Profil Andy Burnham, Calon Kuat PM Inggris

Burnham telah melewati berbagai fase perubahan politik Inggris dalam dua dekade terakhir.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 23 Juni 2026, 08:00 WIB
Andy Burnham, kandidat Partai Buruh untuk daerah pemilihan Makerfield, menyampaikan pidato di hadapan para pendukungnya saat pemilihan sela di Makerfield, Inggris, Kamis (18/6/2026). (Dok. AP/Jon Super)

Liputan6.com, London - Andy Burnham bukan sosok baru dalam perebutan kursi pimpinan Partai Buruh Inggris. Dua kali ia mencoba menjadi pemimpin partai tersebut dan dua kali pula gagal.

Kini, peluangnya kembali terbuka. Setelah pengunduran diri Keir Starmer dari posisi pemimpin Partai Buruh, sejumlah anggota parlemen mulai memberikan dukungan kepada Burnham, yang baru saja kembali ke Westminster setelah memenangkan pemilihan sela di daerah pemilihan Makerfield.

Burnham telah mengonfirmasi akan maju dalam pemilihan kepemimpinan Partai Buruh. Posisinya semakin kuat setelah mendapat dukungan dari Wes Streeting, mantan menteri kesehatan yang sebelumnya disebut-sebut sebagai kandidat potensial dalam kontestasi tersebut.

Langkah penting menuju pencalonannya berhasil dicapai pekan lalu ketika ia memenangkan pemilihan sela di Makerfield dengan selisih lebih dari 9.000 suara atas kandidat Reform UK.

Ia juga berhasil meningkatkan perolehan suara Partai Buruh di daerah tersebut, dari sekitar 45 persen pada pemilu 2024 menjadi hampir 55 persen.

Namun bagaimana perjalanan politiknya hingga menjadi kandidat terdepan untuk memimpin Partai Buruh? Berikut seperti dilaporkan BBC.

Masa Muda: Terinspirasi Politik Sejak Remaja

Burnham lahir di Liverpool pada 1970 dan tumbuh besar di Culcheth, sebuah desa di Cheshire, dekat Warrington.

Ayahnya bekerja sebagai teknisi perusahaan telekomunikasi BT, sementara ibunya bekerja sebagai resepsionis di praktik dokter umum. Keduanya merupakan pendukung setia Partai Buruh.

Menurut Burnham, ketertarikannya pada politik muncul sejak usia muda. Ia pernah mengungkapkan bahwa dirinya terinspirasi bergabung dengan Partai Buruh pada usia 14 tahun setelah menonton drama televisi BBC Boys from the Blackstuff, yang menggambarkan kehidupan masyarakat pengangguran di Liverpool.

Selain tertarik pada politik, Burnham dikenal sebagai penggemar berat klub sepak bola Everton. Teman-temannya mengenangnya sebagai anak yang kompetitif dan gemar berolahraga. Ia bahkan pernah menjadi pelempar cepat dalam tim kriket Lancashire Schoolboys.

Saat bersekolah di sebuah sekolah menengah Katolik negeri, Burnham pernah mencalonkan diri sebagai kandidat Partai Buruh dalam pemilihan simulasi di sekolah dan memenangkan pemungutan suara tersebut dengan telak.

Burnham dan kedua saudara laki-lakinya menjadi generasi pertama dalam keluarga yang mengenyam pendidikan tinggi. Ia kemudian melanjutkan studi Sastra Inggris di Universitas Cambridge.

Dalam bukunya Head North, Burnham menulis bahwa ia sempat merasa kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kampus dan menganggap dirinya sebagai "orang luar".

Namun kecintaannya terhadap musik, khususnya musik indie dari Inggris Utara seperti The Smiths dan The Stone Roses, membantunya menemukan rasa percaya diri. Ia menulis bahwa ketertarikannya pada musik Manchester memberinya identitas dan rasa memiliki.

 

Meniti Karier Politik di Westminster

Setelah lulus kuliah, Burnham memulai karier sebagai jurnalis dan bekerja untuk sejumlah majalah industri, termasuk Tank World dan Passenger World Management.

Kesempatan memasuki dunia politik datang ketika ia bekerja sebagai peneliti bagi Tessa Jowell, anggota parlemen Partai Buruh yang kemudian menjadi menteri dalam pemerintahan Tony Blair dan Gordon Brown.

Karier Burnham berkembang pesat. Setelah menjadi penasihat khusus Menteri Kebudayaan Chris Smith, ia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Leigh, wilayah di Greater Manchester, pada 2001.

Ia kemudian menjabat sejumlah posisi penting dalam pemerintahan Partai Buruh. Pada era Tony Blair, Burnham menjadi menteri junior. Ketika Gordon Brown menjadi perdana menteri, ia dipercaya menduduki berbagai jabatan kabinet, termasuk Kepala Sekretaris Perbendaharaan, Menteri Kebudayaan, dan Menteri Kesehatan.

Salah satu momen penting dalam karier politiknya terjadi saat ia menjabat menteri kebudayaan, media, dan olahraga.

Tragedi Hillsborough merupakan insiden desak-desakan penonton yang menewaskan 97 pendukung Liverpool pada 1989 dan selama bertahun-tahun menjadi sumber kemarahan publik karena penanganan kasus yang dianggap tidak adil. 

Peristiwa itu mendorong Burnham mengangkat kembali isu Hillsborough dalam kabinet, yang kemudian berkontribusi pada dibukanya penyelidikan baru terhadap tragedi tersebut.

Dua Kali Gagal Menjadi Pemimpin Partai Buruh

Setelah Partai Buruh kalah dalam pemilu 2010 dan Gordon Brown mengundurkan diri, Burnham ikut bersaing dalam pemilihan pemimpin partai.

Ia hanya menempati posisi keempat dari lima kandidat dan kalah dari Ed Miliband.

Lima tahun kemudian, Burnham kembali mencoba peruntungannya. Namun kali ini ia kembali gagal setelah dikalahkan Jeremy Corbyn.

Selama karier politiknya, Burnham kerap mendapat kritik karena dianggap menyesuaikan pandangannya dengan perubahan arah politik partai.

Saat referendum Brexit, misalnya, ia mendukung Inggris tetap berada di Uni Eropa. Ia bahkan pernah mengatakan berharap Inggris dapat kembali bergabung dengan Uni Eropa pada suatu saat dalam hidupnya.

Meski dikenal berada di kubu moderat Partai Buruh, Burnham tetap bergabung dalam kabinet bayangan Jeremy Corbyn sebagai juru bicara urusan dalam negeri.

Seiring waktu, pandangannya dinilai bergerak lebih ke kiri, termasuk dengan mendukung nasionalisasi sektor air dan energi.

Pada 2016, saat sejumlah politikus senior Partai Buruh mundur dari kabinet bayangan sebagai bentuk protes terhadap kepemimpinan Corbyn, Burnham memilih bertahan. 

 

Menjadi Wali Kota dan Dijuluki "King of the North"

Andy Burnham dari Partai Buruh berbicara kepada para pendukungnya setelah memenangkan pemilihan sela (by-election) Makerfield di Wigan, Inggris, Jumat (19/6/2026). Kemenangan tersebut membuka peluang bagi Burnham untuk menantang Perdana Menteri Keir Starmer dalam perebutan kepemimpinan Partai Buruh. (Dok. AP/Jon Super)

Pada 2017, Burnham meninggalkan Westminster untuk mencalonkan diri sebagai Wali Kota pertama Greater Manchester.

Ia memenangkan pemilihan tersebut dengan lebih dari 60 persen suara dan kembali terpilih dengan selisih kemenangan yang lebih besar pada 2021.

Sebagai wali kota, Burnham mendapat pujian atas reformasi sistem transportasi di wilayah Greater Manchester.

Di bawah kepemimpinannya, kawasan tersebut menjadi wilayah pertama di Inggris di luar London yang mengembalikan layanan bus ke kendali publik dan mengintegrasikannya dengan moda transportasi lain melalui jaringan yang dikenal sebagai "Bee Network".

Burnham juga berjanji mengakhiri masalah tunawisma di Greater Manchester pada 2020, meski target tersebut akhirnya tidak tercapai.

Namanya semakin dikenal secara nasional selama pandemi COVID-19. Saat itu ia terlibat perselisihan terbuka dengan pemerintah Konservatif terkait kebijakan pembatasan wilayah di Inggris Utara.

Burnham menuduh pemerintah pusat memperlakukan wilayah utara Inggris dengan "rasa hina". Sikapnya yang vokal dalam membela kepentingan wilayah tersebut membuatnya dijuluki "King of the North".

Jalan Menuju Perebutan Kepemimpinan Partai

Menjelang akhir 2025, Burnham mulai secara terbuka dikaitkan dengan kemungkinan maju sebagai pemimpin Partai Buruh.

Namun sejumlah pernyataannya juga memicu kontroversi. Salah satunya ketika ia menuduh pemerintah terlalu tunduk pada tekanan pasar obligasi dalam menentukan kebijakan fiskal.

Kesempatan pertamanya untuk kembali ke Westminster muncul pada Januari ketika kursi parlemen Gorton and Denton lowong akibat pengunduran diri anggota parlemen Andrew Gwynne.

Namun Burnham tidak mendapat kesempatan untuk maju dalam pemilihan sela tersebut.

Beberapa bulan kemudian, situasi politik berubah.

Partai Buruh mengalami hasil yang mengecewakan dalam sejumlah pemilu di Inggris, Skotlandia, dan Wales. Pada saat yang sama, Reform UK terus memperoleh dukungan yang semakin besar, termasuk di sejumlah wilayah yang selama ini dianggap sebagai basis politik Burnham.

Tekanan terhadap kepemimpinan Starmer pun meningkat. Sejumlah anggota parlemen mulai menyerukan perubahan, sementara beberapa menteri memilih mengundurkan diri.

Di tengah situasi tersebut, anggota parlemen Makerfield, Josh Simons, mengumumkan pengunduran dirinya untuk membuka jalan bagi Burnham kembali ke Parlemen.

Burnham kemudian terpilih sebagai kandidat Partai Buruh untuk Makerfield dan memenangkan pemilihan sela tersebut.

Kemenangan itu menandai kembalinya Burnham ke Westminster sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu kandidat terkuat untuk memimpin Partai Buruh.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya