Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan akan menggencarkan edukasi imunisasi sebagai respons atas meningkatnya sentimen antivaksin di masyarakat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan langkah ini dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR, Selasa (23/6/2026).
Budi mengatakan, pihaknya telah menyiapkan perencanaan, pengadaan, hingga distribusi vaksin. Namun, edukasi kepada masyarakat dinilai perlu diperkuat karena masih ada kelompok yang menolak vaksinasi.
Advertisement
"Strategi mengenai edukasinya ini kita harus lebih serius, karena enggak tahu kenapa banyak orang-orang yang sekarang yang anti-vaksin," kata Budi dalam rapat kerja.
Budi juga menekankan strategi lainnya adalah penguatan kapasitas layanan di lapangan. "Strategi imunisasi nasional yang paling penting adalah memastikan dalam dua tahun ke depan penyediaan infrastruktur layanan imunisasi bisa selesai," kata Budi.
Selain penguatan edukasi, Budi juga mengungkapkan tekanan pada pendanaan program vaksinasi tahun 2026 akibat pemangkasan anggaran. Ia menyebut pemetaan kebutuhan dan rencana kerja jangka menengah dibahas bersama para legislator.
Pemaparan tersebut mencakup program imunisasi nasional hingga 2029 yang menurutnya telah dikomunikasikan lintas kementerian terkait. Fokusnya mencakup kecukupan anggaran dan keberlanjutan layanan di lapangan.
Defisit Anggaran
Untuk periode 2025–2029, Kementerian Kesehatan membutuhkan anggaran sebesar Rp 44,49 triliun guna menjalankan program vaksinasi dan imunisasi nasional. Khusus tahun 2026, program vaksinasi menghadapi defisit akibat pemangkasan anggaran.
"Vaksinnya saja kita masih kurang sekitar Rp 1 triliun. Padahal, program imunisasi ini rutin dan kebutuhannya dihitung berdasarkan jumlah bayi yang lahir dan kebutuhan lainnya," kata Budi.Soal pendanaan jangka menengah, Budi menyampaikan perkembangan koordinasi antarlembaga.
"Rencana program imunisasi sampai 2029 sudah kami sampaikan ke Kementerian Keuangan dan Bappenas. Namun, masih ada gap anggaran sekitar Rp 4,91 triliun hingga 2029," ujar Budi.