Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan Senin (22/6/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi 17.813 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 17.804 per dolar AS.
Sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang menekan pergerakan rupiah. Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Lebanon turut meningkatkan kekhawatiran pasar dan mendorong kenaikan harga minyak.
Advertisement
Artikel kurs rupiah ini menyita perhatian pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Ingin tahu artikel terpopuler lainnya di Kanal Bisnis Liputan6.com?
Berikut tiga artikel terpopuler di Kanal Bisnis Liputan6.com yang dirangkum pada Selasa, (23/6/2026):
1. Rupiah Melemah, Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan Senin (22/6/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi 17.813 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di 17.804 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.
2. PLN Sebut Gangguan Pembangkit Listrik Mulai Pulih, Pemadaman Dapat Berkurang
Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo mengungkapkan gangguan pada salah satu pembangkit listrik milik swasta sudah berhasil ditangani. Dia mengklaim hal tersebut mampu mengurangi tingkat pemadaman listrik di Pulau Jawa.
Diketahui, sebelumnya disebut ada dua pembangkit listrik yang mengalami gangguan. Salah satu Independent Power Producer (IPP) yang telah pulih kembali beroperasi dan tersinkronisasi dengan sistem kelistrikan Jawa pada Minggu, 21 Juni 2926, pukul 18.00 WIB.
"Salah satu pembangkit besar yang sempat gangguan telah berhasil dipulihkan dan telah sinkron dengan sistem kelistrikan Pulau Jawa serta mulai memasok listrik untuk menambah keandalan sistem kelistrikan di Pulau Jawa," kata Darmawan di PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B Jamali), Depok, Jawa Barat, mengutip keterangan resmi, Senin (22/6/2026).
3. Pembangkit Besar Penyebab Mati Listrik di Jawa Mulai Pulih
PT PLN (Persero) menyampaikan, kondisi sistem kelistrikan di Pulau Jawa mulai menunjukkan perbaikan setelah sempat terjadi pemadaman bergilir pada pekan lalu. Perusahaan juga meminta maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat gangguan listrik tersebut.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan pasokan energi primer yang sesuai dengan kebutuhan pembangkit mulai kembali mengalir sejak pekan lalu.
"Kami ingin menyampaikan kabar baik bahwa sejak Minggu, kondisi sistem kelistrikan di Pulau Jawa mulai membaik dan pemadaman bergilir berhasil diminimalkan,” kata Darmawan di Istana Negara, Senin (22/6/2026).