program Presiden Prabowo di tahun pertamanya. Hal itu turut didukung dengan pernyataan Pengamat Pendidikan, Doni Koesoema. Dia mengapresiasi kinerja pemerintah pusat dan daerah dalam merealisasikan program sekolah rakyat.

"Pendirian Sekolah Rakyat kalau benar-benar disiapkan dengan baik, ini sebuah prestasi yang luar biasa. Karena tidak mudah ya untuk mencari lokasinya, membuat pembangunannya, mempersiapkannya. Apalagi ini kan untuk boarding school," ujar Doni saat dihubungi Liputan6.com.

Menurut dia, gerak cepat pemerintah ini penting untuk menunjukkan keseriusan bahwa negara hadir untuk keluarga-keluarga miskin yang tidak memperoleh akses pendidikan yang layak. Terlebih, semangat dari program tersebut adalah memutus rantai kemiskinan melalui pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Namun begitu, Doni mengingatkan agar pelaksanaan program ini mendapat pengawalan yang ketat dari berbagai pihak, terutama sejak tahap pendataan dan seleksi calon siswa. Sehingga bantuan pendidikan anak kurang mampu dan miskin ini tepat sasaran.

Ia menegaskan bahwa apabila terdapat kekeliruan dalam penerimaan siswa, kesalahan tidak terletak pada konsep Sekolah Rakyat itu sendiri, melainkan pada proses seleksi yang perlu diperbaiki.

“Tujuannya kan bukan untuk orang-orang yang mampu menyekolahkan anaknya. Ini untuk mereka yang benar-benar situasinya, kalau negara enggak hadir, mereka enggak bisa memperoleh layanan pendidikan yang baik,” ucap Doni.

Dukungan Parlemen

Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 06, Jakarta Timur (Liputan6.com/Muhammad Radityo Priyasmoro)

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR, MY Esti Wijayati juga menyambut baik program sekolah rakyat. Dia mengatakan, sekolah rakyat ditujukan untuk memutus mata rantai kemiskinan dengan memberikan kemudahan akses dan fasilitas pendidikan kepada siswa dari keluarga tidak mampu, terkhusus untuk yang miskin ekstrem.

Meski begitu, masih ada sejumlah catatan yang perlu dipertegas pemerintah terkait pelaksanaan program andalan Presiden Prabowo di sektor pendidikan dan pengentasan kemiskinan tersebut.

“Pertama, bagaimana keberlanjutan program tersebut, berikut juga skala prioritas wilayah untuk sekolah. Kedua, kepastian kurikulum,” kata MY Esti saat dihubungi Liputan6.com.

Selain itu, lanjut dia, sumber dan alokasi anggaran sekolah rakyat harus selalu jelas dengan perencanaan pelaksanaan termasuk untuk pilihan menggunakan sekolah-sekolah yang ada.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono saat berkunjung ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 27 Banjarnegara, Jawa Tengah, Sabtu (30/8/2025) (Istimewa)

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menepis stigma Sekolah Rakyat dengan fasilitas seadanya. Dia menegaskan, meski judulnya Sekolah Rakyat, namun mereka yang mengenyam pendidikan di sana mendapat fasilitas setara sekolah unggulan.

“Walaupun ini sekolah untuk orang miskin, fasilitas yang disediakan oleh Presiden Prabowo adalah fasilitas unggulan. Lahannya saja 8,5 hektare, ada laboratorium, lapangan olahraga, hingga ruang praktik seperti pertanian dan perikanan,” ujar Agus.

Agus menyatakan, Presiden Prabowo tidak ingin fasilitas Sekolah Rakyat kalah dengan sekolah unggulan. Faktanya, setiap siswa akan mendapatkan akses teknologi dan pelatihan keterampilan yang setara dengan standar pendidikan modern. Salah satunya dukungan laptop.

“Presiden minta fasilitasnya setara sekolah unggulan, mulai dari kualitas pendidik, pembentukan karakter, hingga keterampilan. Siswa bahkan akan difasilitasi iPad, laptop, dan perlengkapan digital lainnya,” kata Agus.

“Sekolah Rakyat bukan untuk semua kalangan, melainkan dirancang secara khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem,” dia menutup.

 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya